Kamis, 20 Oktober 2016

PERKEMBANGAN MARGINALITAS KEBUDAYAAN SUKU DAYAK





Buku dengan judul Bayang-banyang intan ini merupakan buku mengenai perkembangan kebudayaan suku dayak. Adanya maslaah konstruksi kebudayaan dan politik dalam masyarakat meratus. Tsing yag berusaha untuk membangun konstruksi kebudayaan menyatakan bahwa ada tiga unsur yang membentuk marginalitas . ketiga unusur itu adalah perbedaan gender , etnisitas, dan politik atau aturan dalam Negara. Permasalahan marginalitas terjadi di sebuah daerah yang dinamakan daerah meratus. Pada awalnya ialah bahwa Tsing ingin melawan marginalitas dengna cara politik marginalitas. Politik marginalitas menjadi suatu metode atau cara dalam menanggapi persoalan marginalitas di dala suku meratus. Masyarakat meratus pada umumnya tinggal di daerah bukit. Bukit mendapat pandangan negative dari kalangan orang di luar masyarakat daerah meratus. Pandangan negative ini sudah menjadi pandangan umum di daerah Kalimantan. Sehingga masyarakat dayak yang tinggal di bukit mendapatkan julukan sebagai orang-orang yang primitive, kolot, bodoh dan tidak beragama.
Masyarakat suku dayak melakukan perubahan yang dinamis dimana kebudayaan telah tercampur pula oleh kebuayaan meratus. Meratus merupakan sebuah daerah diambil dari kata dasarnya yaitu ratus. Arti dari meratus ialaha keanekaragaman budaya yang ada di seikitar peguungan meratus. Orang meratus mendapatkan penghidupan mereka dari hasil hutan. Mereka menolak adanya penebangan liar dan segala maacam yang dibentuk oleh pemerintah sebagai aksi eksplorasi mereka karena masyarakat meratus begitu menghormati alam.
Pemerintah selalu mengganggap bahwa suku dayak tidak mau menerima kebudayaan baru. Mereka tetap berpegang teguh pada apa yang menjadi kebudayaan mereka sejak zaman dulu atau nenek moyang. Hal ini tidak memberikan pengertian bahwa masyarakat suku dayak tidak mau menerima kebudayaan baru. Inilah yang menjadi suatu pertentangan bagi pemerintah bahwa masih ada masyarakatnya yang masih terbelakang. Salah satu yang membuat masyarakat suku dayak memepertahankan kebudayaan ialah karena mereka ingin tetap terus kebudayaannya tidak lenyap oleh kebudayaan baru tersebut.
Hal ini yang menjadi suatu perdebatan antara pemerintah dengan masyarakat suku dayak. Untuk dapat melawan pendapat negative pemerintah terhadap masyarakat suku dayak maka melalui cara politik marginalitas, masyarakat suku dayak melawan tekanan pemerintah terhadap masyarakat suku dayak. Masyarakat meratus melakukan usaha-usaha untuk bergerak dengan kreativitasnya di tengah kesesakan kemajuan zaman serta tekanan pemerintah. Usaha-usaha yang dilakukan yaitu dengan resistensi dan akomodasi.
Resistensi mengartikan bahwa masyarakat meratus tetap menempatkan dirinya dan memberikan identitas pada diri mereka. Masyarakat meratus juga melakukan perlawanan dengan pemerintah bukan dengan tanpa kekerasan atau disebut sebagai akomodasi. Mereka melakukan politik marginalisasi mereka dengan cara melakukan dialog-dialog yang tetap memandang perbedaan yang ada.  Untuk dapat menunjukkan identitas mereka, masyarakat meratus menunjukkannya dengan cara melakukan penyembuhan-penyembuhan
Tsing melihat bahwa permasalahan ini menjadi suatu tantangan yang dihadapi oleh masyarakat meratus. Dalam hal marjinalisasi politik local, orang Meratus menganggap pembentukan masyarakatnya sebagai proyek Negara walaupun lebih banyak mengecewakannya. Label negative yang diterima oleh orang meratus sebagai orang yang primitive dan tidak beragama semakin menyudutkan mereka dan menutup akases mereka untuk bergaul dengan orang luar khususnya orang Banjar.
Orang Banjar adalah masyarakat Kalimantan yang sudah mengikuti perkembangan zaman dan lebih maju daripada masyarakat meratus. Mereka adalah orang-orang yang mendukung program pemerintah. Orang meratus dijadikan sebagai objek asli yang tidak beradab dan mengakibatkan orang meratus semakin terpuruk ke arah marjinal (terpinggirkan). Sulitnya masyarakat meratus dalam menyesuaikan diri mereka serta menerima pendapat dari pemerintah, membuat masyarakat meratus disebut sebagi orang-orang yang tidak tahu adat dan orang-orang yang mengucilkan dirinya dari masyarakat-masyarakat normal. Meratus diambil dari kata dasar ratus. Ratus artinya bukan hanya sebuah bilangan tetapi mengartikan ratusan keanekaragaman budaya yang ada di sekitar pegunungan meratus. Mayarakat meratus adalah masyarakat yang senang dalam mengolah tanah dan hidup mereka nomaden (suka berpindah-pindah tempat. Tsing mencoba untuk memberikan pemahaman terhadap pemerintah. Contoh yang dapat diberikan yaitu piring yang sudah merupakan cara makan yang modern dimana tidak lagi makan di daun pisang ataupun serat dari bahan tumbuhan lain. Ketika itu, Tsing mengatakan bahwa mereka tetap menerima piring tersebut sebagai budaya yang baru dan mereka dapat menggunakannya tetapi hal itu dikembalikan kembali kepada pemerintah bahwa mereka tetap bisa menggunakan atau dapat mengikuti perkembangan zaman tetapi tidak berarti mereka menghilangkan kebudayaan mereka yang asli. Mereka akan tetap mempertahankan kebudayaan mereka sebagai tetap. System yang mereka gunakan yaitu menerima kemudian mengembalikan kembali kepada pemberi dan tetap berpegang teguh pada apa yang miliki dan tidak mengubah.
Orang-orang meratus memiliki pemimpin suku mereka dan ada beberapa syarat yang menjadikan seseorang menjadi seorang pemimpin. Pak beruang adalah seorang dukun yang dikenal memiliki ilmu yang tinggi dan ia menjadi sosok pemimpin suku mereka. Pak beruang sebagai seorang dukun meratus dikenal dukun yang memberikan story telling untuk dapat menguasai kekuasaan Negara. Teknik bercerita itu menggambarkan bahwa dia seolah-olah berada pada saat itu sebagai orang yang berpengalaman. Dia menggambarkan perjalanan yang melampaui manusia biasa dengan menggunakan roh-roh / dewa bagi mereka. Pendengar seakan-akan terhipnotis dan seakan-akan terbawa oleh cerita yang diceritakan itu sendiri.  Dalam teknik bercerita tersebut menuturkan teror kepada kekuasaan pemerintah. Teror tersebut yaitu bahwa pak beruang ada di sana sebagai saksi, pak beruang selamat dari bahaya, pak beruang bercerita adanya potensi yang melampaui lainnya, pak beruang bercerita cerita asli dalam bentuk narasi.
Bercerita seakan-akan nyata itu menajdi suatu perwujudan diri sehingga dia disebut sebagai dukun. Pengalaman spiritual atau mengalami langsung cerita tersebut mencoba untuk meninggikan harkat martabat seseorang dari yang lain. Pak beruang mencertakan bahwa dia seakan-akan ada pada zaman belanada. Dia melihat bahwa perempuan-perempuan orang meratus banyak yang diperkosa oleh orang belanda dan terlihat bahwa di dalam perut mereka penuh dengan sperma.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar