Kamis, 17 Desember 2015

Istilah – Istilah Dalam Musik

Buat kalian penggemar musik atau seni musik pastinya membutuh kan pengetahuan tentang istilah – istilah yang sering di pakai dalam music..
Khususnya musik classic, yang mana permainan not nya sangat di butuhkan..
Berikut Kumpulan Istilah – istilah musik secara lengkap dari  A sampai Y
A
[spoiler]Absolute pitch ( Perfect pitch ) :
Pendengaran terlatih yang dapat mengetahui dan mengidentifikasikan nada.
Acapella :
Musik vokal tampa diiringi instrument.

Accelerando :
Mempercepat tempo.
Accidentals :
Tanda-tanda untuk menaikan dan menurunkan nada.
Accompaniment :
Musik pengiring.
Ad lib :
Singkatan dari Ad libitium yaitu peluang yang diberikan kepada pemain instrument untuk memainkan instrument mereka secara bebas.
Al fine :
Sampai akhir
Alto :
Suara tinggi pria yang tidak umum.
Analog :
Alat elektronik yang tidak digital.
Arpegio :
Uraian nada-nada dari chord yang berurutan naik dan turun.
A tempo :

Kembali ke tempo awal.
Atonality :
Membaikan kunci atau tonal center
Augmented :
Interval yang di perlebar.

Avant-garde :
– Pelopor /frontir.
– Bermusik dengan cara yang tidak konvensional.
[/spoiler]

B
[spoiler]Bacbeat :
Latar belakang irama/ ritme yang stabil.
Ballad :
– Lagu bercerita
– Lagu yang berirama lambat.
Bar :
Pengelompokan ketukan-ketukan dalam hitungan genap atau ganjil.
Bar line :
Garis vertical pemisah yang membatasi antara bar.
Baritone :
Pertengahan suara antara suara tenor dan bass pada vokal pria atau alat musik.
Bass :
– Suara terendah dari vokal pria.
– Nada terendah pada musik.
Beat :
– Ketukan teratur sebagai pedoman meter, ritme, dan tempo.
– Jenis irama musik, seperti : Latin beat, Rock beat, dll…

Bending note :
Nada yang meliuk ( ciri khas dari musik blues )

Brass section :
Kelompok pemain Brass bagian dari band.
Bridge :
Bagian transisi antara dua tema musik.
Brightly :
Dimainkan dengan gembira.
Broken chord :
Arpegio chord yang dimainkan secara tidak beraturan.
[/spoiler]
C
[spoiler]Cadence :
Progression / resolution melodi atau harmoni yang menjadi konklusi sementara atau akhir
Cadenza :
Pemeragaan kemahiran tehknik bermain (improvisasi) oleh solis pada bagian akhir komposisi musik.
Changes :
Pergerakan shord
Chord :
Harmonisasi tiga nada atau lebih.
Chord embellishment :
Memperindah harmoni dengan penambahan ornamentasi nada pada chord
Chordal tones :
Nada-nada yang terdapat di dalam konstruksi chord.
Chromatic :
Susunan/ penggunaan melodic atau harmonik dari 12 nada.
Clef :
Simbol yang menyatakan wilayah nada-nada pada staff, di sesuaikan dengan kebutuhan dan alat musik.
Coda :
Bagian penutup dari musik.
Common time :
Empat ketukan dalam satu bar.

Consanance :
Gabungan beberapa nada yang terdengar harmonis/ enak.
Counterpoint :
Alur dua rangkaian melodi atau lebih secara bersamaan.

Crescendo :
Suara menjadi keras secara bertahap.
[/spoiler]

D
[spoiler]Da capo ( DC ) :
Yaitu tanda yang menunjukan untuk mulai untuk memulai dari awal.
Diatonic :
Berkenaan dengan tujuh major atau minor scale.
Diction :
Cara mengucapkan kata pada penyanyi.
Diminished :
Interval diperpendek.
Dissonance :
Bunyi yang membuat rasa galau pada pendengaran.

Dominant :
Nada ke lima pada major/ minor scale dan jenis chord yang terbentuk pada nada tersebut.

Double-stop :
Dua nada di bunyikan serempak pada instrument string.

Downbeat :
Ketukan pertama pada bar.
Dragging :
Tempo permainan yang menjadi lambat dari tempo yang seharusnya secara tampa disengaja.
Duet/ duo :
Komposisi yang menampilkan dua pemain.
Duplet :
Tiga ketuk dibagi dua dengan nilai tempo yang sama .

Dynamic :

Berkenaan dengan volume dan kelembutan.
[/spoiler]

E
[spoiler]Encore (more) :
Istilah meminta pemain/ penyanyi untuk menambah lagi pergelarannya.
Enharmonics :
Satu nada dengan nama yang berbeda.
Ensemble :
Kelompok pemain.
[/spoiler]
F
[spoiler]
Falsetto :
Suara tinggi vokal yang tidak umum.
Fermata :
Menahan nada/ chord/ rest
Figured bass :
Pola/ bagian bass
Finale :
Tema penutup.
Fingerboard :
Tangkai ber-senar untuk jari pada instrument ber-string.
Fine (ending) :
Akhir dari komposisi.
[/spoiler]
G
[spoiler]Glissando (gliss) :
Memainkan scale pada paino dengan kecepatan tinggi.
Grance note :
Ornament nada yang singkat dan tidak memerlukan hitungan khusus.
Groove :
“Fell” dari cara bermain dengan tempo “laidback” yang konstan dan stabil.
[/spoiler]
H
[spoiler]Half-step :
Jarak interval setengah nada.
Harmony :
– Tentang perpaduan bunyi yang selaras.
– Mata pelajaran tentang chord dan chord progression.
Head :
Melodi lagu.
Horn section (brass section) :
Kelompok pemain alat tiup pada band.
[/spoiler]
I
[spoiler]Interval :
Jarak antara dua nada.
Inversion :
Nada pada chord/ interval yang dipindahkan ke oktaf atas atau bawah, atau susunan interval/ chord terbalik.
[/spoiler]
J
[spoiler]Jam session :
Bermain musik dalam kelompok secara informal/ tidak resmi.
[/spoiler]
K
[spoiler]Key signature :
Tanda accidentals pada permulaan staff untuk menentukan kunci.
[/spoiler]
L
[spoiler]
Laidback :
Bermain sedikit diperlambat atau bermain dibelakang menentukan kunci.
Leading tone :
Nada ketujuh pada diatonic scale.
Legato :
Nada-nada dimainkan yang bersambung dengan tanda garis lengkung.
Ledger line :
Garis Bantu di atas dan di bawah staff.
Licks :
Phrasing singkat atau klise phrasing yang dapat diidentifikasikan.
[/spoiler]
M
[spoiler]Measure :
Hitungan pada sekelompok ketukan.
Mediant :
Nada ke tiga pada major atau minoe scale.
Metronome :
Alat yang menyatakan/ membunyikan jumlah ketukan per-menit.
Microtone :
Jarak lebih kecim dari setengah nada ( half step ).
Moderately :
Dimainkan dengan kecepatan sedang (moderato).
Modulation :
Perubahan kunci.
Motif :
Melodi singkat yang sangat khas.
[/spoiler]
N
[spoiler]Non-chordal tones :
Nada-nada yang terletak di luar diatonic scale.
Note :
Simbol tertulis untuk nada.
[/spoiler]
O
[spoiler]Octave :
Interval ke delapan dari diatonic scale.
Overtone ( nada harmonik) :
Nada tambahan yang menyertai nada nada biasa, bias any terdapat di atas sebuah nada.
Overtone series :
Serangkaian nada-nada overtone.
[/spoiler]
P
[spoiler]Part :
– Bagian dari komposisi musik.
– Bagian dari sebuah instrument tertentu, missal guitar pasrts ( body, neck, head, tuning , dll…)
Pedal point :
Nada bass yang ditahan , sementara harmoni berubah untuk menciptakan tensi.
Pentatonic :
Scale yang terdiri dari lima nada.
Perfecth pitch :
Bakat pendengaran yang sempurna, sehingga dapat mengidentifikasikan atau mengetahui frekuensi suara.
Phrase :
Melodi singkat yang terbentuk dari beberapa motif.
Pitch :
Tinggi rendahnya nada atau suara.
[/spoiler]
Q
[spoiler]Quarduplet :
Ketukan di bagi empat tuplet.
Quartet :
Kelompok empat pemain.
Quintet :
Kelompok lima pemain.
Quintuplet :
Ketukan di bagi dengan lima ketuk.
[/spoiler]
R
[spoiler]Real Book :
Buku kumpulan lagu-lagu standart
Refrain :
Bagian dari komposisi lagu yang di ulang beberapa kali.
Resolution :
Pergerakan dari chord dissonance ke consonance.
Rest :
Tanda istirahat , semua instrument musik tidak di mainkan .
Rhythm :
Struktur musik yang berhubungan dengan ketukan tempo dan ketukan yang menyatakan fell atau penjiwaan sebuah lagu.

Rhythm sections 
:
Kelompok pemain instrument yang merupakan bagian dari band. Rhythm section terdiri dari Guitar, Bass, Drum, dan Keyboard/ piano.

Riff
 :
Phrasing pendek yang di ulang-ulang.

Ritardando
 :
Kecepatan yang di perlambat secara bertahap.
Root :
Nada pertama scale atau nada dasar chord.
Rubato :
Tehknik memainkan melodi tampa mematuhi nilai nada-nada agar dapat bermain dengan penuh perasaan.
Rushing :
Tempo permainan yang terburu-buru dan mendahului.
[/spoiler]
S
[spoiler]Scat-singing :
Vokal dengan menggunakan kata-kata yang tidak bermagna.
Score :
Notasi musik yang menjaqvarkan aransemen musik secara keseluruhan ( full score ), dapat juga dalam bentuk vocal score atau orchestral score.
Semi-tone (mikro tone) :
Frekwensi di antara interval half step.

Septet
 :
Kelompok tujuh pemain.
Septuplet :
Ketukan dibagi tujuh tuplet.
Sextuplet :
Ketukan di bagi enam tuplet.
Sharp :
Tanda untuk menaikan nada half-step.
Shuffle :
Irama Rock dengan fell Swing.
Slide (bending note) :
Nada yang di belokan atau bergeser.
Slowly :
Di mainkan dengan kecepatan lambat.
Slur :
Garis lengkung yang menyatakan agar beberapa nada dapat dimainkan secara bersambung , atau sering juga di sebut Legato.
Solo :
– Komposisi untuk seorang pemain , sendiri atau diiringi .
– Improvisasi.
Soprano :
Vokal wanita atau sebutan bagi alat musik dengan wilayah yang tinggi.

Staccato 
:
Nada pendek terputus, kabalikan dari Legato.
Staff :
Lima garis sejajar untuk menulis nada.
Standards :
Jenis-lagu-lagu yang terpopuler di kalangan musik Jazz.
Step & half :
Jarak interval satu-setengah nada.
Subdominant :
Nada ke empat pada diatonic nada.

Submediant
 :
Nada ke enam pada diatonic scale.
Supertonic :
Nada ke dua pada diatonic.
Suspension :
Non-chordal tone yang ditahan dari nada sebelumnya.
Syncopation :
Irama yang ditandai dengan aksen-aksen kuat pada nada-nada yang semestinya ber-aksen lemah.
[/spoiler]
T
[spoiler]Tempo :
Kecepatan ketukan.
Tenor :
Wilayah tertinggi pada vokal pria.
Tetrachord :
Hubungan/ urutan empat nada konsekutif ( tersusun) dari dua scale.
Timbre :
Kualitas atau warna suara/nada .
Time signature :
Bilangan pecahan pada permulaan staff.
Tonality :
Menyatakan bunyi atau warna suara.

Tone 
:
Bunyi nada.
Tonic :
– Nada dasar dari komposisi musik.
– Nada pertama dari scale.
Tonging :
Pengaturan posisi lidah pada alat musik tiup.
Touch :
Gaya dan daya sentuh pemain khususnya untuk Keyboard dan instrument ber-senar.
Trade four :
Tradisi bepop dalam improvisasi, bergantian anatara drums dan instrument lainnya pada tiap-tiap empat bar.

Transcription 
:
Musik yang tertulis atau di sebut juga sheet music.
Transposition :
Menulis kembali atau memainkan musik dengan mengubah tingkat nadanya.
Tremolo :
Tehknik memainkan perulangan nada dengan sangat cepat.

Triad
 :
Chord tiga nada.
Trill :
Perulangan cepat dari sebuah nada yang diselingi dengan nada terdekat diatasnya.
Trio :
Kelompok tiga pemain.

Triple time
 :
Pembagian tempo ke dalam tiga ketukan.
Triplet :
Satu ketuk atau ketukan genap yang di bagi tiga dengan nilai yang sama rata .

Tune
 :
– Lagu atau melodi.
– Harmonis atau selaras ( in tune )
Tuner :
Alat untuk menyelaraskan nada.
Tunning fork (garpu tala) :
Batang yang terbuat dari logam dan berbentuk huruf ‘U’ bertangkai untuk menala nada.
Tuplet :
Pembagian ketukan.
Tutti :
Semua pemain memainkan hal yang sama.
[/spoiler]

U
[spoiler]Unison :
Nada yang sama dimainkan oleh dua pemain atau lebih.
Up beat :
– Ketukan yang berada di atasa hitungan.
– Gerak tangan dirigen ke atas.
Upright piano :
Jenis piano dengan senar-senar terentangkan berdiri tegak.
[/spoiler]
V
[spoiler]Vibrato :
Nada yang bergetar/ tehknik menggetarkan nada.
[/spoiler]
W
[spoiler]Waltz :
Ketukan tiga perempat.
Whole step (whole tone) :
Jarak interval satu nada.
[/spoiler]

Y
[spoiler]

Yodel :
Tehknik menyanyi diselingi dengan suara-suara falsetto (ciri khas musik country western).
[/spoiler]
Akhirnya selesai juga.,, wah,, banyak banget,,
Moga berguna ya..
Sumber : http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=45270

Jumat, 13 November 2015

Rorty tentang Kekejaman dan Pesan-Pesan Moral “Sang Penyair”





“..karena kebenaran adalah milik dari kalimat-kalimat, dan karena kalimat bergantung keberadaannya pada kata-kata, dan karena kata-kata adalah buatan manusia, maka begitu pula dengan kebenaran…”
Richard Rorty

1.      Tentang Richard Rorty
Richard Rorty adalah seorang filsuf dari Amerika Serikat yang terkenal dengan pemikiran filsafatnya maupun karena pemikiran dalam bidang budaya.Rorty dilahirkan di New York pada tahun 1931.Pada tahun 1949, ia lulus dari Universitas Chicago, dan tahun 1952 dari Universitas Yale. Rorty mulai mengajar di Wellesley College, dan kemudian pada tahun 1961, ia mengajar di Universitas Princeton.Pada tahun 1979, Rorty menerbitkan buku pertama yang berjudul "Philosophy and the Miror of Nature"[1].Buku ini berisi kritik Rorty terhadap filsafat analitis yang berkembang pada masanya.
Rorty berpendapat bahwa tidak ada prinsip-prinsip yang bersifat universal, dan ia juga menentang usaha Pencerahan untuk menemukan dasar rasional bagi pengetahuan manusia. Di sini, Rorty mengambil posisi etnosentris radikal. Baginya, pemikiran setiap manusia ditentukan oleh bahasa apa yang dipelajari orang tersebut. Bahasa di sini dipahami sebagai perwujudan budaya tertentu, pandangan dunia tertentu, kepercayaan, dan nilai-nilai tertentu. Akan tetapi, kehadiran seorang manusia di budaya tertentu bersifat kebetulan, sebab tidak ada orang yang dapat memilih di mana ia dilahirkan. Oleh karena itu, Rorty berpendapat tidak ada budaya atau nilai-nilai yang paling benar dan berlaku universal.Budaya atau nilai-nilai apapun hanya membantu pengembangan diri seorang manusia.Dengan demikian, posisi Rorty di sini adalah pragmatisme.
2.      Latar Belakang Pemikiran Rorty
Kebanyakan korban abad ke-20 adalah korban pemikiran ideologis, contohnya di Auschwitz. Auschwitz adalah kamp pemusnahan massal yang dibangun oleh Nazi untuk secara sistematik membunuh orang-orang Yahudi dan orang-orang lain yang dianggap “tidak pantas hidup”.“Mesin pembunuhan” Auschwitz mampu menggas dan membakar mayat sampai 10.000 orang per hari.
 Adorno mengatakan, bahwa sesuatu seperti di Auschwitz tidak boleh diizinkan lagi.Selain itu, hal tersebut tidak hanya tidak perlu diberi pendasaran, melainkan setiapusaha pendasaran adalah tidak senonoh. Ini berarti bahwa mencari alasan mengapa harus bersikap moral adalah tanda orang tidak bermoral! Orang semacam ini menakutkan karena begitu pikirannya berubah, ia tanpa ragu-ragu dapat melakukan apa saja berdasarkan pendasarannya yang baru (misalnya: membunuh, memperkosa). 
Dengan latar belakang tersebut posisi filosofis Richard Rorty menjadi amat menarik. Ia menyatakan ”kekejaman adalah perbuatan paling buruk”. Mirip dengan Adorno, Rorty menyatakan bahwa kita harus solider dengan orang lain tidak mungkin didasarkan pada suatu landasan metafisik atau prinsip-prinsip umum.  Ia merangsang untuk merefleksikan kembali posisi-posisi kaku dalam filsafat. Tugas filsafat bukan mencari dasar dari segala apa yang ada, melainkan menjadi sarana pengembangan diri sang filsuf[2].

3.      Pandangan Rorty tentang Kekejaman
Rorty mengajak kita untuk kembali membaca buku-buku yang bercerita tentang perbudakan, kemiskinan, eksploitasi.Harapannya adalah, dengan menyaksikan kekejaman-kekejaman yang dilakukan oleh satu manusia terhadap manusia lainnya, kita dapat menyadari kesalahan yang kita buat, dan menjadi semakin ‘tidak kejam’ (less cruel).
Charles Guignon dan David R. Hiley bahkan mencatat, bahwa Rorty lebih sering memilih untuk menafsirkan novel-novel yang ditulis Nabokov dan Orwell, daripada merumuskan argumentasi filsafatnya sendiri[3].
Selain berupaya melenyapkan semua bentuk kekejaman, liberalisme yang dirumuskan Rorty jugalah hendak meningkatkan solidaritas sosial di dalam masyarakat. “Solidaritas”, demikian tulisnya, “tidaklah dipikirkan sebagai pengakuan terhadap diri yang esensial,..di dalam semua manusia. Alih-alih begitu, solidaritas dipikirkan sebagai kemampuan untuk melihat semakin banyaknya perbedaan-perbedaan tradisional (dari suku, agama, ras, adat istiadat, dan sebagainya) sebagai sesuatu yang tidak penting ketika dibandingkan keprihatinan terhadap kekejaman dan penghinaan..”
Dua novel terakhir dari Orwell merupakan contoh yang baik tentang apa yang dipikirkan oleh Nabokov tentang topik-topik yang tidak penting bagi kepentingan mereka merupakan hasil dari terbentuknya perbedaan Praktis yang besar. Novel-novel Orwell hanya bisa dipahami apabila kita mempunyai latar belakang pengetahuan tentang politik di abad 20 sebagaiamana yang dilakukan oleh Orwell. Sejauh mana hal tersebut akan terus bergantung pada kesatuan politik kita di masa depan.
Pada suatu waktu, deskripsi tentang abad kita akan kelihatan kabur dan tidak jelas. Jika hal itu terjadi, pandangan Orwell tentang kejahatan tidak dapat dimengerti secara keseluruhan. Keturunan kita akan memahami Orwell sebagaiamana kita memahammi Swiftdengan kekaguman pada seseorang pria yang melayani kebebasan manusia, tetapi dengan sedikit kecenderungan untuk mengadopsi klasifikasinya tentang tendensi politik atau perbendaharaan moral dan deliberasi politik. Pada masa sekarang terdapat kritik aliran kiri  terhadap Orwell ( Christpher Noris), berpikir bahwa kita telah mempunyai cara untuk melihat Orwell secara sepeleh atau dangkal. Mereka berpikir bahwa kenyataan yang mana ia menyebutnya dengan perhatian dapat ditempatkan pada konteks dimana mereka terlihat benar-benar berbeda. Tidak seperti Norris, saya berpikir bahwa kita mempunyai alternatif lain yang lebih baik. Sejak 40 tahun setelah Orwell menulis , sejauh yang saya lihat, tidak ada seorangpun yang datang dengan cara lebih baik dalam mengemukakan alternatif politik yang berhadapan dengan kita.
Orwell berhasil karena ia menulis buku yang benar di saat yang tepat. Pendeskripsiannya tentang kesatuan particular historis adalah bahwa, kesatuan particular historis  mematikan,tentang apa yang dibutuhkan untuk membuat suatau perbedaan masa depan dari politik liberal. Ia menjatuhkan pemikiran Nabokov tentang “Bolshevik Propaganda” melebihi para pemikir liberal di Amerika dan inggris. Mendeskripskan kembalisituasi politik setelah perang dunia II adalah kontribusi praktikal yang terbesar dari Orwell.Apa yang Howe sebutkan sebagai kombinasi dari “desperrate topicality dan desperate tenderness” dalam animal farm dan 1984 cukup menyempurnakan batas ini, tujuan praktis. Tetapi pada bagian ketiga terakhir dari 1984 kita menenmukan sesuatu yang berbeda- sesuatu tak bertopik, prospektif daripada deskriptif.
Rorty ingin membicarakan secara terpisah dua hal yang dilakukan Orwell dalam dua novel terakhirnya-  menggambarkan kembali Rusia Soviet dan menemukan O’Brien. Kekaguman Orwell sering memberi kesan bahwa ia telah menyelesaikan pendeskripsiannya dengan mengingatkan kita tentang beberapa kebenaran yang nyata-kebenaran moral akan menjadi tidak jelas apabila disamakan dengan “2+2=4.” Tetapi mereka sering dibuat gugup oleh prestasinya yang kedua dan cenderung, sebagaimana yang Howe katakan, untuk mengabaikan “apocalyptic desperation” dari 1984 dan sesungguhnya untuk merayakan humanitasnya Orwell dan kebaikannya. Hal ini terus berlanjut dengan kecenderungan untuk memberi kesan bahwa Orwell bukanlah seorang penulis yang telah menyelesaikan tulisannya dengan teliti, tetapi bahwa ia telah memutuskan dalam kebaikannya tentang kekurangannya dalam hal artistek. Orwell mengatakan, “seseorang dapat menulis sesuatu yang tidak dapat dibaca satu secata konstan berjuang untuk menghapuskan kepribadian seseorang.Prosa yang baik adalah seperti kaca jendela.Hal seperti ini sering dibaca bersamaan dengan bagian berikutnya yaitu1984.
Rorty mengatakan bahwa, sesungguhnya Orwell mau memberitahu kita bahwa masa depan sebagaimana yang dipikirkan oleh O’Brien atau J. S. Mill tidak bergantung pada kenyataan mendalam tentang sifat dasar kemanusiaan (human Nature). O’Brien dan Humbert Humbert lebih menekankan tentang intelektual – kecerdasan, pengadilan, keanehan, imajinasi, rasa keindahan- yang bersumber dari nafsu seksual. Intinya Rorty mau mengatakan bahwa, penguasa masa depan kita tidak akan ditentukan oleh kebutuhan-kebutuhan kebenaran tentang sifat alami manusia dan relasinya dengan kebenaran dan keadilan melainkan oleh kontingensi fakta yang sangat kecil.

4.      Ruang Publik Penyair.
Di dalam ruang publik para penyair, kebenaran tidak lagi ditemukan, melainkan dirumuskan secara bersama-sama. Kecenderungan untuk merumuskan semacam kriteria filosofis-rasional guna menentukan apa yang dimaksud dengan ‘esensi dunia’ dan ‘esensi manusia’ telah ditinggalkan. Kecenderungan semacam itu adalah kecenderungan berpikir para filsuf tradisional yang secara jelas ingin ditinggalkan oleh Rorty.Apa yang disebut kebenaran lebih merupakan sesuatu yang dirumuskan, dan bukan sesuatu yang sudah ada di sana, serta siap untuk direngkuh untuk diketahui. Pengetahuan manusia sepenuhnya dimediasi dan mengharuskan adanya bahasa.Bahasa juga sudah selalu merupakan sebuah hasil konstruksi sosial.Kebenaran pun sudah selalu merupakan bentukan bahasa yang juga sudah selalu merupakan hasil kreasi manusia. Oleh karena itu, kebenaran sifatnya kontingen, sama kontingennya seperti perubahan pemahaman bahasa itu sendiri.
Dengan konsep ruang publik para penyair, Rorty tidak hanya mau mengubah konstelasi peran sosial di dalam masyarakat, tetapi ia juga mengajak kita untuk “…mengubah cara kita berbicara, dan dengan demikian mengubah apa yang ingin kita lakukan, dan apa yang kita pikirkan tentang diri kita sendiri.” Dengan mengubah cara kita ‘berbicara’, berarti kita juga mengubah identitas kita sebagai manusia. Di dalam ruang publik para penyair, masalah-masalah yang muncul tidak lagi dipandang sebagai masalah filosofis tentang politik, ekonomi, ataupun kehidupan sosial, tetapi lebih merupakan masalah poetik (poetic problems).Artinya, permasalahan yang ada tidaklah berkaitan dengan akar fundamental dari pemahaman tentang realitas ataupun tentang manusia, tetapi lebih merupakan masalah ‘penggunaan metafora-metafora’ (metaphors) yang berbeda untuk menjelaskan dan memahami realitas. “Sebuah kesadaran tentang sejarah manusia sebagai sejarah tentang metafora-metafora yang diteruskan”, demikian Rorty, “akan membuat kita melihat para penyair, dalam arti yang umum sebagai sang pencipta dunia-dunia baru, yang menajamkan bahasa-bahasa baru, dan sebagai barisan depan spesies-spesies.”
Di dalam ruang publik para penyair, seperti sudah sedikit disinggung sebelumnya, konsep kebenaran tidak lagi merupakan sesuatu yang berada di luar waktu dan bersifat universal, tetapi lebih merupakan sebagai “tentara metafor-metafor yang terus bergerak” (mobile army of metaphors).Artinya, upaya kita untuk merumuskan kebenaran yang berlaku untuk semua manusia dan untuk semua konteks haruslah ditinggalkan.Dalam arti itu hanya para penyairlah yang sungguh-sungguh mampu menyadari aspek kontingensi dari kebenaran.Orang-orang pada umumnya selalu terjebak pada kecenderungan untuk menjadi filsuf, yang hendak merumuskan esensi universal dari realitas yang ada di hadapan mereka.“Kita,” demikian Rorty, “dikutuk untuk menggunakan hidup sadar kita mencoba untuk melarikan diri dari kontingensi daripada, seperti para penyair, mengakui dan mengizinkan kontingensi.” Rorty memperoleh argumen semacam ini dari pemikiran Nietzsche. Perbedaan antara para penyair di satu sisi dan orang-orang pada umumnya di sisi lain adalah perbedaan antara manusia yang sesungguhnya di satu sisi, dan binatang di sisi lain. Walaupun para penyair tetaplah merupakan hasil dari kekuatan-kekuatan alam, sama seperti binatang, tetapi mereka mampu merumuskan serta menyampaikan refleksi mereka atas dunia dengan cara-cara baru yang belum pernah digunakan sebelumnya. Di dalam ruang publik para penyair, perbedaan antara orang kuat dan orang lemah dipandang sebagai perbedaan antara orang-orang yang menggunakan kosa kata baru untuk medeskripsikan realitas di satu sisi, dan orang-orang yang masih terjebak pada kosa kata lama. Perubahan di dalam pemahaman tentang realitas bukanlah tanda kemajuan pengetahuan manusia, tetapi merupakan perubahan cara menggunakan metafor untuk mendeskripsikan realitas yang ada.
Di dalam ruang publik para penyair, perubahan politik tidak lagi dipandang sebagai suatu perubahan yang rasional, tepat karena kriteria apa yang rasional dan apa yang tidak rasional tersebut tidak lagi bisa dipastikan. Menurut Rorty, ketika kita menyadari hal ini, maka kita tidak akan lagi menggunakan kata-kata berikut: “rasional”, “kriteria”, “argumen”, “fondasi”, dan “absolut”. Ruang publik para penyair adalah ruang publik liberal plus kesadaran akan kontingensi radikal dari realitas, di mana segala sesuatu diperbolehkan untuk mengalir, bergerak, dan merumuskan apa yang sesungguhnya menjadi keprihatinan bersama. Pertanyaan dasarnya tidak lagi, “bagaimana kamu sampai pada pengetahuan, atau bagaimana kita dapat sampai pada kebenaran?”, tetapi lebih “mengapa kita membicarakan pengetahuan dan kebenaran dengan cara-cara yang kita gunakan sekarang?”
Ruang publik penyair adalah juga merupakan ruang publik liberal.Di dalam masyarakat liberal, politik persuasi jauh lebih penting daripada politik represi.Persuasi melalui argumentasi adalah sentral.Represi dengan menggunakan senjata dan sensor ditolak.Hal ini menandakan adanya keterbukaan pemikiran di dalam masyarakat liberal tersebut.Akan tetapi, ruang publik yang liberal dalam arti umum masih membutuhkan semacam pengandaian filosofis, bahwa manusia itu merupakan mahluk yang pada esensinya adalah bebas.Hal inilah yang ingin ditolak oleh Rorty. Ruang publik para penyair, dengan demikian, adalah ruang publik liberal minus asumsi metafisis tentang apa itu manusia.

Kesimpulan

Ruang publik para penyair adalah ruang untuk bercerita tentang semua bentuk penderitaan yang dialami manusia.Cerita-cerita ini memang berangkat dari ruang privat, tetapi alirannya menggaung di dalam kehidupan publik, dan menjadi bagian dari ruang publik.Mata kita seolah terbuka terhadap penderitaan yang dialami banyak manusia, ketika kita membaca tulisan-tulisan para penyair dan penulis novel. Solidaritas pun tumbuh. Kepekaan sosial mulai tercipta.Penderitaan yang sesungguhnya hanya dapat dirasakan dan direfleksikan di dalam syair, puisi, dan novel.Apa yang disebut sebagai keresahan tentang kebaikan publik (public good) pun tidak muncul di dalam diskusi-diskusi rasional, melainkan dari halaman-halaman yang ditulis oleh para novelis dan penyair. Narasi tentang hak-hak asasi manusia tidak lagi didasarkan pada fondasi metafisis tentang manusia, melainkan teriakan dalam hati yang muncul gambaran manusia yang menderita dan terhina.
Di dalam ruang publik para penyair, konsep kebenaran tidak lagi merupakan sesuatu yang berada di luar waktu dan bersifat universal.Kebenaran lebih dipandang sebagai “tentara metafor-metafor yang terus bergerak” (mobile army of metaphors).Artinya, upaya kita untuk merumuskan kebenaran yang berlaku untuk semua manusia dan untuk semua konteks haruslah ditinggalkan.Dalam arti itu hanya para penyairlah yang sungguh-sungguh mampu menyadari aspek kontingensi dari kebenaran.Orang-orang pada umumnya selalu terjebak pada kecenderungan untuk menjadi filsuf, yang hendak merumuskan esensi universal dari realitas yang ada di hadapan mereka.Di dalam ruang publik para penyair, perbedaan antara orang kuat dan orang lemah dipandang sebagai perbedaan antara orang-orang yang menggunakan kosa kata baru untuk medeskripsikan realitas di satu sisi, dan orang-orang yang masih terjebak pada kosa kata lama. Perubahan di dalam pemahaman tentang realitas bukanlah tanda kemajuan pengetahuan manusia, tetapi merupakan perubahan cara menggunakan metafor untuk mendeskripsikan realitas yang ada. Ruang publik para penyair adalah ruang publik yang berupaya mengartikulasikan penderitaan dengan menggunakan metafor-metafor yang kontingen dan berbeda.




Sumber Bacaan
Rorty, Richard. Contingency, Irony and Solidarity.Cambridge University Press: Australia. 1993.
Suseno,Franz Magnis..12 Tokoh Etika Abad ke-20. Yogyakarta: Kanisius. 2000.






[1]Franz Magnis-Suseno..12 Tokoh Etika Abad ke-20. Yogyakarta: Kanisius. 2000Hal. 242-243.
[2]http://nikolaskristiyantosj.wordpress.com/2012/08/11/richard-rorty-manusia-ironis-liberal/

PERKEMBANGAN MARGINALITAS KEBUDAYAAN SUKU DAYAK




Buku dengan judul Bayang-banyang intan ini merupakan buku mengenai perkembangan kebudayaan suku dayak. Adanya maslaah konstruksi kebudayaan dan politik dalam masyarakat meratus. Tsing yag berusaha untuk membangun konstruksi kebudayaan menyatakan bahwa ada tiga unsur yang membentuk marginalitas . ketiga unusur itu adalah perbedaan gender , etnisitas, dan politik atau aturan dalam Negara. Permasalahan marginalitas terjadi di sebuah daerah yang dinamakan daerah meratus. Pada awalnya ialah bahwa Tsing ingin melawan marginalitas dengna cara politik marginalitas. Politik marginalitas menjadi suatu metode atau cara dalam menanggapi persoalan marginalitas di dala suku meratus. Masyarakat meratus pada umumnya tinggal di daerah bukit. Bukit mendapat pandangan negative dari kalangan orang di luar masyarakat daerah meratus. Pandangan negative ini sudah menjadi pandangan umum di daerah Kalimantan. Sehingga masyarakat dayak yang tinggal di bukit mendapatkan julukan sebagai orang-orang yang primitive, kolot, bodoh dan tidak beragama.
Masyarakat suku dayak melakukan perubahan yang dinamis dimana kebudayaan telah tercampur pula oleh kebuayaan meratus. Meratus merupakan sebuah daerah diambil dari kata dasarnya yaitu ratus. Arti dari meratus ialaha keanekaragaman budaya yang ada di seikitar peguungan meratus. Orang meratus mendapatkan penghidupan mereka dari hasil hutan. Mereka menolak adanya penebangan liar dan segala maacam yang dibentuk oleh pemerintah sebagai aksi eksplorasi mereka karena masyarakat meratus begitu menghormati alam.
Pemerintah selalu mengganggap bahwa suku dayak tidak mau menerima kebudayaan baru. Mereka tetap berpegang teguh pada apa yang menjadi kebudayaan mereka sejak zaman dulu atau nenek moyang. Hal ini tidak memberikan pengertian bahwa masyarakat suku dayak tidak mau menerima kebudayaan baru. Inilah yang menjadi suatu pertentangan bagi pemerintah bahwa masih ada masyarakatnya yang masih terbelakang. Salah satu yang membuat masyarakat suku dayak memepertahankan kebudayaan ialah karena mereka ingin tetap terus kebudayaannya tidak lenyap oleh kebudayaan baru tersebut.
Hal ini yang menjadi suatu perdebatan antara pemerintah dengan masyarakat suku dayak. Untuk dapat melawan pendapat negative pemerintah terhadap masyarakat suku dayak maka melalui cara politik marginalitas, masyarakat suku dayak melawan tekanan pemerintah terhadap masyarakat suku dayak. Masyarakat meratus melakukan usaha-usaha untuk bergerak dengan kreativitasnya di tengah kesesakan kemajuan zaman serta tekanan pemerintah. Usaha-usaha yang dilakukan yaitu dengan resistensi dan akomodasi.
Resistensi mengartikan bahwa masyarakat meratus tetap menempatkan dirinya dan memberikan identitas pada diri mereka. Masyarakat meratus juga melakukan perlawanan dengan pemerintah bukan dengan tanpa kekerasan atau disebut sebagai akomodasi. Mereka melakukan politik marginalisasi mereka dengan cara melakukan dialog-dialog yang tetap memandang perbedaan yang ada.  Untuk dapat menunjukkan identitas mereka, masyarakat meratus menunjukkannya dengan cara melakukan penyembuhan-penyembuhan
Tsing melihat bahwa permasalahan ini menjadi suatu tantangan yang dihadapi oleh masyarakat meratus. Dalam hal marjinalisasi politik local, orang Meratus menganggap pembentukan masyarakatnya sebagai proyek Negara walaupun lebih banyak mengecewakannya. Label negative yang diterima oleh orang meratus sebagai orang yang primitive dan tidak beragama semakin menyudutkan mereka dan menutup akases mereka untuk bergaul dengan orang luar khususnya orang Banjar.
Orang Banjar adalah masyarakat Kalimantan yang sudah mengikuti perkembangan zaman dan lebih maju daripada masyarakat meratus. Mereka adalah orang-orang yang mendukung program pemerintah. Orang meratus dijadikan sebagai objek asli yang tidak beradab dan mengakibatkan orang meratus semakin terpuruk ke arah marjinal (terpinggirkan). Sulitnya masyarakat meratus dalam menyesuaikan diri mereka serta menerima pendapat dari pemerintah, membuat masyarakat meratus disebut sebagi orang-orang yang tidak tahu adat dan orang-orang yang mengucilkan dirinya dari masyarakat-masyarakat normal. Meratus diambil dari kata dasar ratus. Ratus artinya bukan hanya sebuah bilangan tetapi mengartikan ratusan keanekaragaman budaya yang ada di sekitar pegunungan meratus. Mayarakat meratus adalah masyarakat yang senang dalam mengolah tanah dan hidup mereka nomaden (suka berpindah-pindah tempat. Tsing mencoba untuk memberikan pemahaman terhadap pemerintah. Contoh yang dapat diberikan yaitu piring yang sudah merupakan cara makan yang modern dimana tidak lagi makan di daun pisang ataupun serat dari bahan tumbuhan lain. Ketika itu, Tsing mengatakan bahwa mereka tetap menerima piring tersebut sebagai budaya yang baru dan mereka dapat menggunakannya tetapi hal itu dikembalikan kembali kepada pemerintah bahwa mereka tetap bisa menggunakan atau dapat mengikuti perkembangan zaman tetapi tidak berarti mereka menghilangkan kebudayaan mereka yang asli. Mereka akan tetap mempertahankan kebudayaan mereka sebagai tetap. System yang mereka gunakan yaitu menerima kemudian mengembalikan kembali kepada pemberi dan tetap berpegang teguh pada apa yang miliki dan tidak mengubah.
Orang-orang meratus memiliki pemimpin suku mereka dan ada beberapa syarat yang menjadikan seseorang menjadi seorang pemimpin. Pak beruang adalah seorang dukun yang dikenal memiliki ilmu yang tinggi dan ia menjadi sosok pemimpin suku mereka. Pak beruang sebagai seorang dukun meratus dikenal dukun yang memberikan story telling untuk dapat menguasai kekuasaan Negara. Teknik bercerita itu menggambarkan bahwa dia seolah-olah berada pada saat itu sebagai orang yang berpengalaman. Dia menggambarkan perjalanan yang melampaui manusia biasa dengan menggunakan roh-roh / dewa bagi mereka. Pendengar seakan-akan terhipnotis dan seakan-akan terbawa oleh cerita yang diceritakan itu sendiri.  Dalam teknik bercerita tersebut menuturkan teror kepada kekuasaan pemerintah. Teror tersebut yaitu bahwa pak beruang ada di sana sebagai saksi, pak beruang selamat dari bahaya, pak beruang bercerita adanya potensi yang melampaui lainnya, pak beruang bercerita cerita asli dalam bentuk narasi.

Bercerita seakan-akan nyata itu menajdi suatu perwujudan diri sehingga dia disebut sebagai dukun. Pengalaman spiritual atau mengalami langsung cerita tersebut mencoba untuk meninggikan harkat martabat seseorang dari yang lain. Pak beruang mencertakan bahwa dia seakan-akan ada pada zaman belanada. Dia melihat bahwa perempuan-perempuan orang meratus banyak yang diperkosa oleh orang belanda dan terlihat bahwa di dalam perut mereka penuh dengan sperma. 

Kamis, 12 November 2015

Gagasan perang adil ( bellum iustum)





St.Agustinus dari Hipoo dianggap sebagai perintis gagasan perang adil. Perang adil dipandangnya kurang jahat jika dibandingkan dengan kejahatan kaum bar-bar yang memandang segala sesuatu yang bisa dilakukan adalah selalu benar.[1] Gagasan perang adil muncul dalam kurun tertentu dan dengan situasi serta latar belakang di mana kekuasan berpusat pada satu otoritas tertinggi abad pertengahan yakni, Gereja Katolik Roma. Dalil perang adil menurut Agustinus dikaitkan dengan perang untuk melawan penghujat Allah. “Hanya karena alasan-alasan yang adil dan benar sajalah, perang dapat dibenarkan dan dilaksanakan. Perang boleh bahkan harus ditempuh demi membelah dan mendapatkan kembali hak milik pribadi yang dirampas pihak lain.”[2] 
Dalam konteks perang  salib konsep perang adil dijiwai oleh semangat untuk merebut kembali Yerusalem (the Holy Land) yang diyakini sebagai wilayah milik agama Kristiani. Hal ini didasarkan pada pandangan tentang peristiwa Yesus Kristus yang terjadi di wilayah tersebut dan agama Kristen pun lahir dan berkembang di tempat itu. Namun semangat perang salib sebagi (perang suci) saat itu dipengaruhi oleh motivasi yang berbeda-beda, seperti tawaran indulgensi, kepentingan sosial, ekonomis, dan kepentingan pribadi.
Gagasan perang adil (bellum iustum) menjadi gagasan yang berubah dan selalu diperbaharui pemahamannya berdasarkan peradaban masyarakat. Berhadapan dengan etika dan moral yang termuat dalam gagasan Hak Asasi Manusia (HAM) perang memunculkan pertanyaan: apakah penggunaan kekerasan dibenarkan secara moral untuk melindungi dan menjaga nilai-nilai? Membunuh tidak dapat dibenarkan secara moral. Dalam ajaran agama Kristiani juga gagasan perang secara mendasar ditolak. Hal ini nampak dalam hukum utama Kristiani yakni cinta kasih. Selain itu ajaran gereja yang menekankan perdamaian dan keadilan sebagaiman yang diperjuangkan geraja saat ini.[3]
Pada abad 20 ada banyak peryaratan yang dibuat dalam suatu perang. Bukan hanya sekadar larangan berperang di hari besar keagamaan seperti yang terjadi pada perang salib. Syarat-syarat yang dibuat sedemikian rumit seperti, perang sebagai jalan untuk membela dan mempertahankan diri terhadap serangan yang tak adil. Perang harus ada kemungkinan berhasil yang sungguh nyata untuk meperoleh nilai yang lebih tinggi. Nilai-nilai yang hakiki tetap menjadi sumber dan tujuan perjuangan. Kekerasan hanya boleh digunakan setelah semua alternatif perdamaian dan upaya-upaya yang mungkin telah dengan sungguh-sungguh diusahakan dengan tuntas. Prasyarat ini dimaksudkan agar perang tidak terdadi karena pada kenyataan perang selalu berujung pada degradasi nilai moran dan kerugian materi bahhkan nyawa.

Peristiwa 1054 ( Skisma Timur)

            Skisma Timur merupakan peristiwa perpecahan dan pemisahan diri persekutuan gerejawi yang umumnya menyangkut disiplin, tata tertib. Sebagai suatu skisma pemisahan diri tersebut tidak berakibat pada  ajaran iman dan sakramen-sakramen gereja. Pertentangan tersebut melibatkan gereja barat (Roma) dan gereja timur (Konstantinopel) yang merupakan gereja-gereja besar.[4] Skisma tersebut dilatarbelakangi oleh berbagai persoalan. Pertama, skisma dilihat sebagai rivalitas pribadi dengan dalil gengsi dan haga diri. Kedua, persaingan Timur dan Barat dalam ekonomi, sosial, dan kebangsaan. Ketiga, persaingan antartaktha Roma dan Konstatinopel. Keempat, perbedaan ungkapan liturgi, ajaran filioque, puasa, paskah, dan bahasa liturgi. Kelima, masalah tata tertib, disiplin, termasuk masalah selibat dan hubungan dengan penguasa sipil.[5]
Pokok permasalahan skisma timur berada di bawah otoritas penguasa yang hendak memperluas kekuasaannya. Oleh karena itu, konflik itu sesungguhnya tidak mewakili permasalah mendasar yang dihadapi umat pada umumnya. Ada masalah mendasar yang melatarbelakangi perisstiwa skisma yakni, sejumlah perbedaan, Roma dan Konsatantinopel saling mengekskomunikasi. Peristiwa skisma timur memberi pengaruh positif bagi Gereja sendiri dalam menilai peristiwa sejarah. Setiap batrik memiliki alasan atas skisma dan bertanggung jawab terhadap akibat-akibatnya. Skisma memberikan sudut pandang baru dalam melihat keberadaan batrik-batrik lain dan makna yang diberikannya terhadap kekristenan universal.
Gereja Timur menyebut dirinya sebagai Gereja Ortodoks sebagai suatu Gereja resmi yang sesuai dengan ajaran dan Tradisi Kristen yang diwarisi oleh para Rasul, pengikut Yesus. Gereja Ortodoks dipersatukan oleh teologi yang sama. Semua anggota Gereja memeluk keyakinan yang sama terlepas dari ras atau kebangsaan. Dalam praktek dan tradisi, bagaimanapun, ada variasi dalam gaya tergantung tempat atau adat setempat. Ini kebiasaan setempat disebut sebagai perbedaan yang dapat diterima oleh para pemimpin gereja karena mereka tidak dianggap bertentangan dengan ajaran teologis Ortodoks dasar.
Gereja Timur bukanlah tatanan atau kelas sekunder. Gereja Timur memberikan tanda kehadirannya dimana selama berabad-abad menjadi maestro bagi Barat. Dalam banyak Gereja Timur memberikan harta karun kerohanian bagi Gereja universal. Dalam dogma, gerakan hidup membiara, dan bentuk-bentuk kesalehan.[6]






[1] Gerald O’C, sj dan Edward G. Farrugia,Sj. ,Kamus Teologi, Yogyakarta: Kanisius,1996, hal. 235
[2] Eddy Kristiyanto, Gagasan yang Menjadi Peristiwa, Yogyakarta: Kanisius, 2002, hal. 185
[3] Thompson J. Milburn , Keadilan dan perdamaian: Tanggung Jawab kristiani dalam Membangun Perdamaian Dunia,     ed.Steve Gaspersz, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009, hal. 220
[4] Kristiyanto, Eddy, hal. 162-163
[5] Ibid. hal. 163-165
[6] Ibid. hal. 170-171

Mengikuti Jejak Kristus




          Thomas à Kempis adalah seorang mistikus Kristen terkenal dari Abad Pertengahan. Nama aslinya adalah Thomas Hemerken. Ia lahir di Kempen, dekat kota Koln, pada tahun 1379. Dari situlah ia mendapat nama Thomas à Kempis. Kempis memiliki banyak tulisan, namun yang paling terkenal adalah Imitasi Kristus (dalam bahasa Latin Imitatio Christi). Arti dari buku tersebut adalah mengikuti Kristus. Buku ini terdiri dari empat jilid dan termasuk karya klasik yang paling digemari. Pada akhir abad ke-15, buku ini sudah mengalami 99 kali cetak ulang. Kempis meninggal pada tahun 1471. Isi dari buku pertama adalah mengenai kehidupan di biara, sedangkan isi buku keempat adalah tentang Perjamuan Kudus. Buku kedua dan ketiga berisi kehidupan batin dan kerohanian Kristen. Nada dasar buku itu mengajak pembaca untuk mawas diri dan rendah hati, berdisiplin, serta mempercayakan diri kepada Allah.
Pada bagian ini saya akan merefleksikan buku pertamanya yakni tentang nasihat-nasihat hidup rohani khususnya pad pasal XIII tentang hal menolak godaan. Dalam  pasal tersebut, Thomas a kempis mengatakan bahwa Selama kita hidup di dunia ini, tak mungkin kita luput atau bebas dari penderitaan dan godaan.
Oleh sebab itu tertulislah dalam kitab Ajub: Percobaan adalah hidup manusia di atas dunia (Ajub 7.1).

Oleh karena itu setiap orang wajib waspada terhadap godaan-godaan dan berjaga-jaga serta berdoa, agar supaya setan yang tidak pernah tidur melainkan berkeliling serta mencari siapa yang dapat ditelannya (I Petr. 5,8) tidak mendapat kesempatan untuk memperdayakannya.

Tak ada seorangpun yang sempurna dan suci, sehingga dia tidak pernah digoda. Tak mungkin kita terlepas sama sekali daripada godaan.
 Tetapi godaan-godaan itu biarpun sukar dan berat, seringkali sangatlah berguna bagi manusia sebab karena semua itu manusia menjadi rendah hati, bersih, lagi pula menerima pelajaran.

Semua orang kudus telah mengalami banyak percobaan serta godaan dan oleh karena itu mereka memperoleh perkembangan rohani. Mereka yang tidak kuat mengadakan perlawanan terhadap godaan telah terbuang dan hanyut.

Tak ada satupun ordo (konggregasi) yang begitu suci, atau tempat yang begitu terpencil dan sunyi, sehingga di situ orang bebas dari godaan dan kesushan hidup.
Selama manusia hidup di dunia ini, selama itu tiada pernah dia bebas dari godaan. Sebab godaan itu bersumber di dalam diri kita sendir: karena manusia dilahirkan di dalam keinginan daging.
Baru saja godaan yang satu berlalu, maka sudah muncullah percobaan yang lain, dan begitu terus menerus ada-ada saja yang kita alami, karena hak menikmati keadaan bahagia yang mula kita miliki sudah lenyap.

Banyak orang yang berusaha menghindari percobaan-percobaan itu, tetapi akibatnya dia justru malah jatuh lebih dalam tertimpa godaan-godaan tersebut.
Dengan jalan menghindar saja, kita tak akan menang. Tetapi dengan sabar dan rendah hati yang sesungguhnya kita akan menguasai semua musuh kita.
Barangsiapa hanya lahirnya saja menyingkirkan kejahatan, tetapi tidak memberantasnya sampai ke akar-akarnya, maka dia hanya sedikit mencapai kemajuan, malahan godaan akan lebih cepat menyerangnya kembali dan dia akan merasa lebih menderita.

Dengan perlahan-lahan, dengan penuh kesabaran dan ketenangan hati, serta dengan pertolongan Allah, kita akan lebih mudah dapat mengalahkan musuh-musuh kita, daripada dengan kekerasan dan kebengisan terhadap diri kita sendiri.
Hendaklah kita seringkali minta nasihat, bila kita sedang di serang godaan-godaan dan janganlah kita bertindak keras terhadap mereka yang sedang mengalami percobaan, tetapi hiburlah mereka itu seperti kita sendir ingin diperlakukan oleh orang lain.

Pangkal segala kejahatan pada godaan itu terletak pada ketidak tentraman batin kita dan pada kurang kepercayaan kita akan Tuhan.
Sebab ibarat sebuah kapal yang tak berkemudi terombang-ambing oleh gelombang kesana-kemari, demikian pulalah orang yang lemah dan kurang tenang, serta tidak sanggup meneruskan maksudnya, terjerat dalam pelbagai godaan. Api menguji besi dan godaan menguji orang yang saleh.
Kita tidak mengetahui kekuatan kita, tetapi percobaan menunjukkan sampai dimanakah kesanggupan kita.
Oleh karena itu kita harus waspada, lebih-lebih pada permulaan godaan. Sebab demikian musuh akan lebih mudah dikalahkan, bila ia sama sekali tidak kita perbolehkan memasuki pintu gerbang jiwa kita, tetapi segera kita usir ketika dia mengetuk pintu.
Seorang pujangga pernah menulis sebagai berikut: “Dari awal adakanlah perlawanan yang pesat, sebab datangnya obat akan terlambat bila karena terlalu lengah penyakit telah menjadi payah” (Ovid. De Remed. II, 91).
Mula-mula di dalam hati kita memang hanya timbul sebuah pikiran biasa saja, kemudian dengan giat muncullah angan-angan kita, selanjutnya rasa lezat, lalu keinginan jahat, dan pada akhirnya persetujuan kita.
Demikianlah lambat-laun musuh yang jahat itu akan menguasai jiwa kita seluruhnya, jika pada permulaan dia tidak segera kita lawan. Dan makin lama orang melalaikan perlawanan, semakin lemahlah keadaan batinnya, sebaliknya semakin kuatlah kedudukan si musuh.
          Sementara orang menderita godaan paling hebat pada waktu permulaan bertobatnya kepada Tuhan, sedangkan orang lain pada akhir hidupnya. Orang lain lagi selama hidupnya seakan-akan selalu mengalami penderitaan digoda dan dicoba.
Tetapi ada juga orang yang hanya mengalami percobaan yang ringan. Itu semua sesuai dengan kebijaksanaan dan keadilan Tuhan. Sebab Tuhanlah yang menimbang-nimbang kekuatan dan jasa masing-masing orang dan mengatur semuanya, untuk kebahagiaan orang-orang yang dipilihNya.
Karena itu tak usalah kita putus asa, bila kita mendapat percobaan; tetapi hendaklah kita lebih giat berdoa kehadirat Tuhan, agar Tuhan sudi membantu kita dalam sebala cobaan. Sebab menurut kata-kata St. Paulus: “Dengan adanya godaan Ia juga akan memberi jalan untuk keluar (1 Kor. 10.13), hingga kita tetap dapat berdiri.
Hendaklah kita merendahkan diri kita di bawah pimpinan Tuhan, bila kita menderita godaan dan percobaan: sebab Tuhan akan menolong mereka yang rendah hati dan memuliakanNya.
 Dalam godaan dan cobaan orang diuji sampai di mana ia telah mencapai kemajuan, karena itu ia mendapat lebih banyak anugerah dan tampak lebih terang kebajikannya.
Bukanlah hal yang luar biasa, bila seorang tinggal saleh dan bernyala-nyala kerajinannya selama ia tidak mengalami kesukaran-kesukaran, tetapi apabila di dalam waktu percobaan ia tetap tinggal sabar, maka sungguh ada harapan baginya, bahwa ia akan mengalami pertumbuhan rohani yang subur.
Sementara orang terhindar dari godaan-godaan yang besar, tetapi seringkali mereka itu mengalami kekalahan dalam perkara yang kecil-kecil dalam hidupnya sehari-hari. Hal ini maksudnya agar dalam menghadapi hal-hal yang kecil itu mereka tetap rendah hati dan dalam mengalami soal yang besar-besar mereka sekali-sekali tidak akan percaya kepada kekuatan diri sendir, sebab dalam yang yang kecil-kecil saja telah terbukti, bahwa mereka mengalami kekalahan.

Itulah yang dikatakan oleh Thomas. Begitu banyak godaan yang saya dapatkan dalam hidup ini. Baik itu yangn kadarnya tendah maupun yang begitu berat. Apalagi ktika saya memilih untuk menempuh jalan dalam hidup membiara. Namun sebagaimana yang dikatakn oleh Thomas begitu pula yang terjadi dengan saya. Godaan-godaan tersebut menjadi pelajaran yang berguna bagi saya dan tentunya njuga bagi orang lain. Ketika pertama kali memilih untuk masuk CICM, saya berpikir untuk sama sekali tidak melamar untuk masuk  dalam jalan tersebut. Hal utama yang mengganggu pikiran saya adalah bagaimanakah jika suatu saat nanti saya dikeluarkan? Sebenarnya hal ini merupakan hal sepeleh bagi orang lain tetapi tidak bagi saya. Baik orang tua mauoun keluarga saya yang lainnya sangat mendukung bahkan memperingatkan saya agar terus berjalan di jalan ini. Hal yang saya takutkan adalah apakah mereka akan tetap menerima saya sebagaimana biasanya apabila suatu saat nanti saya dikeluarkan dari biara?
Namun, seiring perjalanan waktu, oemikiran tentang dikeluarkan dan ditolak oleh keluarga dilupakan karena saya bahagia dengan kehidupan saya yang sekarang dan saya sangat menikmaati dalam hidup membiara. Namun, godaan demi godaan semakin banyak yang datang. Ketika saya mulai aktif dalam kegiatan-kegiatan OMK, sebagaiamana manusia pada umumnya, saya mulai tertarik pada seorang lawan jenis. Bahayanya bahwa ia juga menyatakan hal yang demikian. Hal inilah yang menjadi factor utama yang membuat saya berpikir lebih dalam lagi tentang panggilan hidup saya yang sebenarnya.
Dulu, saya sering mengatakan kepada teman-teman yang tertarik kepada kaum hawa bahwa, ingat kita lebih dahulu mengenal CICM daripada perempuan-perempuan yang baru kita kenal sekarang. Tetapi ketika saya mengalaminya, (tertarik kepada lawan jenis) pikiran saya pun berubah menjadi sebuah pertanyaan besar, mungkinkah Tuhan mengantar saya masuk ke dalam CICM untuk bertemu dengan si dia? Karena bagaimanapun juga saya tidak akan bertemu dengan dia apabila saya tidak menginjakkan kaki di Jakarta bersama dengan CICM. Bersamaan dengan perasaan galau akan pilihan ini, muncullah rasa bersalah dalam diri saya akan CICM. Begitu besar peran CICM dalam pendidikan saya tetapi inikah balasan saya, meninggalkan CICM begitu saja dan berpaling kepada si dia yang baru saya kenal setelah mengenal CICM?
Itulah godaan terbesar dalam menjalankan hidup membiara bagi saya. Jika waktu bisa berputar kembali maka saya akan memilih untuk tidak berkenalan dengan dia. Tetapi muncul lagi pemikiran lainnya. Apakah jiak, saya tidak mengenal kaum hawa lantas matangkah panggilan saya ini, bagaimana jadinya ketika sudah menjadi imam baru saya mengalami jatuh Cinta? Akhirnya kembali kepada nasihat Thomas a Kempis bahwa godaan-godaan tersebut menjadikan saya lebih dewasa. Apabila saya dapat melewati godaan tersebut maka merupakan suatu keajaiban besar dalam hidup saya. Jika memang tidak bisa saya hadapi maka saya hanya berharap agar Tuhan senantiasa menuntun saya untuk hidup yang benar dan menjalankan apa yang menjadi ajaran-Nya.







Sumber Acuan:


Kempis, Thomas a. Mengikuti Jejak Kristus. Jakarta: Obor. 2001.