Jumat, 21 Oktober 2016

Bagian I PENGANTAR KARYA SEJARAH DEUTERONOMISTIS

Hasil gambar untuk deuteronomis



Bagian I



Kitab-kitab Perjanjian Lama edisi LAI – LBI, yang mengikuti urutan kitab yang terdapat dalam Alkitab Yunani (Septuaginta) dapat dibagi dalam 4 kelompok:
·      Kitab-kitab Taurat
·      Kitab-kitab Sejarah
·      Kitab-kitab Kebijaksanaan / puitis
·      Kitab-kitab Nabi-nabi
Dalam urutan itu Taurat Musa disusul oleh sejumlah kitab yang melanjutkan kisah sejarah Israel setelah Musa. Kitab-kitab “Sejarah”, yang menjadi ba­han kuliah ini, terbagi dalam empat kelompok:
·      Pertama, kitab Yosua, Hakim, Samuel dan Raja-Raja. Kelompok kitab-kitab ini menceri­takan sejarah Isra­el mulai dari masa pendudukan negeri (Yosua) sam­pai dengan saat pembuangan dari negeri itu (2Raj 25). Hanya kelompok kitab inilah yang akan diba­has secara tematis dalam kuliah. Sedangkan ketiga kelompok lain hanya dapat disebutkan secara sing­kat sebagai berikut ini.
·      Kedua, kitab 1-2Tawarikh, Ezra dan Nehemia. Setelah disajikan silsilah bangsa Israel dari Adam sampai Daud (1Taw.1-10), dikisahkan sejarah bangsa Israel dari Daud pada abad ke-10 sampai dengan Ezra dan Nehemia pada masa sesudah Pembuangan, abad ke-5 SM.
·      Ketiga, dalam Alkitab edisi Katolik menyusul kedua kitab deuterokanonik I & II Makabe yang mengi­sahkan beberapa puluh tahun seja­rah bangsa Yehuda pada abad kedua SM. Dua kitab tentang perjuangan kemerdekaan kaum Makabe ini bukanlah “kitab-kitab bersambung” (seperti 1-2 Samuel, atau 1-2 Raja), melainkan dua kisah yang berdampingan, yang meman­dang masa kaum Makabe yang sama itu dari dua sudut pandangan yang cukup berlainan.[2]
·      Keempat, kitab Rut dan Ester, dan dalam edisi Kato­lik ditambah dengan kedua kitab deuterokanonik Tobit dan Yudit. Kendati oleh Septuaginta dimasuk­kan dalam bagian kitab-kitab sejarah, keempat kitab ini sesungguhnya samasekali tidak bercorak kisah sejarah, melainkan lebih bersifat ceritera yang mau membina dan mengajar. Melalui ceritera yang me­mang ditempatkankan dalam konteks sejarah terten­tu, mau diajarkan nilai-nilai kehi­dupan beriman de­ngan tujuan untuk meng­hibur dan membina para pembaca.[3]

Bagan berikut ini menampilkan keempat kelompok kitab sejarah tersebut:

Kelompok I
Yos,   Hak,  1-2 Sam ,  1-2 Raj
Kelompok II
1-2 Taw,      Ezr,      Neh
Kelompok III
1-2 Mak
Kelompok IV
Rut,    Est,      Tob,   Yud

 

A.    kitab Nabi-nabi atau Tulisan seja­rah?


Dalam Alkitab Ibrani, pengelompokan kitab mudah diingat dengan istilah tenak (vokalisasi dari tiga huruf mati t, n dan k). Disebut demikian sebab Alkitab Ibrani terdiri dari
·      Torah   (Taurat)
·      Nebiim   (Nabi-nabi; dibaca “neviim”) dan
·      Ketubim (Kitab-kitab /Tulisan-tulisan; dibaca “ketu­vim”).
Dalam pengelompokan itu Taurat Musa disusul oleh kelompok kitab yang disebut Nabi-Nabi. Kelom­pok kedua ini terdiri bukan hanya dari kitab-kitab yang lazimnya disebut nabi-nabi (Yesaya s/d Maleakhi), tetapi juga mencakup juga kitab Yosua, Hakim-Hakim, Samuel dan Raja-Raja.[4]. Yos - Raj dihitung di antara Nabi-nabi karena dua alasan:
·      Menurut tradisi Yahudi kitab-kitab itu dikarang oleh orang-orang yang pantas disebut nabi (Samuel, Natan, Gad, Yeremia; bdk. mis. 1Taw 29:29, 2Taw 9:29).
·      Seluruh sejarah yang dikisahkan dalam kitab Yos - Raj, disertai dan diarahkan oleh sabda Allah yang disampaikan lewat nabi-nabi.
Untuk membedakan Nabi-Nabi Yosua s/d Raja-Raja dari Nabi-Nabi Yesaya s/d Maleakhi, umum­nya dipakai dua istilah ini:
·      “Nabi-Nabi yang Terdahulu(nebiim aharonim)
·      “Nabi-Nabi yang Kemudian[5] (nebiim risonim).

 

1.          Beberapa kitab, namun satu karya

Kitab-kitab Yosua, Hakim-Hakim, Samuel dan Raja-Raja masing-masing dapat dipandang sebagai satu karya dari satu karangan, dengan coraknya dan batas-batasnya tersendiri. Corak yang berlainan ter­utama disebabkan oleh berbedanya bahan tradisi yang dipakai, yang berasal dari pelbagai bidang kehidupan Israel, mis. kehidupan marga atau suku, hubungan antar suku, urusan kenegaraan, proses pengadilan, perayaan ibadat, dll. Bahan itu berbeda:
·         dari segi isinya: Yang dikisahkan adalah tokoh yang berbeda satu sama lain atau dari zaman yang berlainan.
·         dari segi bentuknya: Di samping kisah-kisah yang bersifat saga, legenda atau sejarah, terdapat pula undang-undang, syair-syair, daftar-daftar, kronik-kronik.
Perbedaan-perbedaan dalam bahan tradisi itu adalah penyebab utama bahwa beberapa kitab ini dengan jelas menunjukkan kekhasannya masing-masing. Contoh berikut ini membantu untuk menjelaskan:
·      Kitab Yosua menyimpan pelbagai kisah kerakyatan tentang gejala-gejala di daerah Benyamin (Yos 2-9) dan daftar-daftar batas dan kota (Yos 13-21).  Hal ini sa­ngat berbeda sifatnya dengan kitab Samuel yang menyimpan beberapa lingkaran kisah tentang to­koh-tokoh nasional seperti Samuel, Saul dan Daud.
·      Kitab Hakim-Hakim mengumpulkan epos-epos populer tentang sejumlah pemimpin berkharisma di Israel kuno. Ini sangat berbeda suasananya dengan kitab Raja-Raja yang menyimpan catatan kronik singkat tentang semua raja Israel dan Yehuda, berselang-seling dengan kisah-kisah tentang nabi-nabi.

Namun demikian, perbedaan antara kitab-kitab itu tidak terlalu kuat didukung oleh batas-batas yang jelas antara kitab yang satu dengan yang lain. Persoalan batas antar kitab ini adalah sbb.:
·      Batas yang masih cukup jelas ditemukan anta­ra kitab Yosua dan kitab Hakim-hakim. Kitab Yosua berakhir dengan kematian Yosua;  kitab Hakim-hakim memulai suatu zaman baru dalam sejarah suku-suku Israel (Hak 2:10).[6]
·      Batas yang tidak jelas ada antara kitab Hakim-hakim dan kitab Samuel. Sebab, zaman para Hakim itu ternyata tidak berakhir pada akhir kitab, melainkan masih berlanjut dalam kisah tentang Eli dan Samuel (sampai 1Sam 7). Samuel pun sering disebut sebagai hakim terakhir dan terbesar.
·      Batas yang makin tidak jelas, bahkan hampir tidak ada, antara kitab Samuel dan Raja-Raja. Sebab, kisah tentang Daud dari akhir 2Samuel masih berke­lanjutan dalam 1Raj 1-2 yang bercerita tentang akhir hidup Daud.
Tidak mengherankan, persoalan ketidakje­lasan batas antar kitab ini membuat Alkitab Yunani (Septuaginta) melihat kitab Samuel dan Raja-Raja sebagai satu kesatuan yang disebutnya sebagai 1, 2, 3, dan 4 Raja-Raja / Kerajaan[7].

Meskipun kitab-kitab Yosua s/d Raja-Raja dapat dibaca masing-masing sebagai buku yang menunjukkan sifat tersendiri, namun ternyata beberapa kitab itu juga memperlihatkan diri sebagai satu kesatuan tanpa batas pemisah yang jelas. Kesatuan itu menjadi semakin kelihatan kalau memperhatikan keseluruhan kisahnya yang menunjukkan susunan yang konsentris (terpusat): Kitab pertama (Yos 1-12) mulai dengan pendu­dukan negeri, sedangkan kitab terakhir (2Raj 24-25) berakhir dengan pembuangan dari negeri itu. Di antara pendu­dukan dan pembuangan itu terbentang enam abad seja­rah bangsa Israel yang diceritakan secara bersambung.
Bagian pusat dari sejarah yang panjang itu adalah kisah tentang awal masa kerajaan: tentang tokoh sentral, raja Daud, yang diapit oleh Samuel/Saul dan Salomo (1Sam 1 - 1Raj 11). Kisah sentral itu pada gilirannya didahului oleh kisah perjuangan untuk menduduki negeri serta mempertahankannya (Yos - Hak), dan disusul oleh kisah tentang kerajaan yang terpecah sampai akhirnya runtuh dan penduduk-penduduknya dibuang dari negerinya (1Raj 12 - 2Raj 25).
Skemanya seperti terlihat di bawah ini:
‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑-------------------------------------------
Yos 1-Hak 1            Menduduki negeri
Hak 2 - 21                                               dan mempertahankannya
‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑------------------------------------------------------
                1Sam 1-31                                               Samuel dan raja Saul
                2Sam 1-24                                                              R A J A  D A U D
                1Raj 1-11                                 Raja Salomo
‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑------------------------------------------------------
1Raj 12-14                                              Perpecahan Kerajaan
1Raj 15-2Raj 17                      Dua kerajaan sampai 721SM
2Raj 18-25                               Yehuda sampai Pembuangan;
‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑----------------------------------------------
Dari skema di atas ini segera dapat dilihat bahwa perhatian bagi masing-masing tokoh dan zaman tidak­lah merata. Kisah tentang raja Daud saja mencakup satu kitab, bahkan satu setengah kitab kalau persiapannya sejak 1Sam 16 ikut dihitung juga. Sedangkan raja-raja terbesar dari Kerajaan Israel, seperti misalnya Omri dan Yero­beam II, hanya diberi tujuh delapan ayat saja.
Kepincangan sebesar itu tidak akan terjadi sean­dainya kitab-kitab itu semata-mata ditulis dengan maksud untuk menulis sejarah bangsa Israel. Tetapi hal itu tampaknya bukanlah maksud dan tujuan penulisan kitab-kitab itu. Perhatian kitab-kitab ini ditujukan kepada zaman-zaman dan tokoh-tokoh yang mempu­nyai arti khusus bagi iman Israel. Kitab-kitab itu bukan­nya karangan sejarah dalam arti ketat, melainkan interpretasi sejarah dari sudut pandangan iman. Sudut pandangan tertentu itulah yang membuat kitab Yosua s/d Raja-Raja tampil sebagai kesatuan, sebagai satu karya. Sudut pandang inilah yang membuat raja tertentu diceritakan panjang lebar, sementara raja lain hanya dalam beberapa baris; raja tertentu dikecam, sementara raja lain  dipuji.

2.         Karya Sejarah Deuteronomistis

Sejak akhir abad ke-19[8] telah disadari bahwa dalam kitab Yosua s/d Raja-Raja sejarah Israel diceritakan dan diartikan dari pandangan dasar kitab Ulangan. Dalam abad ke-20 teori itu menjadi dominan terutama berkat penelitian Martin Noth, yang melansir istilah “Das Deuteronomischen Geschichtswerk”, “Karya Sejarah Deuteronomis” (selanjutnya disingkatkan KSDtr)[9]. Teori  Noth pada pokoknya demikian:
·      Kitab Yosua s/d 2 Raja-Raja merupakan kumpulan berbagai bahan tradisi yang sudah ada: undang-undang, kisah-kisah tentang pendudukan negeri, tentang hakim-hakim, tentang Samuel, Saul, Daud dan Salomo, tentang beberapa nabi, juga kronik-kronik para raja Israel dan Yehuda.
·      Dari semua bahan tradisi yang semula masih lepas-lepas itu seorang pengarang yang berpandangan dasar a la kitab Ulangan (si Deuteronomis) untuk pertama kali menyusun sebuah sejarah panjang bangsa Israel yang mencakup zaman Musa, Yosua, para Hakim, dan seluruh masa Kerajaan. Noth menyebut penyusun itu sungguh-sungguh pengarang sejarah Israel, dan bukan hanya editornya. Maka semua kitab itu  betul Karya si Deuteronomis.
·      Noth melihat KSDtr itu sebagai suatu kesatuan yang berasal dari tangan satu pengarang, yang bekerja pada akhir masa Pembuangan (setelah th. 560 SM). Ke­satuan KSDtr itu ditunjuk­kannya dari berbagai sudut:
(a)     Dari awal sampai akhir KSDtr, ditemukan bahasa Deuteronomis yang khas, yang sering mengulang-ulang rumusan yang sama dan bernada gam­blang, tanpa banyak keindahan dan kesenian.
(b)    Noth juga mengamati konsistensi sejumlah gagasan teologis, seperti mis. sentralisasi ibadat, dan gagasan pokok bahwa hubungan dengan Allah tidak berdasarkan persembahan korban melainkan berdasarkan ketaatan kepada hukum Perjanjian. Keseragaman bahasa dan pandangan teologis itu paling nyata ditemukan Noth dalam sejumlah wejangan dan kisah redaksional yang disisipkan pada saat-saat peralihan yang menentukan dalam sejarah Israel itu, guna meninjau dan menilai periode tertentu[10].
(c)     Tambah lagi, kisah sejarah yang panjang itu disajikan dengan suatu kerangka kronologis yang menunjukkan kesatuan.

Pandangan Noth diterima secara luas, kecuali tekanannya pada keseragaman dalam pere­daksian deute­ro­nomistis itu. Keseragaman bahasa dan ide-ide KSDtr, dan kesimpulan Noth bahwa hanya ada satu pengarang deutero­nomistis, kini semakin ditinggalkan. Sejumlah peneliti yang pada dasarnya menerima hipotesis “Karya Sejarah Deuteronomistis”, justru mene­mukan ketidak­seragaman di dalam peredaksian deuteronomistis itu. Berdasarkan adanya ketidakseragaman itu di­ta­rik kesimpulan bahwa KSDtr disusun oleh bebe­rapa tangan /generasi deuterono­mistis yang be­ke­rja secara terus-me­nerus dari zaman ke zaman.
Peneliti yang sangat berpengaruh dalam hal ini adalah F.M.Cross.[11]  Ia berpendapat demikian:
·      Harus dibedakan antara seorang pengarang sejarah deuteronomistis sebelum masa Pembu­angan (kiranya pada akhir abad ketujuh, pada masa raja Yosia) dan seorang editor sejarah deuteronomistis dalam masa Pembuangan (sekitar pertengahan abad keenam).
·      Pengarang sebelum masa Pembuangan itu – menurut Cross – menyusun atau mengarang karya sejarah yang panjang itu untuk men­dukung reformasi raja Yosia (639-609). Dengan sepenuh hati pengarang ini mendukung kerajaan Yehuda serta janji yang kekal untuk wangsa Daud. Suku-suku Israel (Utara) yang di­ka­lahkan kerajaan Asyur karena telah mening­galkan YHWH, oleh pengarang ini mau diajak un­tuk ber­gabung kembali dengan kerajaan Yehuda dan Yerusalem. Tetapi reformasi keagamaan dan politis Raja Yosia terhenti pada kematiannya.
·      Lebih dari setengah abad kemudian seorang editor mengolah kembali karya sejarah itu. Ia pertama-tama memperluasnya sampai ke peristiwa Pembu­angan. Dalam peredaksian kembali seluruh karya sejarah itu ia berusaha menjelaskan mengapa nasib buruk Pembu­angan menimpa Yehuda. Ia juga meng­ajak Israel untuk bertobat, sebab masih ada harapan akan masa depan yang lebih baik, kendati kehan­curan oleh karena Pembuangan.

Baru-baru ini seluruh diskusi ilmiah tentang penyusunan KSDtr diteliti kembali oleh A.D.H. Mayes.[12] Bersama dengan Cross, De Vaux, Nelson dll., Mayes pun sampai kepada kesim­pulan bahwa kesatuan peredaksian KSDtr tidak dapat dipertahankan. Dalam setiap kitab ditemukannya sekurang-kurangnya dua lapisan penyusunan deuteronomistis, masing-masing dengan minat dan tekanan tersendiri. Dari situ Mayes mendukung kesimpulan bahwa ada dua tahap utama dalam peredaksian deuteronomistis, yakni
·      penyusunan sejarah deuteronomistis sebelum masa Pembuangan, dan
·      re-edisi atau revisi pada masa Pembuangan.

Di bawah ini disajikan ringkasan kesimpulan Mayes tentang kedua tahap peredaksian KSDtr itu.

 

3.         Pengarang Deuteronomistis

Merupakan jasa besar pengarang KSDtr[13] pada masa reformasi Yosia bahwa ia untuk pertama kali merangkaikan kisah-kisah Musa, Yosua, para hakim dan penyelamat, raja-raja pertama serta semua raja Israel dan Yehuda selanjutnya, ke dalam satu gambaran menyeluruh sejarah bangsa Israel, mulai dari pendu­dukan negeri sampai kepada pembuangan.
Ia memulai kisah sejarah bangsa Israel itu dari peristiwa gunung Horeb (sebutan deuteronomis untuk Sinai), yang ia gambarkan sebagai awal dan dasar keberadaan bangsa Israel (bdk. Ul 1-11). Ia menyajikan kembali hukum yang diterima Musa di Horeb, sebagai sumber kesejahteraan bagi kehidupan bangsa di dalam negeri terjanji (Ul 12-26).
Kesejahteraan itu menurut pengarang KSDtr terwujud sepenuhnya pada zaman Yosua, yang digambarkan sebagai zaman ideal. Seluruh negeri dapat diduduki oleh aksi Yosua bersama-sama dengan kedua belas suku Israel di bawah pimpinan YHWH. Seluruh janji YHWH kepada Musa terpenuhi secara lengkap pada zaman itu, karena Yosua senantiasa bertindak menurut perintah Allah yang dituliskan oleh Musa.
Akan tetapi setelah Yosua, negeri yang sudah diduduki itu mulai terancam oleh bangsa-bangsa dari luar karena Israel meninggalkan YHWH dan mengikuti Baal. Kendatipun setiap kali diberikan seorang hakim sebagai penyelamat dan pemulih keadaan, namun ketidak-setiaan yang sama terulang terus menerus (Hak 2:19).
Zaman para hakim/penyelamat itu dilanjut­kan dalam sejarah Samuel dan Saul yang keduanya digambarkan pula sebagai tokoh penyelamat (1Sam 7 dan 11). Tetapi monarki Saul, orang Benyamin yang oleh Samuel diangkat menjadi raja pertama dan kemudian ditolak lagi, oleh pengarang ini tidak dinilai sebagai monarki yang dikehendaki Allah. Kerajaan yang dikehen­daki Allah sesungguhnya baru mulai ter­wujud dengan Daud dan dinastinya. Keluarga inilah yang mendapat janji kekal dari YHWH bahwa akan bertahan untuk selama-lamanya.
Setelah kerajaan terpecah, monarki Israel Utara se­lu­ruhnya dinilai negatif dan lebih cepat menemui kehancuran (721; lih. 2Raj 17), karena terus melan­jutkan dosa Yerobeam di tempat-tempat suci Betel dan Dan, di mana Yerobeam telah mendirikan sapi-sapi emas. Sedangkan raja-raja Yehuda / Yerusalem masing-masing diukur menurut model Daud. Kendatipun kebanyakan raja itu tidak memenuhi standard, namun YHWH tetap mendukung kerajaan Yehuda karena kebenaran Daud serta janji yang diberikan kepadanya dan wangsanya.
Sejarah Yehuda itu akhirnya memuncak dalam pemerintahan seorang raja muda yang bernama Yosia, yang sepenuhnya memenuhi model Daud, dan membaharui kehidupan bangsa sesuai dengan apa yang difirmankan Allah melalui Musa. Versi pertama KSDtr ini berakhir dengan sebuah happy end.

 

4.         Editor Deuteronomistis

Re-edisi KSDtr pada masa Pembuangan tidak hanya melengkapi apa yang terjadi setelah reformasi raja Yosia sampai dengan peristiwa Pembuangan (2Raj 24-25), tetapi merupakan suatu relectura, yakni suatu pembacaan ulang seluruh KSDtr dalam terang peristiwa yang telah menimpa bangsa Yehuda, yakni hancurnya kerajaan, kota Yerusalem dan Bait Allah, serta Pembu­angan ke Babel.
Editor ini mengembangkan secara lebih ekplisit suatu tema yang sudah tersirat dalam KSDtr, yakni bahwa hukum Musa dalam Ul 12-26 adalah hukum Perjanjian, hukum yang menjadi syarat dalam hu­bungan Perjanjian Allah dengan Israel, dengan segala konsekuensinya yang berupa kutukan dan berkat (Ul 4 dan 27-30).
Pendudukan negeri terjanji pada zaman Yosua oleh editor ini tampak dipandang belum lengkap, dan baru akan dibuat lengkap oleh YHWH apabila Israel dengan setia berpegang pada hukum Perjanjian itu (Yos 23). Akan tetapi yang sebaliknya yang terjadi. Pada zaman be­rikut, zaman hakim-hakim, Israel terus menerus me­langgar Perjanjian dengan beribadah kepada allah-allah dari bangsa-bangsa yang masih tinggal di dalam negeri terjanji, dan karenanya bangsa-bangsa itu tidak pernah jadi diusir oleh YHWH (Hak 2:20i,23).
Kedosaan Israel mencapai puncak baru dengan permohonan akan seorang raja, kendati pun YHWH sudah menjadi raja mereka (1Sam 12). Sikap negatif editor terhadap kerajaan –menurut Mayes – menyang­kut pula kerajaan dinasti Daud yang ternyata juga tidak mampu menjamin bahwa Israel berpegang pada hukum Perjanjian, khususnya pengabdian yang eksklusif kepada YHWH.
Bangsa Israel menanggung hukuman atas ketidak-setiaannya itu, berupa pembuangan dari negerinya (2Raj 17, 24-25, 23:26-27). Akan tetapi penjelasan keras dan tajam mengapa kecelakaan itu menimpa Israel, oleh editor tidak dilepaskan dari pemberian setitik peng­harapan kepada mereka yang kembali kepada YHWH[14]. Selalu masih ada waktu bagi umat untuk menyadari kesalahannya dan kembali kepada Tuhan, se­per­ti telah acap-kali dilakukan oleh angkatan-angkatan umat Israel pada masa para hakim. Setiap kali mereka berseru kepadanya, maka Tuhan membang­kitkan seo­rang penyelamat bagi mereka. Sekarang juga Tuhan masih mau menyelamatkan umatnya dari geng­gam­an Babel, asalkan mereka mau mengikuti beberapa orang te­la­dan dahulu, yakni Daud dan Yosua; dan mau ber­pegang teguh kepada perintah Tuhan yang ditu­liskan Musa. Tujuan terakhir editor deutero­nomistis dalam kitab Yosua s/d Raja-Raja ialah mendo­rong pertobatan.
Hal ini sangat tampak dari kitab Raja-Raja. Sepanjang kisahnya pengarang mengingatkan pembaca akan belaskasihan Tuhan yang panjang sabar dan selalu menunda pelaksanaan hukuman (1Raj 11:34 dst, 21:29, 2Raj 17:7 dst, 22:19-20). Tuhan masih memberi waktu un­tuk penyesalan sehingga malapetaka dapat dihindar­kan. Dan bahkan setelah malapetaka itu terjadi dan bang­sa sudah dibuang, masih ada kesempatan untuk berkiblat ke Bait Allah dan menyesal; dan Tuhan boleh diharapkan mendengarkan doa orang yang terbuang jauh itu (1Raj 8:46-51).

Secara tidak langsung pengharapan serupa dapat di­tim­ba pembaca dari skema “nubuat dan perwujudannya” yang menguasai seluruh Karya Sejarah Deuteronomistis:
·      Dalam kitab Ulangan Musa sudah menu­buatkan ketidak-taatan Israel serta akibat-aki­batnya, yakni bahwa mereka “akan dicabut dari tanah” dan “diserakkan ke antara segala bangsa” (Ul 28:63-64). Dalam seluruh karya sejarah selanjutnya ketidak-taatan Israel itu dilukiskan sampai berakhir dengan peris­tiwa Pembuangan. Nubuat Allah terlaksana.
·      Nubuat serta penggenapannya serupa itu terulang-ulang sepanjang kisah Yosua s/d Raja-Raja, paling banyak dalam kitab Raja-Raja. Terus menerus digambarkan bagaimana sabda seorang nabi kemudian terwujud.[15] Sabda Allah menguasai jalannya sejarah.
Skema “nubuat serta pelaksanaannya” ini tidak mem­bawa kabar yang melulu negatif (nubuat kece­lakaan yang selalu terwujud), tetapi juga dapat menjadi sumber pengharapan bagi Israel. Ada beberapa nubuat yang menjanjikan masa depan yang cerah bagi umat Israel, khususnya bagi kerajaan Daud dan kota Yerusalem. Pembaca diharapkan percaya bahwa sabda-sabda keselamatan itupun tetap berlaku dan bahwa Allah sanggup mewujudkannya. Tetapi syaratnya di mata para editor deuteronomistis ialah selalu: asal Israel bertobat dan kembali kepada Perjanjian, setia kepada Tuhan dan kehendaknya.

B.        Kitab Ulangan


Kalau kita menerima gagasan Karya Sejarah Deuteronomistis, maka tidak mungkin berbicara tentang kitab Yosua s/d Raja-Raja tanpa lebih dahulu membicarakan kitab Ulangan yang merupakan pengan­tar dan tolok ukur bagi Karya Sejarah itu.[16]
Kitab Ulangan mempunyai bentuk unik, dalam arti bahwa hampir seluruh isinya disajikan sebagai wejangan Musa. Wejangan ini – menurut gambaran dalam Ul 1:1-5 – disampaikan Musa kepada seluruh orang Israel ketika berada di ambang pintu tanah terjanji, yakni di tanah Moab, di sebelah timur sungai Yordan. Dalam sebuah wasiat panjang menjelang kematiannya Musa “menguraikan hukum Taurat” (1:5) kepada generasi baru yang belum hadir di gunung Horeb. Maka kitab ini diberi bentuk sebagai uraian tentang hukum Sinai untuk generasi baru (dan bukan sebagai hukum yang kedua, sebagaimana dikesankan oleh sebutan Yunani deutero-nomion).

1.          Sususan Kitab Ulangan

Kitab Ulangan mempunyai susunan konsentris (terpusat) yang tidak sangat sulit ditemukan. Umum diterima bahwa pusatnya adalah koleksi Undang-Undang dalam bab 12-26. Undang-Undang itu diawali dan disusul wejangan pengantar dan penutup (1-11 dan 27-30). Semuanya itu berupa perkataan Musa. Pidatonya yang panjang itu diawali catatan pengantar yang sangat singkat, dan disusul kisah penutup yang cukup panjang, yang bukan hanya mengakhiri kitab Ulangan tetapi juga membulatkan seluruh Taurat Musa. Secara skematis susunannya begini:

1:1-5       Catatan pembukaan: setting.

     1:6-4:40   Wejangan pengantar I:
                        riwayat sejak Horeb, + himbauan.
     5:1-11:32 Wejangan pengantar II:
                        riwayat Horeb, + himbauan.
         
          12 - 26              Undang-Undang Ulangan

     27 - 30              Wejangan penutup:
                        berkat dan kutuk,
                        pembaharuan Perjanjian.

31 - 34    Kisah penutup (Ulangan/Taurat):
                   Musa diganti Yosua lalu meninggal.
Catatan pembukaan, seperti sudah dikatakan di atas, menyebutkan waktu dan tempat wejang­an Musa, yakni ketika mereka sudah sampai “di seberang sungai Yordan, di tanah Moab” (1:5). Catatan yang serupa terulang dalam 4:44-49, sehingga dapat dibedakan dua tahap dalam wejangan pengantar (I dan II).

Wejangan Musa yang pertama menceritakan ulang riwayat perjalanan orang-orang Israel sejak keberang­katan mereka dari gunung Horeb sampai mereka menduduki daerah di sebelah timur sungai Yordan, tempat wejangan Musa ini disampaikan (Ul 1-3; kisah ini sejajar dengan Bil 13-32). Riwayat perjalanan ini memuncak dalam ajakan untuk dengan setia berpegang pada Perjanjian dan ketetapannya (Ul 4).
Gagasan dasar wejangan ini adalah:
·      Angkatan lama yang tidak percaya kepada janji Tuhan, tidak diperbolehkan masuk negeri terjanji (1:19-2:15; termasuk Musa sendiri, 3:23-29).
·      Namun, angkatan baru, yang kini sudah mulai mengalami perwujudan janji Tuhan, yakni pemberian wilayah di sebelah timur sungai Yordan (2:16-3:23), hendaknya menepati ketetapan dan peraturan Tuhan agar dapat memasuki negeri terjanji itu sepenuhnya (4:1-22). Kalau mereka lupa akan Perjanjian Tuhan[17], mereka sebaliknya akan dibuang dari negeri itu (4:23dst).

Wejangan Musa yang kedua mulai dengan mengingatkan orang Israel akan pengikatan Perjanjian di Horeb yang diikat Tuhan bukan hanya dengan moyang mereka tetapi juga dengan setiap generasi. Dalam kaitan ini dikutip kembali Sepuluh Firman (5:6-21), yang juga dalam kitab Ulangan berlaku sebagai ketetapan dasar untuk segala peraturan lain (bdk. posisi Sepuluh Firman dalam Kel 20 dalam konteks Kel 19- Bil 9).
Dalam bab berikut, yakni 6:4 dst. ketetapan dasar itu disimpulkan dengan lebih ringkas lagi dalam perintah kasih kepada Allah: “Dengarlah, hai orang Israel, YHWH itu Allah kita, YHWH saja! Kasihilah YHWH, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.”
Seluruh wejangan yang kedua ini merupakan himbauan dan memberi dorongan kepada Israel untuk mengasihi Tuhan dengan cara menepati hukum dan ketetapan-Nya. Ada sudut pandang waktu yang dipergunakan:
·      Untuk memberi motivasi kepada Israel, mereka terus menerus diingatkan akan masa lampau yang positif maupun negatif; diingatkan akan sejarah kebaikan Tuhan, sumpah setianya kepada nenek moyang bangsa (mis. 6:10), pembebasan dari Mesir (mis. 6:21ii), penyelenggaraan ilahi sepanjang perjalanan di padang gurun (mis. 8:2ii,15i), tetapi diingatkan juga akan sejarah amarah-Nya ketika Israel murtad di Horeb (9:7-10:11).
·      Untuk menambah motivasi Israel, mata mereka diarahkan pula ke masa depan, yakni ke berkat yang dijanjikan Tuhan, hidup sejahtera dalam sebuah negeri yang sangat baik (7:13, 8:7-10, 11:8), tetapi juga kepada kutukan Tuhan kalau mereka akan melanggar ketetapan dan peraturannya (7:4,10, 11:28).

Undang-undang Ulangan (12-26) merupakan ba­gian sentral dari wejangan Musa. Undang-Undang ini kurang bersifat sebagai kitab hukum biasa, sebab pera­turan-peraturannya terus mene­rus diselingi himbauan dan bahkan renungan teologis. Ciri persuasif itu mem­be­da­kannya dari Kitab Perjanjian, koleksi hukum yang terdapat dalam Kel 20:22-23:19 dan yang sering dihubungkan dan dibandingkan dengan Undang-Undang Ulangan. Banyak peraturan ibadat, hukum sipil dan anjuran sosial dari Kitab Perjanjian itu ternyata mempunyai paralel dalam Undang-Undang Ulangan, sebagaimana diperlihatkan secara rinci oleh I.Cairns[18]. Undang-Undang Ulangan mungkin meru­pakan hasil usaha untuk mengaktualkan kembali hukum-hukum yang lebih kuno dari Kitab Perjanjian itu. Namun demikian, tidak ada kesejajaran dalam urutan hukum.
Bagi pembaca yang terbiasa dengan sistematik kodeks hukum modern, urutan atau susunan Undang-Undang Ulangan tidak langsung jelas. Masalah itu sesungguhnya belum dipe­cahkan secara memuaskan. Dua usaha patut dikemukakan:
·      Pertama-tama, Julius Wellhausen[19] mengamati bahwa dalam bagian pertama Undang-undang Ulangan sering diulang peraturan yang sangat khas Deuteronomis, yang menyangkut sen­tralisasi ibadat “di tempat yang dipilih Tuhan, Allahmu, untuk membuat namanya tinggal di sana”, yaitu di Bait Allah di Yerusalem. Perintah sentralisasi ibadat itu diterapkan kepada segala macam korban persem­bahan (Ul 12:5,11,13i,18, 21,26), persembahan per­sepuluhan (14:22 dst), penyembelihan anak sulung (15:19i), dan tiga Hari Raya utama (Ul 16)[20]. Sentralisasi ibadat ini muncul sekali lagi dalam sebuah liturgi yang dibicarakan pada akhir Undang-Undang Ulangan, yakni persembahan hasil pertama (26:1-11). Di antara peraturan sentralisasi pada bagian pertama dan pada akhir itu terdapat aneka ragam hukum pidana, sipil dan sosial.
16:18 - 18:22     Hukum tentang yang berwe­nang: hakim, raja, imam, nabi
19:1 - 21:9         Hukum Pidana
21:10 - 22:30     Hukum Keluarga
23:1-14             Hukum Ketahiran
23:15 - 25:4       Hukum Perikemanusiaan
25:5-19             Aneka ragam tambahan

·      G. Braulik[21] berusaha untuk memahami struktur Undang-Undang Ulangan dalam kaitan dengan  X Firman yang sudah disajikan dalam Ul 5. Menu­rutnya, ungkapan “ketetapan dan pera­turan” (hakuqqim wehammispatim) yang sering terulang pada tempat yang strategis,[22] menunjuk pada relasi khusus antara ketetapan X Firman dan peraturan dalam Undang-Undang. Tetapi ia mengaku bahwa relasi itu tidak sama jelas dan ketat dalam semua bagian Undang-Undang Ulangan. Dalam Ul 12-18 hanya ditemukan suatu kesejajaran yang global saja dengan Firman I-IV, sedangkan mulai dari Ul 19 tampak ada kecocokan lebih rinci dengan Firman V-X.
Firman I              Larangan menyembah ilah & patung
12:2-13:19               Satu tempat suci, satu Allah Israel.
Firman II       Jgn menyalahgunakan nama YHWH
14:1-21                    Perbedaan ritual antara umat Allah
                                dan bangsa-bangsa lain.
Firman III         Menguduskan Hari Sabbat
14:22-16:17             Irama suci ibadat dan persekutuan.
Firman IV         Menghormati orang tua
16:18-18:22             Jabatan-jabatan di Israel.
Firman V     Melindungi hidup
19:1-21:23               Pembunuhan yang disengaja.
Firman VI         Larangan zina
22:13-23:15             Keluarga dan seksualitas.
Firman VII        Larangan mencuri
23:16-24:7               Harta Kepunyaan.
Firman VIII Larangan kesaksian palsu
24:8-25:4                 (Kebenaran di depan) pengadilan.
Firman IX-X     Larangan mengingini isteri/harta orang
25:5-16                    Perlindungan untuk keluarga dan
                          kepunyaan.
Dari kesejajaran ini dapat disimpulkan bahwa penyusun Ul 12-26 memaksudkan Undang-Undang Ulangan itu sebagai uraian dan perincian X Firman. Dalam bagian pertama kesejajaran itu umum saja (mungkin juga karena bagian itu sudah kl. tersusun dalam tradisi sebelumnya). Se­dangkan undang-undang dalam bagian kedua dengan lebih sadar diatur menurut bidang-bidang yang muncul dalam X Firman. Dengan demikian larangan-larangan dasar X Firman, yang sendiri belum bersifat hukum, mendapat suatu pengisian positif dalam hukum Israel.

Wejangan penutup terdiri dari dua bagian utama:
·      Dalam Ul 27-28 disampaikan ucapan berkat dan lebih banyak lagi ucapan kutuk untuk mendorong Israel agar melakukan ketetapan dan peraturan Tuhan yang baru saja diuraikan dalam Undang-Undang Ulangan, dan jangan mengabaikannya.
·      Dalam Ul 29-30 disajikan “perkataan Perjanjian yang diikat Musa dengan Israel di tanah Moab” (Ul 29:1), suatu wejangan dalam rangka pembaharuan Perjanjian di Moab. Perkataan Perjanjian itu memuncak dalam peringatan keras bahwa pelanggaran pasti akan membawa hukuman berupa pembuangan (Ul 29:21dst), tetapi juga disampaikan bahwa masih ada kemungkinan untuk berbalik kepada Tuhan dan mengalami kebaikan-Nya (Ul 30:1-10).
Wejangan penutup berakhir dengan sebuah kata peneguhan bahwa perintah Tuhan tidak terlalu berat untuk dilakukan, sebab perintah itu sudah terletak dalam hati orang. Tinggallah Israel betul memilih untuk melakukannya, atau tidak; dan pilihan itu tak lain daripada memilih antara kehidupan dan kematian (Ul 30:11-20).

Kisah penutup: Ul 31 menyambung dan melan­jutkan riwayat sejarah yang terputus sejak Bil 32 atau Ul 3. Musa tidak diperbolehkan menyeberangi sungai Yordan, maka kepemim­pinan dialihkan kepada Yosua yang — dengan disertai Tuhan — akan menyeberang di de­pan umat Israel (Ul 31:1-8, bdk Ul 3:23-29). Untuk menja­ga kelangsungan Perjanjian, ditetapkan pemba­caan ulang hukum Taurat pada hari Raya Pondok Daun, sekali setiap tahun ketujuh (Ul 31:9-13). Hukum Taurat dituliskan dalam sebuah kitab, dan diberi tempat di samping Tabut Perjanjian yang memuat X Firman (Ul 31:24ii).
Dalam Ul 34 riwayat Musa dibulatkan dengan beri­ta tentang kematiannya. Setelah diberi melihat negeri terjanji, Musa mati di ambang pintu negeri itu. Kisah terakhir ini bukan hanya berperan sebagai penutupan kitab Ulangan, melainkan juga berfungsi sebagai kisah penutupan untuk seluruh Taurat Musa. Taurat menerima peredaksiannya yang definitif dari tangan Priest (P) setelah masa Pembuangan, seabad lebih kemudian daripada peredaksian KSDtr. Peredaksian final Taurat Musa oleh Priest inilah yang menyebabkan bahwa kitab Ulangan akhirnya kehilangan posisinya yang asli sebagai pengantar Karya Sejarah Deute­ronomistis, dan selanjutnya lebih berperan sebagai bagian akhir Taurat Musa atau Pentateukh.
Di tengah kisah penutup ini disisipkan dua sajak: sebuah mazmur (Nyanyian Musa, Ul 32) dan sebuah koleksi ucapan berkat untuk masing-masing suku (Berkat Musa, Ul 33)[23]. Kedua sajak itu diletakkan dalam mulut Musa sebagai peringatan maupun janji untuk masa mendatang. Mazmur sejak awal sudah memberi peringatan bahwa kebaikan Tuhan (32:7-14) akan dijawab Israel dengan ketidak-setiaan (ay 15-18), hal mana akan membawa hukuman dari Tuhan (ay 19-25); namun Tuhan tidak akan membiarkan bangsanya terhapus melainkan akan mengasihani mereka (ay 26-42). Belas kasih dan kesetiaan Tuhan itu kemudian dikonkritkan dalam ucapan-ucapan berkat atas masing-masing suku (Ul 33).

 

2.         Proses  penyusunan  kitab

Proses perkembangan kitab Ulangan tampak mele­wati beberapa tahap[24].
·      Ulangan asli: Apa yang lazim disebut kitab Ulangan asli perlu dicari di dalam bab (6-11)12-25. Karangan itu aslinya berupa sebuah koleksi undang-undang, yang dijiwai oleh gagasan sentralisasi ibadat. Koleksi yang dikenal sebagai torah Mošè, sudah diawali beberapa himbauan yang ditujukan kepada Israel yang dilukiskan sedang berada dalam perjalanan masuk ke negeri.[25] Asal mula dari kitab Ulangan asli ini masih diperdebatkan. Apakah juga berasal dari masa raja Yosia? Ataukah gerakan deuteronomis serta kitab mereka sudah ada lebih dahulu; berasal dari masa raja Hizkia (kl. 700SM), dan kitab itu — setelah hilang pada masa raja Manasye — sungguh ditemukan kembali pada masa Yosia?
·      Karya pengarang sejarah deuteronomistis: Ulangan asli itu selanjutnya oleh pengarang sejarah deuteronomistis dimasukkan ke dalam karyanya yang besar tentang sejarah bangsa Israel, sebagai bagian pengantarnya. Untuk itu pengarang KSDtr melengkapi Ulangan asli dengan suatu kerangka kisah sejarah, yakni kisah perjalanan Israel dari Horeb sampai ke perbatasan negeri terjanji (Ul 1-3), lagi kisah tentang pengadaan Perjanjian serta pemberian Sepuluh Firman di Horeb (Ul 5) dan kisah tentang pelanggaran Perjanjian itu (Ul 9:2-10:10). Kerangka kisah sejarah itu kemudian disambung lagi dengan penunjukkan Yosua sebagai pengganti Musa (Ul 31) dan kematian Musa (34:1-6).

Dengan demikian pengarang sejarah deutero­nomistis menempatkan seluruh sejarah Israel yang menyusul di bawah ukuran hukum Musa yang terdapat dalam Ul 12-26. Hukum itu disajikan kepada pembaca sebagai potokan untuk menilai seluruh sejarah Israel yang menyusul.
Pengarang memberikan suatu konteks khusus kepada hukum. Ia menghubungkan hukum itu: (a) dengan Perjanjian antara YHWH dan Israel di Horeb, dan (b) dengan saat Israel masuk ke negeri. Hukum itu diberikan YHWH kepada Musa di Horeb pada kesempatan pengikatan Perjanjian. Namun hukum itu baru disampaikan oleh Musa kepada umat, yakni angkatan baru yang hidup setelah angkatan pemberontak mati, menjelang saat mereka menduduki negeri. Dengan demikian diciptakan kaitan erat antara Hukum, Perjanjian dan Negeri, suatu kaitan yang amat penting untuk seluruh KSDtr.

·      Editor pada masa kemudian: Hubungan antara hukum Musa dan Perjanjian Horeb itu ditingkatkan lebih jauh oleh editor yang kemudian. Tangan editor itu paling kentara dalam Ul 4, (6-8)[26], 10:12-11:32, 26-30. Apa yang sudah diceriterakan oleh pengarang sejarah, yakni penyampaian hukum Musa dalam kerangka sejarah Perjanjian Horeb, diungkapkan lebih tegas lagi oleh editor yang kemudian. Menurut edisinya bahkan penyampaian hukum oleh Musa kepada bangsa diadakan dalam rangka pengikatan Perjanjian, yakni Perjanjian di tanah Moab (29:1).
Editor itu memperkaya kitab Ulangan dengan rumusan-rumusan Perjanjian yang membantu dia untuk memahami situasi bangsa pada masanya sendiri. Masa itu adalah masa Pembuangan. Bangsanya telah mengalami kehancuran negerinya dan sedang menjalani masa pengasingan di Babel. Hal itu diterangkannya sebagai kutukan Tuhan karena pelanggaran mereka, dengan memakai sebuah rumusan Perjanjian yang disertai ucapan berkat dan kutuk. Kesetiaan terhadap perjanjian mesti mem­bawa berkat, tetapi yang terjadi adalah pelanggaran perjanjian yang mengakibatkan kutukan.
Akan tetapi editor ini tidak menempatkan kutukan dan berkat itu berdampingan sebagai pilihan alternatif (atau... atau..., sebagaimana lazim dalam rumusan perjanjian politis yang ia gunakan), melainkan menempatkan kutukan dan berkat itu dalam urutan kronologi sejarah (4:25-31, 30:1-10). Kutukan yang kini sedang dialami Israel, masih dapat disusul dengan berkah apabila Israel bertobat.[27]

 

C.         Kitab Yosua

Susunan kitab Yosua cukup mudah ditetapkan: dalam bagian pertama (Yos 1-12) dikisahkan perebutan / pemberian negeri di sebelah barat sungai Yordan; dalam bagian tengah (Yos 13-21) negeri itu dibagikan kepada suku-suku Israel; dalam bagian penutup (Yos 22-24) Yosua mengumpulkan semua orang Israel untuk menyampaikan wejangannya yang terakhir dan mengadakan suatu pembaharuan Perjanjian.
1
Perintah Tuhan untuk merebut Kanaan
2-9
Kisah-kisah penaklukan wilayah Benyamin
10-11
Kemenangan atas raja2 Selatan dan Utara
12
Daftar raja2 yg dikalahkan
13-21
Pembagian negeri
22
Suku2 trans-Yordan pulang
23
Wejangan perpisahan Yosua
24
Pembaharuan Perjanjian di Sikhem.

Sebagian besar dari bagian pertama (bab 2-9) berisikan kisah-kisah etiologis, artinya cerita-cerita yang memberi keterangan populer tentang bermacam-macam gejala di daerah Benyamin:
·      dua belas batu di Gilgal (4:9)
·      nama Gilgal (5:9)
·      kaum Rahab di Yerikho (6:25)
·      timbunan batu di lembah Akhor (7:26)
·      reruntuhan Ai dan timbunan batu di depan pintu gerbangnya (8:28)
·      tukang-tukang Gibeon di tengah Israel (9:27).

Gejala-gejala itu diterangkan dengan me­nunjuk kembali kepada peristiwa-peristiwa pada masa pendudukan negeri (4:9,20 dst, 5:9, 6:25, 7:26, 8:28-29, 9:27). Inilah sebuah koleksi tradisi-tradisi sangat kuno yang berasal dari suku Benyamin yang mengenangkan perebutan dan pendudukan wilayahnya itu.
Koleksi kisah etiologis dan regional ini dilengkapi dengan dua kisah peperangan mela­wan raja-raja Kanaan, yang pertama di wilayah Selatan (bab 10) dan yang lain di wilayah Utara (bab 11). Beberapa kisah peperangan ini tampak sebagai tradisi-tradisi kuno yang berasal dari suku Yehuda dan suku Naftali. Dengan ditambahnya dua tradisi ini (mungkin sudah ditambah pada awal masa kerajaan ketika semua suku Israel disatukan dalam kerajaan Daud dan Salomo) kisah Benyamin yang regional berubah menjadi sebuah kisah nasional, kisah pendudukan seluruh negeri Kanaan (tengah, selatan dan utara) oleh segenap suku Israel di bawah pimpinan Yosua.
Daftar-daftar batas wilayah suku dan daftar kota-kota yang terkumpul dalam Yos 13-21 juga merupakan tradisi-tradisi kuno. Sebagian besar daftar itu (Yos 14-19) barangkali sudah diga­bungkan, dan dijadikan bagian dari kisah Yosua, sebelum kisah Yosua dikenal dan dipakai oleh pengarang KSDtr. Kalau demikian, kisah Yosua yang kuno (Yos 2-11, 14-19) mau menggam­barkan bagaimana Yosua merebut negeri Kanaan dan membagikannya di antara suku-suku Israel[28]

Kisah Yosua itu oleh pengarang sejarah deute­ronomistis dimasukkan ke dalam kisah besar sejarah bangsa Israel selama enam abad. Masa pendudukan dan pembagian negeri disa­jikan sebagai suatu zaman ter­sendiri, yakni zaman Yosua. Penyisipan itu tercapai dengan menambahkan sebuah kata pengantar tentang mulainya kepemimpinan Yosua sebagai pengganti Musa (Yos 1) dan sebuah kata penutup tentang pemenuhan seluruh janji YHWH (Yos 21:43-45), pulangnya suku-suku trans Yordan (Yos 22:1-6; bdk Yos 1:12-18), dan berita tentang kematian Yosua (Yos 24:29-30).
Dengan penambahan-penambahan substansial itu dan banyak penambahan dan pengolahan yang lain lagi[29], pengarang mengintegrasikan kisah perebutan dan pembagian negeri oleh Yosua ke dalam sebuah sejarah Israel yang berkesinambungan dan konsisten. Menurut pengarang itu Yosua:
·      mengganti Musa sebagai pemimpin seluruh Israel,
·      menjalankan perang suci di bawah perintah YHWH yang senantiasa menyertainya,
·      bersama keduabelas suku berhasil merebut dan menduduki seluruh negeri di sebelah barat sungai Yordan, sesuai dengan janji YHWH (21:43,45).
Dengan demikian ia menyelesaikan pekerjaan yang sudah dimulai oleh Musa di sebelah timur sungai.

Editor deuteronomistis kemudian mema­suk­kan suatu aspek baru ke dalam kisah itu. Tidak puas dengan gambaran yang terlalu sederhana bahwa YHWH senantiasa menyertai dan memimpin Israel dalam peperangan sehingga selalu membawa kemenangan, editor lebih tegas menggambarkan hubungan antara YHWH dan Israel sebagai hubungan perjanjian yang mengandaikan bahwa Israel bertindak sesuai dengan seluruh hukum Musa. Dengan demikian ditambah suatu unsur kondisional (“jika Israel taat pada perjanjian”) kepada penyertaan YHWH yang diharapkan memberikan kemenangan. Unsur baru yang menjadi dominan itu dimasukkan dengan menyisipkan beberapa ayat singkat dalam sejarah deuteronomistis itu, mis.:
·      pada awal kisah perebutan (Yos 1:7-9a),
·      pada awal kisah pembagian negeri (Yos 13:1d-6),
·      dan terutama dengan menambahkan suatu wejangan penutupan yang panjang, yang disampaikan oleh Yosua sebagai wasiat (Yos 23)[30].
Kalau pengarang sejarah deuteronomistis tadi menggambarkan perebutan seluruh negeri sebagai sesuatu yang sudah lengkap, dan meng­akhiri sejarah zaman itu dengan menggambarkan keamanan total dari segala musuhnya (Yos 21:43-45), editor ini membedakan antara sukses Israel yang selama ini dan peperangan yang masih akan datang, dan menegaskan bah­wa keberhasilan lengkap Israel akhirnya akan tergantung dari sikapnya terhadap hukum dan perjanjian. Masih ada daerah yang belum dan harus diduduki (Yos 13:1b).[31] Perebutannya akan dibuat berhasil oleh YHWH kalau Israel meme­lihara hukum perjanjian, yakni semua yang tertulis dalam kitab hukum Musa (Yos 23:5ii). Tetapi kalau melanggar perjanjian itu, mereka sebalik­nya akan dimusnahkan dari negeri yang sudah diberikan YHWH (Yos 23:15i).

Masih ada kisah penutup lain lagi, yakni tentang pengadaan perjanjian di Sikhem (Yos 24:1-28; bdk. juga 8:30-35). Kisah ini umumnya dianggap berakar dalam tradisi kuno, yakni ibadat perjanjian di tempat suci Sikhem. Tetapi penempatan kisah itu di sini, setelah wasiat Yosua (Yos 23), terasa janggal. Maka ada dugaan bahwa tradisi kuno ini baru kemudian (sesudah re-edisi deuteronomistis) ditambah kepada kitab Yosua, dengan maksud untuk lebih menekankan lagi tema perjanjian yang telah menjadi titik tekanan re-edisi deuteronomistis[32].

D.        Kitab Hakim-hakim

 

1.          Isi dan susunan kitab

Susunan kitab Hakim-Hakim cukup jelas. Bagian pokok (Hak 2:6 - 16:31) adalah kisah tentang para hakim, yakni serangkaian riwayat yang cukup panjang tentang beberapa tokoh penyelamat. Riwayat-riwayat itu diselingi catat­an-catatan sangat singkat tentang beberapa tokoh lain yang pernah memerintah sebagai hakim, sehingga menjadi dua belas hakim.
Kisah tentang dua belas tokoh ini dibuka dengan sebuah kata pengantar tersendiri yang memberi gambaran umum tentang masa para hakim (Hak 2:6-3:6). Pengantar itu pada gilirannya didahului sebuah kisah pendahuluan lain lagi yang memberi gambaran alternatif tentang pendudukan negeri Kanaan oleh masing-masing suku (Hak 1:1-2:5).
Kitab ditutup dengan dua kisah tambahan, yakni tentang perampasan patung sembahan Mikha oleh suku Dan dan tentang perbuatan aib suku Benyamin terhadap isteri seorang tamu (Hak 17-21).
Skema isi kitab Hakim-hakim:

     1:1-2:5
     Perjuangan masing2 suku
    2:6-3:6
     Pengantar: corak zaman Hakim2
3:7-30
OTNIEL,  EHUD
    3:31
     Samgar
4-5
DEBORA dan Barak
6-8 (9)
GIDEON (Abimelekh)
   10:1-5
     Tola, Yair
10:6-12:6
YEFTA
   12:7-15
     (Yefta,) Ebzan, Elon, Abdon
13 - 16
SIMSON
     17-18
          Ibadat berhala suku Dan
     19-21
          Perbuatan aib suku Benyamin

Hak 1 berisikan catatan-catatan tentang pendu­dukan negeri Kanaan oleh pelbagai suku Israel. Berbeda dengan gambaran dalam kitab Yosua, di sini dilaporkan bagaimana masing-masing suku berjuang sendirian dan hanya berhasil menduduki sebagian daerahnya saja. Refrennya adalah
“Suku ... tidak menghalau orang Kanaan yang diam di ...” (ay 19, 21, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33).
Dengan demikian Hak 1 berfungsi sebagai pera­lihan antara kitab Yosua yang menggambarkan keberhasilan dari usaha bersama semua suku Israel dan kitab Hakim-Hakim yang mengisahkan kesusahan pelbagai suku untuk mempertahankan diri[33]. Karena tidak ada lagi seorang pemimpin seperti Yosua (Hak 1:1) dan karena Israel tidak lagi mendengarkan firman Tuhan (Hak 2:2), maka mereka tidak kuat menghalau semua penduduk negeri Kanaan. Bahkan dikatakan, Tuhan mem­biarkan orang-orang Kanaan itu sebagai jerat bagi Israel (Hak 2:3). Akibatnya ditampakkan dalam kisah para hakim: Israel seringkali murtad, lalu tidak lagi mempunyai daya kekuatan untuk bertahan terhadap musuh-musuh sekeliling.

Kisah pokok tentang kedua belas hakim mempunyai kata pengantar tersendiri (Hak 2:6-3:6). Dalam kata pengantar ini disajikan interpretasi tentang masa para hakim. Masa itu dipertentangkan dengan masa Yosua, masa awal yang ideal. Angkatan-angkatan setelah Yosua tidak lagi akrab dengan Tuhan sebab tidak secara langsung mengalami tindakan-tindakannya yang besar bagi umatNya (ay 10).
Mereka mulai lupa akan Tuhan yang telah membebaskan mereka dari penjajahan dan telah memberi mereka sebuah negeri untuk hidup secara merdeka. Sebagai gantinya mereka mulai mengabdi dewa-dewi kesuburan yang dijumpai di negeri yang baru itu (ay 11-13).
Dosa itu membangkitkan murka Tuhan yang mendapat wujud konkrit dalam serangan dan tekanan dari musuh-musuh di sekeliling. Karena telah menggantikan Tuhan, Pembebas mereka, dengan dewa-dewa kemakmuran, Israel tidak lagi kuat dan mampu untuk bertahan sebagai bangsa yang merdeka (ay 4-15).
Namun dalam kesesakan itu umat acap kali teringat kembali akan Tuhan dan meman­jatkan doa rintihan dan teriakan kepadaNya sebagai tanda penyesalan dan pertobatan (ay 18b).
Tuhan pun tidak tuli terhadap seruan mereka. Ia menolong mereka dengan membangkitkan seorang penyelamat setiap kali ketika umat-Nya mengalami keadaan yang gawat itu dan berteriak kepada Tuhan (ay 16,18).
Tetapi pertobatan umat tidak bertahan lama. Mereka tidak setia lagi pada Tuhan. Setelah sang hakim mati - atau ada kalanya bahkan ketika ia masih hidup - pengabdian dan ketaatan kepada YHWH Penyelamat segera ditukar lagi dengan penyembahan kekuatan alam dan kesuburan, para Baal dan Astarte. Lalu mulailah seluruh proses kembali dari awal: umat yang murtad lagi mengundang murka Tuhan, seruan tobat mereka kembali dijawab dengan dibangkitkannya seorang penyelamat, yang membawa kemenangan serta keadaan yang aman untuk beberapa waktu.
Kitab Hakim-hakim disajikan sebagai sebuah siklus kehidupan umat Israel: ketidaksetiaan pada YHWH ® hukuman ® doa minta tolong ® belas kasih YHWH ® kemenangan terhadap musuh ® ketidaksetiaan pada YHWH dst. .....................  
Dalam perspektif teologis ini selanjutnya disaji­kanlah kisah-kisah tentang beberapa pah­lawan yang kharismatis yang diberi karunia Roh Tuhan untuk dapat menyelamatkan Israel, yakni (Otniel), Eglon, Debora dan Barak, Gideon, Yefta, Simson. Riwayat mereka yang masing-masing cukup unik itu selalu dilengkapi dengan kata pengantar dan penutup yang k.l. sama. Dengan cara yang demikian pelbagai kisah yang berbeda-beda itu ditempatkan dalam satu perspektif teologis dan kerangka kronologis yang seragam.
Dalam perspektif tersebut Israel terdiri dari dua belas suku. Jumlah hakim juga dihitung dua belas: ada enam riwayat tentang hakim “besar”, ditambah catatan-catatan singkat tentang enam hakim lainnya, biasanya disebut “kecil” karena singkatnya berita (Hak 3:31, 10:1-5 dan 12:7-15)[34]. Gambaran yang ingin diberikan ialah: setiap kali Israel berseru kepada Tuhan, maka dibangkitkan seorang penyelamat dari salah satu suku, setiap kali dari suku yang lain. Duabelas hakim yang mewakili keduabelas suku, secara bergilir memerintah bangsa Israel selama 300 tahun.

Dalam beberapa bab tambahan (Hak 17-21) diberi gambaran yang lebih negatif lagi tentang masa para hakim. Buruknya masa itu dicontohkan dengan:
·      ibadat berhala suku Dan yang mencuri berhala ketika berpindah dari wilayah perbatasan Filistin ke daerah perbatasan utara (bab 17-18), dan
·      pelanggaran berat orang-orang Benyamin di Gibea terhadap seorang tamu yang isterinya diperkosa hingga mati (19-21).
Gambaran tentang kemerosotan religius dan moral pada zaman itu disimpulkan dalam kalimat yang terulang-ulang:
“Setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri” (Hak 17:6,21:25).
Sebagai alasan tingkah laku yang sewenang-wenang itu ditambahkan:
“pada zaman itu belum ada raja di antara orang Israel” (bdk juga Hak 18:1, 19:1).
Atau dengan kata lain, mulailah terasa dan terungkap kebutuhan akan seorang raja. Dengan demikian gambaran yang negatif pada akhir kitab Hakim-Hakim itu berfungsi sebagai peralihan ke kitab Samuel yang akan mengisahkan munculnya kerajaan di Israel.

 

2.         Proses penyusunan kitab

Sebelum peredaksian deuteronomistis sudah ada bahan tradisi yang mengalami pelbagai tahap perkembangan. Mula-mula ada pelbagai kisah lokal mengenai seorang pahlawan yang pernah menye­lamatkan daerahnya sendiri dari serangan musuh; mis. tentang Yefta di seberang Yordan, tentang Ehud di wilayah Benyamin, tentang Simson di daerah perba­tasan dengan orang Filistin, dll. Sebagian kisah-kisah regional itu, kiranya kisah Ehud, kisah Debora bersama Barak, dan riwayat Gideon dan Abimelekh kemudian sudah dikumpulkan dalam semacam “koleksi kisah para penyelamat” (Hak 3-9).
Kisah-kisah dalam koleksi itu mungkin sudah dilengkapi juga dengan bingkainya yang agak seragam, yang mengulang-ulang bahwa
·      Israel melakukan apa yang jahat di mata YHWH,
·      YHWH menyerahkan mereka ke dalam tangan musuh,
·      mereka berseru kepada YHWH,
·      YHWH membangkitkan seorang penyelamat bagi mereka,
·      musuh tunduk kepada Israel
·      maka amanlah negeri itu[35].
Lepas dari koleksi kisah para pahlawan tersebut juga tersedia daftar kuno dengan nama dan data sejumlah orang yang pernah “berperan sebagai hakim” (safat, Ibr.) di antara orang Israel. Bagian-bagian daftar itu tersimpan bagi kita dalam Hak 10:1-5 (Tola, Yair) dan Hak 12:7-15 (Yefta, Ebzan, Elon, Abdon)[36].
            Koleksi kisah para penyelamat dan daftar orang-orang yang pernah ‘menghakimi’ itu mungkin baru digabungkan oleh pengarang sejarah deuteronomistis, yang ingin memasukkan berperannya dua belas penyelamat / hakim dalam sejarahnya yang panjang tentang kedua belas suku Israel. Untuk mencapai angka dua belas itu dimasukkan juga tradisi-tradisi kuno tentang Yefta (dari suku Gad, Hak 10-12,) dan Simson (dari suku Dan, Hak 13-16); dan ditambah lagi kisah ‘artifisal’ Otniel (Hak 3:7-11), supaya juga suku Yehuda mendapat wakilnya di antara para penyelamat[37].
Tangan pengarang deuteronomistis ini paling kentara dalam sebuah bingkai yang menyatukan semuanya itu, yakni kata pengantar dalam Hak 2:11-19[38], dan kata penghubung yang mengantar kisah Yefta (Hak 10:6a,7-9). Bingkai tersebut berpandangan bahwa pendudukan negeri Kanaan sudah lengkap dan bahwa sekarang Israel dise­rang oleh musuh-musuh dari luar, karena mening­galkan YHWH dan beribadah kepada para Baal.
            Tetapi kitab Hakim-Hakim deuteronomistis itu mengalami suatu pengolahan kembali oleh seorang editor pada masa pembuangan yang menampilkan visi lain[39]: pendudukan negeri dipandang belum lengkap, hal mana disebabkan oleh karena Israel tidak memelihara perjanjian. Karena itu Allah membiarkan bangsa-bangsa lain tinggal di negeri terjanji dan tidak menyelamatkan Israel. Barulah ketika mereka berbalik kepada YHWH, Ia sudi menyelamatkan mereka. Pandangan ini sejajar dengan pandangan editor deuteronomistis yang sudah kita jumpai dalam Ul 4 dan Yos 23.
            Sama seperti kitab Ulangan dan Yosua juga kitab Hakim-Hakim mungkin masih mengalami berbagai tambahan pasca-deuteronomistis. Selain tambahan yang kecil-kecil, sering disebut beberapa bagian tambahan yang cukup besar dan berpengaruh.
·      Pertama-tama, Hak 1:1-2:5, suatu tradisi kuno alternatif tentang pendudukan wilayah Kanaan, yakni oleh masing-masing suku sendirian dan secara sepotong-sepotong. Tradisi itu mungkin baru belakangan dimasukkan di sini untuk menggarisbawahi  apa yang sudah diung­kapkan juga oleh editor deuteronomistis, yakni bahwa pendudukan negeri belum lengkap karena Israel kurang mendengarkan firman Tuhan (2:2).
·      Kedua, juga kisah tentang perampasan patung sembahan Mikha oleh suku Dan (Hak 17-18) dan kisah tentang perbuatan noda orang-orang Benyamin terhadap gundik seorang Lewi yang dalam perjalanan (Hak 19-21), biar pun tampak sebagai tradisi-tradisi kuno, mungkin baru belakangan ditambahkan di sini[40].
Gambaran keadaan kacau di antara suku-suku Israel pada waktu “belum ada raja” (Hak 17:6, 21:25) mau mempersiapkan pembaca atas Kitab Samuel yang menjawab kebutuhan akan seorang raja.

 

E.        Kitab Samuel

Cerita tentang masa para Hakim tidak berhenti dengan Simson, melainkan tampak mencakup juga kisah tentang Eli (bdk. 1Sam 4:18) dan Samuel (1Sam 7). Bahkan kisah tentang Saul - sebelum terjadi serah terima dengan Samuel - tetap diwarnai oleh pola kisah para hakim (1Sam 11-12). Namun demikian, dalam buku-buku pengantar Alkitab Ibrani sampai sekarang 1Sam 1-12 pada umumnya dibahas sebagai bagian integral dari Kitab Samuel. Demikian juga di bawah ini.

 

1.          Isi dan susunan kitab

Panggung kitab Samuel dikuasai oleh tiga tokoh besar: yakni Samuel, Saul dan Daud, dalam kaitan dengan munculnya monarki. Hidup mereka sebagian bersamaan waktunya, dengan akibat bahwa tradisi-tradisi tentang mereka dalam proses peredaksian kitab Samuel dipertalikan satu sama lain. Kisah-kisah tentang ketiga tokoh utama ini sebagian saling meliputi. Karena itu struktur kitab Samuel agak kompleks dan tidak selalu jelas.

1Sam 1-3   Cerita masa kanak-kanak Nabi Samuel
           4-6   Riwayat tentang Tabut Tuhan (tahap I)
           7            Samuel sebagai imam dan Hakim
8           Israel meminta seorang raja
9-11     Saul diurapi, dipilih dan diangkat
12 Wejangan/peringatan oleh Samuel
      13         Saul melanggar perintah Tuhan
      14         Kemenangan Yonathan
      15         Saul ditolak, karena menolak Tuhan
16:1-13            Daud diurapi Samuel
16-20          Daud di lingkungan istana Saul
2l-31                 Daud mengungsi ke Yehuda/Filistea

2Sam 1                   Berita ttg kematian Saul, ratapan
2-5                    Daud menjadi raja Yehuda dan Israel;      perebutan Yerusalem
             6           Tabut dipindahkan ke Yerusalem
             7           Nubuat Natan ttg dinasti Daud
8                 Kemenangan-kemenangan Daud
__________________________________________________
      9-20            Sej. penggantian Daud
                   21-24          Beberapa tambahan
      1R 1-2 Daud diganti Salomo
Samuel.  Dalam 1Sam 1-7 terkumpul sebuah koleksi kisah tentang Samuel, sebelum ia terlibat dalam masalah kerajaan. Arti tokoh ini disoroti melalui sebuah kisah masa kanak-kanak dalam bab 1-3. Di sini ia ditampilkan sebagai seorang nabi. Ia bernubuat tentang keruntuhan keluarga Eli, keruntuhan zaman yang sedang berlangsung, zaman para hakim (3:11 dst). Nubuat kecelakaan ini mesti dipandang dalam kaitan dengan sebuah nubuat keselamatan yang terdapat pada bab sebelumnya, dalam nyanyian ibunya, Hana: “Allah memberi kekuatan kepada raja yang diangkatnya, dan meninggikan tanduk kekuatan orang yang diurapinya” (2:10). Dengan kedua nubuat itu kisah masa kanak-kanak Samuel berperan sebagai pengantar atas seluruh kitab Samuel yang membicarakan peralihan dari masa para hakim ke masa raja-raja, pengangkatan dan pemerintahan raja-raja yang pertama. Setelah ditampilkan sebagai nabi (1Sam 1-3), barulah dalam 1Sam 7 Samuel ditampilkan sebagai seorang hakim (bdk khususnya ay 15-17), hakim yang terakhir.
Kisah-kisah tentang nabi sekaligus hakim Sa­muel diselingi sebuah riwayat panjang tentang Tabut Tuhan. Tabut yang mula-mula berada di Silo, tempat suci sentral suku-suku Israel, oleh mereka dibawa ke medan pertempuran melawan bang­sa Filistin, seolah-olah Tabut berkhasiat sebagai ‘maskot’ yang dapat menangkis bahaya. Daripada diperalat oleh Israel, Tuhan memilih (Tabut) jatuh ke dalam tangan orang-orang Filistin (1Sam 4). Tetapi setelah Tabut Tuhan dibawa masuk ke dalam kuil dewa Dagon di Asdod dan beberapa kali menjatuhkan patung dewa itu, dan juga dianggap menghajar orang-orang Filistin dengan borok-borok, mereka segera memindahkannya. Tetapi Tabut Tuhan tidak diizinkan oleh mereka kembali ke pusat ibadat suku-suku Israel di Silo, melainkan hanya sampai ke daerah perbatasan, ke Kiryat Yearim, tanah yang tak bertuan (1Sam 5-6).
Lingkaran kisah tentang Tabut Tuhan di sini berfungsi untuk menggambarkan secara dramatis ancaman besar dari pihak bangsa Filistin, ancaman yang menjadi-jadi semenjak hakim Jefta (Hak 10:7) dan Simson tidak berhasil mengalahkan bangsa itu. Ancaman besar itu baru dapat diatasi oleh hakim Samuel dalam 1Sam 7. Kendati pun akhirnya teratasi, namun ketakutan Israel akan musuh itu tetap merupakan faktor (sekonder) untuk meminta seorang raja (8:20).

Samuel dan Saul.  Mulai dari 1Sam 8 seluruh perhatian kisah diarahkan kepada bentuk peme­rintahan baru, yakni raja dan kerajaan. Dalam bab 8-12 dikisahkan bagaimana raja pertama dicari dan ditemukan.
Inisiatif datang dari rakyat yang meminta seorang raja seperti yang ada pada bangsa-bangsa lain. Permintaan itu dinilai sama dengan menolak Allah yang sejak dahulu telah menjadi Raja, Penyelamat dan Pengatur bangsa Israel (1Sam 8:7; diulang-ulang dalam 10:19 12:12). Namun Tuhan meluluskan permintaan rakyat dengan menyuruh Samuel untuk mencari seorang raja bagi Israel, yang memang nekad dalam permintaan mereka kendati pun sudah diberi peringatan bahwa raja akan memperbudak mereka (8:9-22).
Allah selanjutnya mengambil alih inisiatif dengan menugaskan Samuel untuk secara rahasia mengurapi Saul, pemuda yang singgah di tempatnya ketika sedang mencari keledai-keledai yang hilang (9:1-10:16). Kemudian Samuel, setelah mengulang tuduhannya bahwa Israel mengkhianati Raja Penyelamat mereka, memimpin acara pemilihan raja dengan undian sehingga pilihan Tuhan terhadap Saul menjadi publik (10:17-27). Dalam perang melawan Amon Saul memperlihatkan bahwa ia dapat menjadi penyalur penyelamatan Allah bagi bangsa Israel. Langsung sesudah itu Samuel sebagai nabi Allah mengusulkan untuk meresmikan Saul sebagai raja di tempat suci Gilgal di hadapan Allah (bab 11).
Dalam wejangan penutupan (1Sam 12) Samuel sekali lagi mengulang pandangannya yang kritis terhadap permintaan Israel, namun sekaligus menegaskan bahwa raja yang diminta dan dipilih oleh rakyat, diangkat oleh Tuhan sendiri (ay 13). Tuhan memberi Israel bentuk pemerintahan baru ini sebagai hadiah bersyarat. Monarki ini hanya akan membawa berkat, kalau raja dan bangsa “takut akan Tuhan, beribadah kepadaNya dan mendengarkan firman-Nya” (ay 14).
Mulai dari bab 13 dikisahkan masa peme­rintahan Saul. Ia sejenak berhasil dalam pepe­rangan melawan orang Filistin dan Amalek (13-15). Namun dalam kisah-kisah sukses itu sekaligus diceriterakan kegagalan raja Saul. Ia tidak mendengarkan firman Tuhan yang disampaikan kepadanya lewat nabi Samuel (13:8-14, 15:9 dst). Karena itu Saul segera ditolak Tuhan (15:23).

Samuel, Saul dan Daud.  Di sini mulailah riwayat panjang tentang Daud (1Sam 16 - 1Raj 2), kisah sentral dalam karya sejarah deuteronomistis. Dalam bagian pertama dikisahkan jalan panjang Daud menuju tahta kerajaan. Kisah pembukaan bahwa anak bungsu Daud diurapi oleh nabi Allah, disusul sebuah riwayat panjang tentang hubungan kompleks antara Saul dan Daud (1Sam 16 - 2Sam 5, dan 8).
·      Tahap pertama berlangsung dalam lingkungan istana Saul (1Sam 16-20): Daud, penghibur raja, pendekar penuh kepercayaan melawan Goliat, teman Yonatan, menantu raja, dan junjungan rakyat, menimbulkan rasa iri, curiga dan benci di dalam hati raja yang beberapa kali berusaha untuk membunuhnya.
·      Tahap berikutnya (1Sam 21 - 2Sam 1) meng­gambarkan Daud sebagai pengungsi, pemimpin gerombolan, mula-mula di daerah Yehuda, tetapi kemudian terpaksa di daerah dan bahkan dalam dinas orang Filistin (1Sam 27dst.). Tetapi selama itu Daud tetap ber­usaha menolong bangsanya sendiri dan tetap menghormati tuannya, raja Saul yang diurapi Tuhan. Ketika Saul dan anak-anaknya tewas dalam peperangan melawan orang Filistin (1Sam 30), maka Daud pun meratapinya (2Sam 1).
Sesudah itu terbukalah jalan menuju tujuan yang sejak semula direncanakan Tuhan bagi Daud. Diarahkan oleh Tuhan ke Hebron, pusat suku Yehuda, Daud diurapi oleh sukunya sendiri menjadi raja mereka (2Sam 2:4). Dan setelah raja baru Israel, Isbaal bin Saul, dibunuh oleh seorang Israel, Daud diurapi pula menjadi raja atas suku-suku Israel (5:3). Demikian terciptalah persatuan dua kerajaan di bawah satu raja. Orang-orang Filistin segera berusaha untuk menggagalkan pemer­satuan itu, tetapi mereka dikalahkan secara definitif oleh Daud.
Hubungan suku-suku utara dan selatan di bawah satu raja diperkokoh oleh Daud dengan merebut sebuah benteng orang Kanaan, yakni Yerusalem, yang letaknya sentral dan strategis, sebagai ibukota yang kokoh dan netral, yang dapat diterima oleh semua pihak. Demikianlah Daud, orang yang gagah berani dan pandai itu, akhirnya menjadi raja atas seluruh Israel. Ia berhasil karena Tuhan telah memilih, menyertai dan memberkatinya demi kepentingan umatnya (5:10,12).

Puncak kisah Daud.  2Sam 6-7 memegang tempat kunci dalam riwayat Daud, sebab merupakan puncak dari kisah tentang Daud-yang-menjadi-raja, tetapi sekaligus juga menjadi titik tolak kisah berikutnya, yakni kisah pergantian Daud.
Dengan memindahkan Tabut Perjanjian ke Yerusalem (bab 6), kota Daud, ibukota kera­jaannya, dijadikan pula sebagai pusat suku-suku Israel, tempat suci sentral mereka. Dan melalui nubuat Natan (bab 7) raja Daud diberi jaminan bahwa keturunannya akan me­me­rintah untuk selama-lamanya di Yerusalem. De­ngan semuanya itu kerajaan Daud dan dinastinya dan kota Yerusalem dikokohkan.
Namun sekaligus dimunculkan sebuah masalah yang akan mewarnai sisa Kitab Samuel: siapakah dari antara anak-anak Daud akan memerintah sesudah Daud? Masalahnya, Mikhal sang permaisuri, dikatakan tidak akan mendapat anak, setelah ia memandang rendah Daud yang menari-nari ketika memindahkan tabut Perjanjian ke Yerusalem (6:16, 20-23). Maka siapakah yang akan duduk dengan kokoh di atas takhta Daud sesudah kematiannya?

Pergantian Daud.  Itulah masalah utama yang akan menguasai kisah panjang dalam 2Sam 9 - 1Raj 2, dan yang baru akan terjawab secara definitif dalam 1Raj 2:46, “Demikianlah kerajaan itu kokoh di tangan Salomo.”
Kunci untuk memahami alur kisah pergantian Daud adalah 2Sam 11-12: ceritera tentang dosa Daud dengan Batsyeba, pembunuhan Uria dan kelahiran Salomo. Di situ nabi Natan memberi Daud perspektif yang buruk dan yang baik. Di satu pihak, karena menyesal, Daud dibebaskan dari hukuman mati, dan Batsyeba melahirkan seorang anak bagi Daud, yang namanya berarti “damai baginya” (Salom‑o), dan oleh nabi Natan diberi nama Yedid-ya, anak yang dikasihi YHWH (12:13,24-25). Nama ini merupakan isyarat awal bahwa Salomo ini ditentukan oleh Tuhan untuk mengganti Daud.
Tetapi di lain pihak, agar musuh-musuh ja­ngan menista nama Tuhan karena perbuatan Daud itu, maka Daud harus mengganti empat kali nyawa Uria (12:6-12). Anak pertama Batsyeba segera mati karena sakit. Anak berikut, Amnon, mati dibunuh oleh Absalom karena terseret oleh nafsunya terhadap adik kandung Absalom, Tamar (bab 13). Lalu berkembang tragedi antara Absalom dan Daud yang berakhir tragis: Absalom mati dibunuh oleh Joab dan hati Daud patah (bab 14-19). Sebuah pertarungan terakhir untuk mengganti Daud, pertarungan yang dimenangkan oleh partai Salomo, mengakibatkan Adonia, saingannya, mati dibunuh oleh tangan Benaya, panglima besar Salomo (1Raj 2:25).
Kisah yang tragis ini mungkin bermaksud lebih jauh daripada hanya menjawab pertanyaan “Siapakah yang akan mengganti Daud sebagai raja?” Ada pakar yang menarik kesimpulan bahwa ingin ditampilkan dua tahap dalam masa pemerintahan Daud.
·      Dalam bagian pertama digambarkan keber­hasilan Daud di bawah berkat Tuhan (bdk 2Sam 5:12)
·      Dalam bagian kedua - setelah perkara dengan Batsyeba - digambarkan hidup Daud di bawah kutukan Tuhan, kutukan yang disampaikan oleh Nabi Natan: “Malapetaka akan Kulim­pahkan atasmu yang datang dari keluargamu sendiri” (2Sam 12:11).
2Sam dapat dipandang sebagai sebuah lukisan yang lipat dua: Daud yang diberkati, sekaligus berdampingan dengan Daud yang dikutuki.

Lampiran atau kesimpulan.  Seperti yang sudah dikatakan, kitab Samuel diakhiri dengan beberapa tambahan atau lampiran:
·      beberapa kisah tentang bencana-bencana yang menimpa negeri (A),
·      daftar tindakan-tindakan kepahlawanan Daud, (B), dan
·      beberapa nyanyian / perkataan Daud  pada 2Sam 21-24 (C).
Perhatikan susunan konsentris: A, B, C, C’, B’, A’: bagian intinya merupakan sebuah nyanyian dan suatu perkataan Daud (22:1-23:7), yang dibingkai oleh dua daftar, dan dibingkai lagi oleh dua kisah.
Sebuah ayat kunci untuk keseluruhan kitab Samuel adalah 2Sam 22:51. Ayat ini mengacu kembali kepada nyanyian Hana, 1Sam 2:10. Nubuat Hana tentang raja kini sudah digenapi, terlaksana dalam diri Daud dan keturunannya! Kendatipun Daud berdosa dan ditimpa malapetaka yang datang dari keluarganya sendiri, namun nubuat Natan (2Sam 7) ternyata tidak dibatalkan, melainkan tetap berlaku sebagai “suatu Perjanjian kekal” (2Sam 23:5).

2.         Proses penyusunan kitab

Kitab ini disusun dari beberapa lingkaran kisah yang mula-mula lepas satu sama lain: a.l. lingkaran kisah tentang tabut, tentang Saul, tentang tampilnya Daud, tentang hal-ihwal sekitar istana Daud (khususnya pemberontakan Absolom). Di dalam lingkaran-lingkaran kisah itu terkumpul tradisi-tradisi lisan yang lebih kuno lagi.

Kebanyakan peneliti sepakat bahwa sebagian lingkaran-lingkaran kisah itu sudah digabungkan dalam sebuah kitab tentang Samuel, Saul dan Daud sebelum bahan itu dipakai oleh pengarang sejarah deutero­nomistis. Kitab itu barangkali disusun di kalangan nabi-nabi yang mengung­kapkan visi mereka tentang kerajaan dan raja melalui wakil mereka, nabi Samuel dan Natan. Umumnya diandaikan bahwa kitab dari kalangan nabi itu telah mencakup kisah tentang masa kanak-kanak Samuel (1Sam 1-3), tentang jalan sukses Daud menuju tahta (1Sam 16 - 2Sam 5) dan tentang kemelut dalam istana Daud (2Sam 9 - 1Raj 2). Ada perbedaan pendapat apakah kisah tentang tabut (1Sam 4-6, 2Sam 6) sudah termasuk juga; dan berapa banyak dari kisah tentang hakim Samuel dan pelantikan raja Saul (1Sam 7-12) dan dari nubuat Natan (2Sam 7) sudah termuat[41]. Menurut Mayes, kitab dari kalangan nabi ini baru memuat sebagian dari bahan itu saja (1Sam 7:15-8:3, 9:1-10:16, 13-15). Teks-teks ini menggam­barkan Samuel sebagai hakim dan nabi yang mengurapi dan kemudian menolak Saul.
Pengarang sejarah deuteronomistis mema­suk­kan kitab yang sudah tersedia itu ke dalam karyanya yang besar tentang enam abad sejarah Israel. Para peneliti agak berbeda pendapat tentang banyaknya tambahan oleh pengarang itu. Menurut banyak peneliti ia hanya mengedit kembali kitab dari kalangan nabi yang sudah cukup lengkap dan juga mudah diterima olehnya[42], dan hanya menambah sesuatu yang substansial dalam wejangan Samuel (1Sam 12) dan dalam nubuat Natan (2Sam 7).
Tetapi menurut Mayes pengarang ini menam­bah banyak:
·      memasukkan kisah perampasan tabut (1Sam 4-6) dengan maksud untuk mengilustrasikan akibat kemerosotan ibadat di bawah anak-anak Eli (1Sam 2);
·      memasukkan juga kisah perpindahan tabut ke Yerusalem (2Sam 6) untuk menegaskan bahwa Allah melalui tabutnya kembali hadir di tengah Israel pada masa pemerintahan wangsa Daud[43];
·      menambahkan pula gambaran Samuel sebagai hakim dan penyelamat (1Sam 7), dan sebuah tradisi tentang Saul sebagai penyelamat (11).
Pengarang tersebut mau menampilkan Samuel dan Saul sebagai orang yang masih meneruskan masa para hakim-penyelamat.
Pengarang sejarah deuteronomistis - menurut Mayes - menerima institusi kerajaan dan raja yang ditunjuk Allah, tetapi hanya sejauh menyangkut wang­sa Daud yang menerima janji Allah untuk selama-lamanya. Pengarang meredaksikan kembali nubuat Natan, untuk menekankan kelangsungan dinasti Daud untuk selama-lamanya (2Sam 7:16,18-21,25-29). Pan­dangannya tentang wangsa Daud sebagai raja-raja yang ditunjuk Allah, menyebabkan dia kurang menghargai raja Saul yang dipandang sebagai hakim-penyelamat lebih daripada sebagai raja.

Editor deuteronomistis kemudian memasuk­kan tema-temanya sendiri, khususnya dalam 1Sam 12. Ia menurut Mayes secara prinsipial anti kerajaan. Menurutnya, Israel berdosa dengan meminta seorang raja, sebab hal itu bertentangan dengan peranan Allah sebagai Raja (1Sam 7:3i, 8:6b-10, 10:18i, 12:1-25)[44]. Dalam nubuat Natan ia memindahkan tekanan dari tokoh raja kepada kesejahteraan bangsa (2Sam 7:10-11a, 22-24)[45]. Bagi bangsa, kendati pun harus menjalani hukuman akibat dosa mereka, tetap ada harapan kalau mereka berpegang pada hukum Allah.

Aneka ragam bahan yang berkaitan dengan Daud dalam 2Sam 21-24, mungkin merupakan tambahan pasca deuteronomistis; disisipkan pada akhir kisah Daud sebelum ditutup dengan berita kematiannya (1Raj 2:10ii). Sama seperti sudah kita lihat juga terjadi pada bagian akhir kitab Ulangan dan Yosua, sebelum berita kematian Musa dan Yosua[46].

F.         Kitab Raja-raja


Kitab 1 & 2 Raja-Raja merupakan karya yang ter­diri dari tiga bagian utama:
·      riwayat raja Salomo (1Raj 1-11);
·      riwayat raja-raja Israel dan Yehuda sampai kerajaan utara runtuh (1Raj 12 - 2Raj 17)[47];
·      sisa riwayat kerajaan Yehuda sampai runtuhnya kota Yerusalem (2Raj 18-25).
Bagian pertama dan kedua secara jelas dibulatkan dengan suatu refleksi teologis, bagian ketiga tidak.

1.          Riwayat pemerintahan Salomo

Riwayat Salomo mulai dengan apa yang lebih tepat disebut bagian penutup Sejarah Pergantian Daud: Siapa yang akan duduk di atas takhta sesudah Daud (1Raj 1:20-27)? Daud akhirnya menunjukkan Salomo, anak Batsyeba (1:30), anak yang sejak semula sudah dika­takan “dikasihi Tuhan” (Yedidya, 1Sam 12:24-25). Setelah Daud meninggal, Salomo menumpas saing­annya, Adonia dan partainya (1Raj 2:25,34,46), sampai kerajaan itu kokoh di tangannya.
Susunan kisah selanjutnya (bab 3-11) ditentukan oleh dua berita penampakan Tuhan:[48]
·      Dalam berita teofani yang pertama (3:4-15) Salomo digambarkan sebagai raja saleh yang dengan rendah hati meminta “hati yang peka” (ay 9); lalu diberi hikmat dan pengertian, dan selain itu juga kekayaan dan kemuliaan. Dalam kisah selanjutnya (3:16-4:34) hikmat dan kemuliaan / kekayaan Salomo digambarkan secara kongkrit dalam tindakannya sebagai hakim, administrator, dan guru kebijaksanaan.
Dalam bab-bab berikut (5-8) kesalehan, hikmat dan kekayaannya mendapat ekspresi tertinggi dalam proyek pembangunan Bait Allah yang merupakan pusat dan puncak seluruh riwayat Salomo. Raja dilukiskan tak hanya sebagai pendiri bangunan Bait Allah tetapi juga sebagai perintis ibadat Bait Allah (bab 8).

     1-2  Daud diganti Salomo
     3  Penampakan I: Janji hikmat maupun kekayaan/ kemuliaan
     3:16-4:34      Hikmat dan kemuliaan Salomo
               5-8     Salomo mendirikan Bait Allah & memprakarsai ibadat
     9   Penampakan II: peringatan tentang ibadat berhala dengan akibatnya
     9:10-10:29         Kemuliaan dan hikmat Salomo
               11           Salomo mendirikan bukit pengorbanan bagi dewa-dewa; dan hukumannya
·      Dalam berita teofani yang kedua (9:1-9), yang langsung menyusul kisah pembangunan dan pentahbisan Bait Allah, disinggung kemungkinan bahwa Salomo akan murtad dan beribadat kepada allah lain. Hukumannya akan dahsyat: pembuangan dari negeri dan kehancuran Bait Allah (9:6-9). Dalam sisa bab 9 dan bab 10 dilukiskan sekali lagi kemuliaan dan kekayaan Salomo, dengan masih menyinggung juga hikmatnya (10:4-8,23-24).

Baru dalam bab 11 kemungkinan murtadnya Salomo mulai nyata: waktu Salomo sudah tua, isteri-isteri asing mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain dan ia mendirikan bukit pengor­banan bagi mereka (ay 1-8). Kontras dengan bab 5-8 sangat tajam.
Seharusnya ancaman yang disampaikan dalam teofani kedua mulai berlaku; tetapi karena Daud dan Yerusalem ancaman itu diringankan dan pe­lak­sanaannya ditunda sampai sesudah kematian Salomo (ay 9-13). Kendati pun demikian, selama hidup Salomo bayangan malapetaka itu sudah mulai tampak:
·      bangsa Edom dan Aram mele­paskan diri dari “Israel Raya” (ay 14-25);
·      juga Yerobeam, menteri tenaga kerja rodi, memberontak (ay 26). Biarpun kini belum berhasil (ay 40), sukses Yerobeam di masa depan dijamin oleh nubuat Ahia, nabi yang membulatkan riwayat Salomo dengan memberikan suatu evaluasi ala Ulangan (ay 29-39).

2.         Raja-Raja Israel dan Yehuda

Setelah memberi perhatian yang besar dan mendalam kepada seabad sejarah Samuel, Saul, Daud dan Salomo (1Sam - 2Raj 11), KSDtr dengan lebih cepat menyelesaikan sisa sejarah kerajaan Israel dan Yehuda. Tak kurang dari tiga setengah abad sejarah kerajaan dilaporkan dalam satu setengah kitab saja, yang dengan tepat disebut kisah raja-raja Israel dan Yehuda, sebab kerangkanya atau tulang punggungnya ialah rangkaian kronik singkat semua raja yang pernah menduduki tahta di Israel atau Yehuda.

Kronik-kronik singkat tentang masing-masing raja Israel dan Yehuda disusun menurut pola yang kurang lebih sama:
1.    Data kronologis (bdk. misalnya 1Raj 15:1-2, 9-10,25):
a)    Dalam tahun ke ..............
b)   zaman ................, raja Israel / Yehuda,
c)    .......... menjadi raja atas Yehuda / Israel.
d)   Ia memerintah ............. tahun lamanya”.
2.    Penilaian pemerintahan raja dari sudut pandangan agama / ibadat (misalnya 15:3, 11-15, 26).
3.    Selebihnya tentang riwayat dan tindakan raja tersebut dapat dicari dalam “kitab sejarah raja-raja Israel / Yehuda” (15:7,23,31).
4.    Untuk raja-raja Yehuda ada catatan tentang kematian dan penguburan raja dan tentang penggantinya (15:8,24).
Yang paling disoroti oleh aliran Deuteronomistis dalam berita pemerintahan masing-masing raja ialah sikapnya dalam hal agama. Selain penilaian dari sudut itu, pengarang hampir tidak memberikan informasi tentang pemerintahan raja ybs; paling-paling hanya satu dua ayat saja misalnya tentang peperangan (15:6), kudeta (15:27 dst), atau pendirian sebuah ibukota yang baru (16:24). Hal ini menunjukkan bahwa kitab ini tidak dimaksudkan sebagai karangan sejarah yang biasa.
Namun beberapa kali kronik ringkas tentang raja-raja meluas. Di tengah kronik disisipkan cerita-cerita tentang peristiwa-peristiwa yang penting bagi pengarang, ada kalanya disertai evaluasi. Perluasan seperti itu terdapat pada titik-titik balik dalam sejarah Israel dan Yehuda. Cerita-cerita tambahan itu selalu juga menampilkan seorang atau beberapa orang nabi yang mema­inkan peranan yang menentukan pada saat-saat itu.

1Raj 12-14  Pecahnya kerajaan (nabi Ahia)

1Raj 15-16
Dari raja Abiam
sampai Ahab

1R 17-2R 11 nabi Elia,Elisa, Kudeta r.Yehu

2Raj 12-16
Dari raja Yoas
sampai Ahas

2Raj 17 Keruntuhan kerajaan Israel


 2Raj 18-20  Raja Hizkia dan nabi Yesaya

2Raj 21
raja Manasye
dan Amon

2Raj 22-23  Pembaharuan oleh raja Yosia

2Raj 23-24
Dari raja Yoahas
sampai Zedekia

25  Runtuhnya kerajaan Yehuda.




Peristiwa pertama yang sangat menentukan untuk sejarah kerajaan ialah pecahnya kerajaan setelah kematian Salomo. Berkaitan dengan peristiwa ini dikumpulkan aneka ragam cerita yang disisipkan dalam riwayat raja Rehabeam dan Yerobeam.
·      Pertama-tama disajikan kisah sejarah tentang sikap keras dan gegabah raja Rehabeam, anak Salomo, yang menyebabkan suku-suku utara memisahkan diri dari wangsa Daud (1Raj 12:1-20).
·      Kemudian disajikan berita tentang dosa Yerobeam: anak sapi emas didirikan oleh Yerobeam di Dan maupun di Betel (12:26-32).
·      Selain itu ada tiga kisah nabi: 12:21-24, 13, 14:1-16. Kisah terakhir menampilkan nabi Ahia yang dulu telah membawa nubuat keselamatan kepada Yerobeam, bahwa ia akan mendapat sepuluh bagian dari kerajaan Salomo (1Raj 11:29-39). Nubuat itu sudah terpenuhi. Tetapi sekarang, setelah Yerobeam mendirikan anak-anak sapi itu, nabi Ahia disuruh membawa nubuat kecelakaan, bahwa Tuhan akan mendatangkan malapetaka kepada keluarga Yerobeam. Nubuat inipun akan segera digenapi (15:29-30).

Kumpulan kisah berikut, yang paling luas dalam kitab Raja-Raja (1Raj 17 - 2Raj 10), menyangkut bentrokan keras antara beberapa raja Israel dengan beberapa nabi Tuhan yang ternama. Di tengah riwayat-riwayat pemerintahan raja Ahab, Ahazia dan Yoram (wangsa Omri yang sinkretistis!) disisipkan pelbagai cerita tentang nabi-nabi yang memperjuangkan kesetiaan bangsa kepada YHWH, Allah Israel: selain kedua lingkaran cerita yang panjang tentang nabi Elia (1Raj 17-19,21, 2Raj 1) dan nabi Elisa (2Raj 2-9) ada pula beberapa cerita tentang nabi-nabi lain (1Raj 20:13 dst, 35 dst, 22:1-28). Kisah tentang revolusi Yehu dalam 2Raj 9-10 harus dibaca dalam kaitan dengan cerita nabi-nabi itu, sebab merupakan perwujudan dari nubuat mereka (9:25-26, 10:10,17). Sesuai dengan firman Tuhan yang diucapkan Elia, Yehu membunuh keturunan raja Omri, wangsa para penyembah Baal.[49]

Peristiwa terakhir yang penting bagi kerajaan utara ialah kehancurannya di tangan Asyur. Penghancuran itu sendiri diceritakan dengan singkat sekali (2Raj 17, hanya ay 3-6), tetapi disusul dengan suatu uraian teologis yang panjang, yang menyajikan pandangan tentang sebab-sebab malapetaka itu (ay 7-23). Kehancuran kerajaan utara diartikan sebagai akibat dosa Israel (ay 7) yang meneruskan bermacam-macam bentuk ibadat yang tidak sah (ay 8-12, 16-17). Kendati diberi peringatan oleh nabi-nabi (ay 13), Israel terus menolak Perjanjian Allah (ay 15). Akar semuanya itu ialah dosa Yerobeam (ay 21-22) yang merupakan sebab yang terdalam bahwa Israel ditolak dan akhirnya dibuang ke Asyur (ay 18-20,23).

3.         Sisa Kerajaan Yehuda

Bagian ketiga dan terakhir kitab Raja-Raja membicarakan sisa sejarah kerajaan Yehuda, yang berlangsung hampir satu setengah abad lagi, dari raja Hizkia (715-687) sampai dengan Pem­buangan ke Babel (587). Ketiga momen yang paling disoroti dalam bagian kitab ini adalah:
·      penyelamatan kota Yerusalem pada masa pemerintahan Hizkia,
·      reformasi yang dijalankan oleh raja Yosia, 
·      runtuhnya kerajaan Yehuda di tangan Babel.
Dalam kronik tentang raja Hizkia disisipkan sebuah kumpulan kisah tentang pengepungan Yerusalem oleh raja Asyur, penyelamatan kota secara ajaib, sakit dan sembuhnya raja Hizkia, dan peranan nabi Yesaya dalam semua peristiwa itu (2Raj 18:13-20:19; kisah ini dimuat juga dalam kitab Yesaya, bab 36-39).
Perluasan kisah yang berikut adalah berita tentang penemuan kitab Taurat (inti kitab Ulangan) dalam Bait Allah dan usaha pembaharuan sesuai dengan ketetapan kitab Taurat itu (2Raj 22:3-23:27). Kisah itu disisipkan dalam riwayat Yosia, raja yang menjalankan pembaharuan tsb. Kisah ini memegang tempat kunci dalam keseluruhan sejarah yang disajikan dalam kitab Raja-Raja. Sebab pembaharuan Yosia membalikkan semua penyelewengan ibadat yang telah terjadi sepanjang sejarah raja-raja itu, mulai dari raja Salomo (bdk 2Raj 23:5,11,12,13,15,19).
Kitab Raja-Raja berakhir dengan berita tentang runtuhnya kerajaan Yehuda. Kejadian-kejadian yang tragis itu, penghancuran kota, pembakaran Bait Allah, berakhirnyas dinasti Daud, dan pembuangan ribuan penduduk ke Babel, dibe­ritakan dengan relatif singkat tanpa dramatisasi. Juga tidak ditambah interpretasi teologis seperti sebelumnya dalam 1Raj 11 dan 2Raj 17. Setelah malapetaka terjadi, minat utama bukan lagi memberi peringatan dan teguran, tetapi mem­bang­kitkan kembali sedikit pengharapan. Mena­rik, bahwa kitab berakhir dengan berita singkat bahwa ‑ setelah puluhan tahun ‑ raja Yoyakhin dikasihani oleh raja Babel (25:27-30).

4.         Proses penyusunan kitab

Berbeda dengan kasus kitab Yosua, Hakim dan Samuel, dalam kasus kitab Raja-Raja belum tersedia semacam kitab yang dapat digunakan dan dimasukkan oleh kalangan deuteronomistis ke dalam karya sejarah mereka yang besar. Yang sudah ada ialah beberapa macam sumber yang penting.
·      Pertama, Kitab Riwayat Salomo (1Raj 11:41), Kitab Sejarah Raja-Raja Israel (1Raj 14:29, dst) dan Kitab Sejarah Raja-Raja Yehuda (15:7, dst).
·      Kedua, tersedia pula koleksi kisah-kisah tentang nabi Elia dan Elisa, dan tentang nabi-nabi lain yang berperan dalam sejarah pergantian raja-raja Israel (bdk 1Raj 11, 12, 14, 22, 2Raj 9-10).
·      Ada pula arsip Bait Allah, cerita-cerita rakyat, dst.

Bahan-bahan dari sumber-sumber tsb., ditambah dengan aneka ragam tradisi lainnya tentang para raja dan nabi, baru untuk pertama kali menjadi sebuah kitab Raja-Raja ketika diolah oleh pengarang sejarah deuteronomistis. Dalam kitab Raja-Raja dapat ditunjukkan dengan cukup jelas bahwa pengarang itu menyusun sejarahnya pada masa raja Yosia. Beberapa indikasi dapat diberikan:
·      Rumusan pernilaian tentang keempat raja Yehuda yang menyusul Yosia agak berbeda bila dibandingkan dengan rumusan pernilaian tentang raja-raja yang sebelumnya.
·      Juga kerangka riwayat keempat raja yang terakhir itu dirumuskan lebih uniform dan kaku daripada pada raja-raja sebelumnya.
Dari situ disimpulkan bahwa bagian terakhir  2Raja-Raja merupakan tambahan kemudian oleh orang lain, yakni editor deuteronomistis pada masa Pembuangan[50].
Pengarang sejarah deuteronomistis selalu menilai raja-raja Israel dan Yehuda dengan menempatkan mereka dalam konteks sejarah yang lebih luas. Rumusannya berbunyi
·      “ia melakukan apa yang benar di mata YHWH seperti Daud, bapa leluhurnya” (1Raj 15:11, 2Raj 18:3, 22:2), atau
·      “Ia melakukan apa yang jahat di mata YHWH, serta hidup menurut tingkah laku ayahnya/ Yerobeam; dan menurut dosanya yang mengakibatkan Israel berdosa pula”[51].

Dari dua rumusan itu tampaklah kedua tema utama sejarah raja-raja[52]. Di satu pihak dikisahkan bahwa dosa Yerobeam (1Raj 12:26-33) diteruskan oleh semua raja Israel. Hal itu mencondongkan Israel kepada penyembahan berhala dan ‑ sebagai akibatnya ‑ membawa keruntuhan (2Raj 17), seperti dinubuatkan oleh banyak nabi[53].
Di lain pihak ada kenangan akan Daud, raja benar yang telah memprakarsai tempat suci sentral di Yerusalem. Ia serupa Musa (keduanya disebut “hambaku”); ia dijadikan tolok ukur untuk semua raja Yehuda yang selanjutnya. Biarpun kebanyakan raja Yehuda tidak memenuhi standard itu, Daud pula menjadi dasar harapan Yehuda karena ia telah menerima janji dari YHWH tentang kelanjutan dinastinya untuk selama-lamanya (2Sam 7). Kebenaran Daud serta janji YHWH kepadanya menjamin bahwa YHWH selalu akan memberi anugerah kepada Yehuda, sebagaimana tampak dari refren: “oleh karena hambaku Daud dan oleh karena Yerusalem yang telah kupilih”[54].
Dari situ dan lebih lagi dari bagian penutup sejarahnya menjadi jelas bahwa pengarang ini mempunyai pandangan positip tentang monarki Daud. Karangan sejarahnya memuncak dan berakhir dengan raja Yosia yang adalah pengganti Daud yang tanpa cela sebab mengadakan pembaharuan perjanjian, dan reformasi ibadat di Yerusalem, Yehuda dan Israel, sesuai dengan hukum yang diberikan Musa (2Raj 23:4-20).

Editor deuteronomistis pada masa Pem­buangan melengkapi karya sejarah ini dengan menambah riwayat beberapa raja terakhir yang telah menyeret Yehuda ke dalam malapetaka pembuangan (2Raj 23:26 - 25:30). Karena catatannya yang terakhir menyangkut pembe­basan Raja Yoyakhin di Babel pada thn 561SM, umumnya diandaikan bahwa editor itu bekerja sekitar waktu itu. Pernilaiannya tentang keempat raja terakhir Yehuda adalah uniform negatif: “Ia melakukan apa yang jahat di mata YHWH tepat seperti yang dilakukan nenek moyangnya/ ayahnya”[55].
Akhir sejarah kerajaan Yehuda menyebabkan bahwa pandangan editor terhadap monarki menjadi negatif sebab akhirnya tidak membawa keselamatan untuk bangsa. Ia mengedit kembali seluruh sejarah kerajaan Yehuda. Dengan mengadakan sejumlah tambahan ia menjelaskan mengapa harapan yang dibangkitkan oleh sejarah sebelumnya tidak terpenuhi dan akhirnya malapetaka itu terjadi. Biang keladi utama adalah raja Manasye, nenek Yosia, yang pernah menempatkan patung Asyera dalam Bait Allah; lalu Allah dengan perantaraan nabinya sudah membe­ritahukan malapetaka untuk Yerusalem dan Yehuda (21:7-15). Segala usaha pembaharuan raja Yosia tidak lagi dapat mencegah malapetaka itu, hanya menundanya (22:18ii, 23:26i).
Dengan tambahan-tambahan senada dalam seluruh kitab Raja-Raja[56] dan dalam kitab-kitab sebelumnya[57] editor menjelaskan dan mene­kankan bahwa malapetaka itu menimpa Yehuda karena mereka tidak setia kepada hukum perjanjian. Juga wangsa Daud tidak me­nunjukkan kesetiaan itu, sehingga akhirnya membawa bangsa kepada keruntuhan. Akan tetapi penje­lasan yang keras itu disertai pemberian sedikit pengharapan, a.l. melalui berita baik tentang pembebasan rajaYoyakhin[58].


KEPUSTAKAAN

Brueggemann, W., 1968, "The Kerygma of the Deuteronomistic Historian," Interpretation 22:387-402.
Cross, F.M., 1973, Canaanite Myth and Hebrew Epic: Essay in the History of the Religion of Israel, Cambridge, MA: Harvard U.P., p.217-90.
Fretheim, T., 1983, Deuteronomistic History, IBT, Nashville: Abingdon.
Gerbrandt, G.E., 1986, Kingship according to the Deuteronomistic History, SBLDS, Atlanta: Scholars Pr., 229p.
Mayes, A.D.H., 1983, The Story of Israel between Settlement and Exile: A Redactoinal Study of the Deuteronomistic History, London: SCM.
Nelson, R.D., 1981, The Double Redaction of the Deuteronomic History, JSOTSup 18, Sheffield: JSOT Pr.
Noth, M., 1981, The Deuteronomistic History, JSOTSup 15, Sheffield: JSOT Pr. (Ueberlieferungsgeschichtliche Studien, Halle, 1943).
Peckham, J.B., 1985, The Composition of the Deutero­nomistic History, Harvard Semitic Monographs 35, Atlanta: Scholars Pr.
Wolff, H.W., 1975, "The Kerygma of the Deute­ronomic Historical Work," The Vitality of Old Testament Traditions, ed. W.Brueggemann and H.W.Wolff, Atlanta: Knox.


PERTANYAAN-PERTANYAAN
1.   Dalam Alkitab Kristen-Katolik, Taurat disusul oleh kelompok kitab sejarah yang mana? Je­las­kan per­bedaannya dengan pengelompokan dalam Alkitab Ibrani?
2.   Apa yang mendukung kesan bahwa Yosua, Hakim-Hakim, Samuel dan Raja-Raja adalah kitab-kitab yang masing-masing berdiri sendiri?
3.   Bagaimana batas-batas antar kitab dan struktur keseluruhan kisah memperkuat kesan bahwa kitab-kitab Yosua sampai Raja-Raja merupakan suatu kesatuan? Apakah kisah panjang ini pantas disebut karya sejarah?
4.   Bagaimana pandangan Martin Noth tentang kesatuan dan peredaksian Kitab Yosua s/d Raja-Raja?
5.   Bagaimana pandangan F.M.Cross dkk. Ten­tang kesatuan dan proses penyusunan Karya Sejarah Deuteronomistis (KSDtr)?
6.   Bagaimana Mayes menyimpulkan benang merah serta pandangan pokok dari KSDtr edisi pertama, yang disusun oleh 'pengarang' deuteronomistis?
7.   Tunjukkan bagaimana seorang 'editor' pada masa pembuangan mengartikan kembali KSDtr tersebut! Apa tandanya bahwa editor itu tetap menyimpan harapan bagi Israel?
8.   Kitab Ulangan
a)   Bagaimana susunan Kitab Ulangan? Apa isi pokok setiap bagian?
b)   Bagaimanakah tahap-tahap perkembangan kitab Ulangan menurut penelitian sekarang ini?
9.   Kitab Yosua
a)   Bagaimana susunan kitab Yosua secara garis besar? Apa isi pokok setiap bagian?
b)   Tradisi-tradisi kuno mana tersimpan dalam kitab ini?
c)    Apa yang dilakukan pengarang deuteronomistis dengan kisah Yosua yang kuno? Apa yang ditekankannya?
d)   Apa yang menjadi tekanan baru dalam re-edisi kitab Yosua pada masa Pembuangan?
10. Kitab Hakim-Hakim
a)     Bagaimana susunan kitab Hakim-Hakim? Apa isi pokok setiap bagian?
b)     Bagaimana proses penyusunan kitab ini menurut penelitian sekarang?
11. Kitab Samuel
a)     Manakah bagian-bagian utama Kitab Samuel? Apa isi pokok dari masing-masing bagian itu?
b)     Bagaimana Mayes melihat proses perkem­bangan kitab Samuel, dan pandangan khas masing-masing tahap perkembangan itu?
12. Kitab Raja-Raja
a)   Bagaimana susunan kisah tentang raja Salomo?
b)   Apa isi utama dari bagian kedua kitab Raja-Raja (1Raj 12 - 2Raj 17)? Manakah ketiga mo­men yang dikisahkan secara lebih leluasa?
c)    Apa isi bagian terakhir kitab ini? Manakah ketiga momen terpenting dalam bagian kitab ini?
d)   Dari sumber dan bahan macam apakah pengarang KSDtr menyusun kitab Raja-Raja? Apa visi pengarang tersebut? Apa bedanya dengan visi editor yang kemudian?




[1]     Bagian pertama ini diambil dari manuskrip Prof. Dr. M. Harun atas ijin beliau. Di dalamnya disajikan secara komprehensif berbagai pandangan sehubungan dengan redaksi kitab-kitab yang masuk dalam kategori Karya Sejarah Deuteronomistis, serta memberi gambaran umum tentang masing-masing kitab dan proses peredaksiannya.
[2]     M. Harun, “Memahami Kitab-Kitab Makabe”, Forum Biblika 2 (1992) 36-54; J. Collins,1990,  Makabe I dan II. Terj. B.Carvallo dan M.Harun LBI, Yogyakarta: Kanisius.
[3]     H. van den Brink, 1981,  Rut dan Ester, TA, terj. P.S.Naipospos Jakarta: BPK Gunung Mulia; J. Craghan, & J. Kodel, 1990,  Tobit, Yudit, Barukh  disadur oleh St.Darmawijaya LBI, Yogyakarta: Kanisius.
[4]     Dalam Alkitab Ibrani Tawarikh-Ezra-Nehemia, dan Rut-Ester tidak ditempatkan berdekatan dengan Kitab Raja-Raja, melainkan dimasukkan dalam bagian terakhir Alkitab, yakni bagian Kitab-Kitab (yang lain, ketubim). Bahkan masuk dalam kelompok itu, juga kitab Daniel. Sedangkan, Tobit, Yudit dan I&II Makabe (Deuterokanonika) tentu tidak ada dalam Alkitab Ibrani, tetapi hanya dalam Alkitab Yunani.
[5]     Uraian pengantar tentang Nabi-Nabi yang terdahulu dapat ditemukan pula dalam S.Wismoady Wahono, Di Sini Kutemukan, 115-152; C.Groenen, Pengantar ke dalam PL, 122-143; E.Charpentier, Bagaimana Membaca PL, 43-81.
[6]     Tetapi batas antara kedua kitab ini pun menjadi kabur kalau diperhatikan Hak 1 yang memberi suatu versi alter­natif tentang perebutan tanah terjanji, dan dengan demi­kian merupakan ‘pendobelan’ dari kitab Yosua.
[7]     Demikian juga dalam terjemahan Latin, Vulgata, yang menyebutnya 1-4 Reges; perbedaan nama itu penting untuk diperhatikan kalau memakai Septuaginta dan Vulgata.
[8]     J. Wellhausen, 1883, Prolegomena menyelidiki unsur-unsur tradisi yang membentuk Kitab Taurat dan menemukan empat sumber, yakni Yahwis, Elohis, Deuteronomis dan Para Imam.
[9]     Bdk. M. Noth, 1981, The Deuteronomic History, JSOTSup 15; Sheffield: JSOT Pr. Terjemahan; aslinya 1943. Kata “deuteronomistis” mengacu pada kitab Ulangan. Kata “de­uteronomistis” mengacu pada kelompok pembaharu agama atas dasar kitab Ulangan. Dalam kenyataan tidak amat mudah membedakan keduanya.
[10]    Bdk. Yos 1, 12, 23, Hak 2:11ii, 1Sam 12, 1Raj 8:14ii, 2Raj 17:7ii.
[11]    F.M. Cross, 1993, Canaanite Myth and Hebrew Epic Cambridge, MA: Oxford UP pp.276ii. Kekuatan dan sekaligus kelemahan karya Cross ialah bahwa hipotesisnya terutama didasarkan pada pendekatan tematis, dan kurang dilandaskan pada penelitian literer. Namun hal itu dilengkapi oleh orang-orang lain seperti misalnya H.Weippert (Die ‘deuteronomistischen’ Beurteilung der Könige von Israel und Juda und das Problem der Redaktion der Königsbuecher, Bib 53 (1972) 301-339 dan R.D.Nelson, 1981, The Double Redaction of the Deuteronomistic History, JSOT Suplement Series 18, Sheffield: JSOT Pr.
[12]    Bdk. A.D.H. Mayes, 1983,   The Story of Israel between Settlement and Exile, A Redactional Study of the Deuteronomistic History, London: SCM.
[13]    Pengarang ini mencerminkan suatu tradisi, tradisi Deuteronomis, yang sering dianggap berakar dalam Kerajaan Utara, sebab beberapa undang-undang Deuteronomis lebih cocok dengan keadaan kerajaan Israel daripada keadaan kerajaan Yehuda. Pandangan Deuteronomis juga terasa dekat dengan pandangan Hosea, nabi Kerajaan Utara pada abad ke-8. Setelah jatuhnya Kerajaan Utara (722) tradisi Deuteronomis itu kiranya dibawa ke Yehuda dan Yerusalem. Di situ para penganutnya diperkirakan mendorong pembaharuan ibadat yang sekitar tahun 700 dilancarkan oleh raja Hizkia. Mereka didiamkan pada masa kelaliman raja Manase, tetapi sesudah itu mereka kembali menjadi penggerak penting dalam usaha pembaharuan yang dijalankan oleh raja Yosia.
[14]    2Raj 25:27-30 mengakhiri edisi KSDtr ini dengan berita yang memberi pengharapan, yakni pelepasan raja Yoya­kin dari penjara di Babel.
[15]    Nabi-nabi memberitahukan rencana Tuhan kepada raja-raja, dan pelaksanaan nubuat itu kemudian secara eksplisit diceriterakan. Bdk 2Sam 7:13 dengan 1Raj 8:20; 1Raj 11:29-39 dengan 12:15; 1Raj 13 dengan 2Raj 23:15-18; 1Raj 14:7-11 dengan 15:29; 16:1-4 dengan 16:12;1Raj 21:21-19 dan 2Raj 9:7-10 dengan 10:17; 1Raj 22:17 dengan 22:35-36; 2Raj 1:6 dengan 1:17; 20:17 dengan 24:13; 21:10-15 dengan 24:2; 22:15-17 dengan 24:20; 22:18-20 dengan 23:30.
[16]    Kitab Ulangan sering disebut “pusat Alkitab Ibrani”, karena pengaruhnya ditemukan dalam banyak kitab, bukan hanya dalam KSDtr. Di antara “Nabi-Nabi Yang Kemudian” Kitab Yeremia menunjukkan kontak intensif dengan Ulangan. Kitab Keluaran menunjukkan sejumlah sisipan deuteronomistis (misalnya 12:24-27, 19:3-6). Ada kontak juga antara Ulangan dan tradisi kebijaksanaan. Karena itu kitab Ulangan merupakan sebuah titik tolak yang baik untuk tafsir Alkitab Ibrani.
[17]    Uraian tentang tema Perjanjian yang sangat sentral dalam kitab Ulangan, akan diberikan dengan perhatian khusus untuk Ul 4 dan 26-30.
[18]    I.J.Cairns, 1986, Tafsiran Ulangan,II, Jakarta: BPK, 2-7.
[19]    J.Wellhausen, 1894, Die Composition des Hexateuch, 203-5.
[20]    Rumusan sentralisasi juga masih muncul dalam kaitan dengan pengadilan tertinggi (17:8ii), dan penghidupan orang-orang Lewi (18:6ii).
[21]    G.Braulik, “Die Abfolge der Gesetze in Dtn 12‑26,” in: N.Lohfink, 1985, Das Deuteronomium: Entstehung, Gestalt und Botschaft, Leuven: Peeters, 252-71. Ia meneruskan penelitian F.Schultz (1895), A.Guilding (1948), dan terutama S.A.Kaufman, “The Structure of the Deuteronomic Law,” Maarav 1/2(1978/79)105-158.
[22]    A.l. membingkai wejangan pendahuluan (Ul 5:1 dan Ul 11:32) dan Undang-Undang Ulangan (Ul 12:1 dan 26:16).
[23]    Mazmur yang sejiwa dengan nubuat Yeremia dan Deutero-Yesaya, agaknya berasal dari sekitar masa pembuangan (abad ke-6SM), sedangkan ucapan-ucapan berkat atas suku-suku itu mungkin berasal dari saat-saat yang berlainan dan tampak dikumpulkan pada masa Efraim dan Manasye masih berjaya sebagai pusat kerajaan utara, sebab berkat untuk Yusuf, “orang yang teristimewa di antara saudara-saudaranya”, paling menonjol. Dalam hal ini Ul 33 berbeda sekali dengan berkat Yakub dalam Kej 49 yang menonjolkan Yehuda sebagai pemimpin di antara saudaranya.
[24]    Bdk. A.D.H.Mayes, 1983, The Story of Israel between Settlement and Exile: A Redactional Study of the Deuteronomistic History, JSOT Suplement Series 18, Sheffield: : JSOT Pr., pp.22-39 dan 133-4.
[25]    Yang mungkin termasuk pengantar asli itu ialah 6:4-9,20-24, 7:1-3,6,17-24, 8:7-11a,12-14a,17-18a, 9:1, 10:11. Israel yang akan menghadapi perlawanan pada waktu menduduki negeri, diteguhkan dengan keyakinan bahwa mereka setelah mengusir penduduk negeri itu, akan mengetahui siapakah pemberi kesejahteraan mereka. Mayes, Story of Israel, pp.33-35.
[26]    6:10-19, 7:4i,7-15,25i, 8:1-6,11b,14b-16,18b-20.
[27]    Edisi Ulangan masa pembuangan ini belum merupakan edisi kitab yang definitif. Setelah masa pembuangan masih ditambah beberapa hal, mis. Nyanyian dan Berkat (Nubuat) Musa dalam Ul 32-33; dan juga beberapa hal yang berasal dari tangan Priest (32:48-52, 34:7-9) yang menggabungkan kitab Ulangan dengan Kej - Bil.
[28]    Mayes Story of Israel, pp.52-55.
[29]    Selain itu pengarang sejarah deuteronomistis itu meleng­kapi gambaran zaman Yosua itu dengan menyisipkan beberapa bahan tradisi lainnya (misalnya kisah ringkas tentang semua raja yang dikalahkan Israel, Yos 12); dan daftar kota-kota orang Lewi, suku yang belum mendapat tempat tersendiri (Yos 21), dan menambah sejumlah hal yang memperkuat hubungan dengan kitab Ulangan (misalnya pembagian negeri di seberang Yordan, 13:8-33; bdk. Ul 3:12-17; penentuan kota-kota perlindungan, Yos 20; bdk Ul 19).
[30]    Mayes, Story of Israel, pp. 46-49, 56, 134.
[31]    Bdk. juga L.D. Hawk, 1991, Every Promise Fulfilled: Contesting Plots in Joshua, LCBI, Louisville: Westminster/Knox, 172p.
[32]    Mayes, Story of Israel, pp. 49-52, 56-57, 134.
[33]    Berita ini yang aslinya berdiri di samping kisah Yosua sebagai tradisi alternatif tentang pendudukan negeri Kanaan, dalam posisinya yang sekarang ditempatkan sesudah kisah Yosua (“Sesudah Yosua mati...”, ay 1).
[34]    Daftar hakim-hakim kecil dalam bab 10 dan 12 disela oleh kisah Yefta, hakim besar yang namanya aslinya juga sudah terdapat di situ dalam daftar hakim-hakim kecil; bdk. 12:7).
[35]    Bingkai itu biasanya dianggap berasal dari pengarang deuteronomistis; bdk. mis. Hertzberg, H.W., 19694, Die Buecher Josua, Richter, Rut, Göttingen: V&R, p.141. Tetapi karena menurut Mayes bingkai itu tidak menunjukkan istilah khas deuteronomistis, maka ia menganggapnya sudah tersusun sebelum koleksi itu dimasukkan ke dalam sejarah deuteronomistis. Pengarang deuteronomistis hanya menambah catatan kronologis, “sekian tahun lamanya”.
[36]    Daftar itu sekarang terputus karena penyisipan kisah Yefta. Yefta adalah satu-satunya orang yang terdapat baik pada daftar hakim-hakim (12:7) maupun mempunyai tradisi sebagai pahlawan yang menyelamatkan (11:1-12:6). Yefta yang baik hakim maupun penyelamat itu merupakan jembatan yang memungkinkan bahwa daftar hakim-hakim dan kisah-kisah penyelamat digabungkan oleh pengarang sejarah deuteronomistis menjadi satu sejarah hakim-hakim penyelamat.
[37]    Berita tentang Otniel anak Kenas (daerah Yehuda, Yos 15:17, Hak 1:13) dibuat dari rumusan bingkai saja, tanpa mengolah suatu kisah kuno, seperti halnya dengan kisah Ehud, dst.
[38]    Mayes membedakan lapisan dasar (ay 11,12aa,13b,14-15aa,15b-16) dari tambahan oleh editor yang kemudian.
[39]    Terutama tampak dalam tambahan pada bagian pengantar dan penghubung, 2:17,20i,23, 3:5i, 10:6bc,10-16; Mayes, Story of Israel, pp.67-72.
[40]    Mayes, Story of Israel, pp.79-80.
[41]    Menurut McCarter, P.K., l980, I Samuel, AncB, Garden City, NY: Doubleday, pp.18-23, kisah tentang tabut dan tentang Samuel dan Saul hampir seluruhnya sudah termuat dalam kitab Samuel, edisi profetik, dengan adanya hanya beberapa tambahan kemudian dari pengarang sejarah deuteronomistis (p.16). Demikian juga Birch, B.C., 1976, The Rise of the Israelite Monarchy: The Growth and Devellopment of 1 Samuel 7-15, SBLDS 27, Missoula: Scholars Pr., p.135 memandang kisah profetik tentang Saul dan Samuel sudah lengkap kecuali tambahan deuteronomistis dalam 1Sam 7:3i,13i, 8:8,10-22, 12:6-24, 13:1.
[42]    Bdk. McCarter, l980, pp 16, 1984, p.8, yang berdiri dalam tradisi Weiser, A., 1961, Introduction to the OT, London, pp.161-169.
[43]    Mayes, Story of Israel, pp.83-84.
[44]    Mayes, Story of Israel, pp.96-102.
[45]    Mayes, Story of Israel, pp.104-5.
[46]    Bdk. Ul 32-33, Yos 24; juga Kej 49; McCarter, 1984, pp.16-19.
[47]    Pembagian dalam dua kitab berasal dari Septuaginta, di mana  disebut III & IV Kerajaan. Pembagian itu tampak berdasarkan alasan praktis saja; hingga riwayat raja Ahazia dibelah dua.
[48]    Untuk struktur kisah Salomo bandingkan Porten, B., 1967, "The Structure and Theme of the Salomon Narrative," Hebrew Union College Annual 38:93-128;  Brettler, M., "The Structure of 1 Kings 1-11", JSOT 49(1991)87-97.
[49]    Kudeta di Samaria yang didorong oleh para nabi itu berakibat pula di Yerusalem. Atalya, ibu raja Yerusalem dan sendiri masih keturunan dari dinasti Omri, berusaha untuk meneruskan dinasti Omri dengan merebut tahta di Yerusalem. Ia membunuh seluruh wangsa Daud, tetapi satu orang keturunan Daud, yakni Yoas, luput dari pembantaian dan kemudian dikembalikan ke tahta Daud (2Raj 11).
[50]    Bdk. Mayes, Story of Israel, 112-113 tentang penelitian literer Nelson, Double redaction, pp.31dst.
[51]    1Raj 14:16,22, 15:3,26,30,34, 16:2,13,19,25i,30i, 21:22, 22:53i, 2Raj 21:2,15ii,20i.
[52]    Cross, Canaanite Myth, pp.278-85.
[53]    1Raj 13:2-5,34, 14:7-11 (bdk. penggenapannya dalam 15:29), 20:42i, 21:17-29 (bdk. 22:37i), 22:8-28, 2Raj 1:2-7.
[54]    1Raj 11:12i,32-36, 15:4, 2Raj 8:19, 19:34.
[55]    1Raj 23:32,37, 24:9,19.
[56]    1Raj 2:4, 6:11ii, 9:4-9, 2Raj 17:7-23,34b-40
[57]    Mis. Ul 4 (khususnya ay 27-31), 27-30 (28:36i,63-68, 29:27, 30:1-10), Yos 23 (ay 11-16), 1Sam 12 (ay 25).
[58]    2Raj 25:27-30; bdk. dengan harapan dalam Ul 4:29ii, 30:1-10, 1Raj 8:46-53.

1 komentar: