Senin, 09 November 2015

Agama menurut Teori Fungsionalisme Emile Durkheim




       I.            PENDAHULUAN
Pada tanggal 22 maret 2012 mahasiawa STF Driyarkara angkatan 2011/2012 melakukan kunjungan lapangan atas kegiatan religious yang dilakukan oleh Agama Hindu di Monas dalam rangka menyongsong hari raya Nyepi yang akan dilaksanakan pada hari berikutnya. Dalam kunjungan yang dilakukan dengan tema umum yakni Konstruksi Makna dalam Ritual Keagamaan tersebut, membawa kami pada suatu kesimpulan bahwa ritual keagamaan yang dilakukan oleh suatu kelompok agama tidak terlepas dari rasa cinta dan hormat kepada Yang Esa. Karena satu persamaan tersebut mereka rela bersatu untuk merayakan hari keagamaan mereka walaupun mereka berasal dari latar belakang budaya yang berbeda-beda. Berdasarkan hal tersebut maka kami menemukan tema kunjungan yang dijadikan sebagai judul dari makalah ini yaitu: Agama menurut Teori Fungsionalisme Emile Durkheim   
Tujuan dari kegiatan kunjungan lapangan ini yakni: pertama,  menghubungkan teori-teori yang diperoleh dalam sosiologi agama dengan gejala-gejala social yang relevan yang terjadi di lapangan. Kedua, berkaitan dengan pengaplikasian teori-teori yang telah diperoleh dalam kuliah pada gejala-gejala social yang nyata di lapangan. Ketiga, menambah wawasan mahasiswa khususnya berkaitan dengan ritual agama Hindu.
Metode yang kami gunakan dalam kunjungan kali ini yakni metode observasi dan wawancara. Dimana kami mengamat-amati berlangsungnya kegiatan tersebut sambil juga terlibat secara aktif misalnya dengan mengikuti ritual-ritual seperti menyanyikan lagu-lagu berbahasa india dan juga terlibat dalam perarakan ogoh-ogoh.



    II.            Agama Menurut Teori Fungsionalis Emile Durkheim
Sebelum kita masuk ke dalam pembahasan teori fungsionalis, alangkah baiknya jika terlebih dahulu kita mengetahui definisi agama menurut Durkheim, Berger dan Wuthnow.[1] Berikut ini adalah tiga definisi yang diajukan:
a.    Agama adalah suatu bentuk budaya, di dalam arti, agama serupa dengan budaya terdiri dari kepercayaan, nilai, norma dan gagasan yang dialami bersama dan menciptakan identitas bersama di dalam suatu kelompok tertentu.
b.   Agama mencakup kepercayaan-kepercayaan yang mengambil bentuk di dalamberbagai praktek ritual. Terdapat kegiatan-kegiatan khusus yang wajib diikuti oleh para penganut agama tertentu dan yang mengidentifikasikan mereka sebagai anggota dari kelompok keagamaan tertentu.
c.    Agam memberikan makna dan tujuan hidup bagi para penganutnya. Secara sosiologis, inilah elemen terpenting dalam definisi agama. Agama dapat memberikan jawaban yang koheren dan holistic mengenai mengapa hidup manusia beramakna dengan cara-cara yang tidak dapat dilakukan oleh aspek-aspek budaya lain sepertipendidikandan politik (pemikiran Wuthnow dan Geertz).

Berdasarkan ketiga pengertian tentang agama tersebut, maka sekarang kita dapat memberikan pengertian tentang teori fungsionalis dari Durkheim. Agama dipandang sebagai sumber utama solidaritas social. Ritual agama yang dilakukan secara kolektif dapat memperkuat solidaritas(collective effervescene). Itulah yang terjadi pada apa yang kami perhatikan di lapangan ketika terjadi upacara ogoh-ogoh. Tampaknya, seluruh umat yang hadir pada saat itu merupakan satu keluarga walaupun mereka berasal dari daerah yang berbeda-beda. Mereka begitu bersatu hanya karena mempunyai satu keyakinan yang sama.
Teori struktural fungsional dari Durkheim menjelaskan agama sebagai pencipta kohesi social, bagaimana menjelaskan semakin inklusif terhadap agama tersebut, pada saat yang sama semakin eksklusiv terhadapa kelompok-kelompok agama yang lain. Dan hal seperti inilah yang dapat kita perhatikan di Indonesia. Ketika terjadi sebuah perkumpulan yang mengatasnamakan kelompok tertentu maka rasa persaudaraan yang terjalin pun semakin erat dan akan semakin erat lagi jika terjadi kekacauan yang mengatasnamakan kelompok tersebut. Contohnya: orang-orang dari berbagai daerah berkumpul untuk merayakan hari agama A. oleh karena perayaan tersebut membuat mereka menjadi semakin bersatu dan semakin mencintai agama mereka. namun di lain pihak, bisa juga membuat mereka semakin tertutup dengan agama-agama yang lain karena mereka hanya mau menerima apa yang diperoleh dari agama mereka saja.
Secara singkat itulah yang dapat dijelaskan dari teori fungsionalisnya Durkheim. Intinya, agama dipandang sebagai sumber utama solidaritas social. Dengan mengatasnamakan agama orang dapat berkumpul bersama dan bersatu untuk melawan semua kelompok yang berusaha untuk melecehkan Tuhan mereka.

 III.            Deskripsi Hasil Kunjungan Lapangan
Kami berangkat menuju lokasi kira-kira pkl. 14.30. Sesuai dengan permintaan dari panitia pelaksana perayaan ogoh-ogoh, maka kami semua memakai baju berwarna putih disertai dengan selendang yang dililit diseputar leher. Setibanya kami di sana, semua orang berpencar-pencar mencari tempat berlindung karena udara siang itu sangat panas. Anggota kelompok kami yang terdiri dari 6 orang pun ikut berpencar. Parade ogoh-ogoh yang ditunggu-tunggu baru dimulai pada pkl. 16.00, sedangkan kami telah tiba di tempat tujuan satu jam sebelumnya. Sambil menunggu waktu paradenya, kami berjalan untuk mencari informasi-informasi seputar parade tersebut.
Ogoh-ogoh adalah karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala.[2] Dalam ajaran Hindu Dharma, Bhuta Kala merepresentasikan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan. Dalam perwujudan patung yang dimaksud, Bhuta Kala digambarkan sebagai sosok yang besar dan menakutkan; biasanya dalam wujud raksasa. Dalam perkembangannya, ada yang dibuat menyerupai orang-orang terkenal, seperti para pemimpin dunia, artis atau tokoh agama bahkan penjahat. Terkait hal ini, ada pula yang berbau politik atau SARA walaupun sebetulnya hal ini menyimpang dari prinsip dasar Ogoh-ogoh. Contohnya Ogoh-ogoh yang menggambarkan seorang teroris.
Dalam fungsi utamanya, Ogoh-ogoh sebagai representasi Bhuta Kala, dibuat menjelang Hari Nyepi dan diarak beramai-ramai keliling desa pada senja hari, sehari sebelum Hari Nyepi.
Menurut para cendekiawan dan praktisi Hindu Dharma, proses ini melambangkan keinsyafan manusia akan kekuatan alam semesta dan waktu yang maha dashyat. Kekuatan tersebut meliputi kekuatan Bhuana Agung (alam raya) dan Bhuana Alit (diri manusia). Dalam pandangan Tattwa (filsafat), kekuatan ini dapat mengantarkan makhluk hidup, khususnya manusia dan seluruh dunia menuju kebahagiaan atau kehancuran. Semua ini tergantung pada niat luhur manusia, sebagai makhluk Tuhan yang paling mulia dalam menjaga dirinya sendiri dan seisi dunia.
Berdasarkan  wawancara yang kami lakukan dengan beberapa umat Hindu yang hadir pada saat itu, mereka mengungkapkan bahwa sebelum Nyepi Ogoh-Ogoh diusung supaya para makhluk gaib tidak mengganggu kehidupan manusia.
Upacara ini juga dilakukan untuk menghindari bencana alam yakni banjir, petir, dan sebagainya. Di sini, terjadi pergesaran dari kehidupan negatif menuju positif agar berguna bukan hanya bagi alam saja melainkan juga bagi kehidupan manusia. Selain itu, ada juga yang menambahkan bahwa, Ogoh-Ogoh yang diarak itu tidak boleh sembarangan dibuat. Ogoh-ogoh tersebut harus disucikan terlebih dahulu, supaya memiliki kekuatan spiritual. Orang yang membuat Ogoh-Ogoh juga harus mempunyai pengetahuan spiritual, begitu juga dengan yang mengusung ogoh-ogoh harus disucikan terlebih dahulu kalau tidak demikian nantinya ada kejadian yang aneh seperti kerasukan atau yang lainnya, dan setelah itu ogoh-ogoh ini harus dibakar dan tidak boleh disimpan agar hal-hal negative di bumi ini pun ikut terbakar.
Berdasarkan hasil observasi, para pengunjung yang hadir pada saat itu pun ikut bergembira mengikuti parade ogoh-ogoh yang dilaksanakan dalam rangka menyongsong hari raya Nyepi. Bukan hanya umat hindu saja melainkan semua orang pun terkagum-kagum dengan ogoh-ogoh raksasa yang turut dipamerkan pada saat itu. umat Hindu yang pada saat itu hadir pun sangat menikmati parade tersebut. Sekilas kita melihat bahwa begitu indahnya jika Indonesia kita terus-menerus diwarnai dengan suasana persaudaraan bukan hanya karena satu keyakinan melainkan karena kita adalah satu bangsa.

 IV.            Analisis Hasil Kunjungan Lapangan
Pada bagian awal telah dijelaskan sedikit tentang teori fungsionalisme atas agama. Aliran fungsionalisme melihat masyarakat sebagai suatu equilibrium social dari semua institusi yang ada di dalamnya. Sebagai keseluruhan sisitem social masyarakat menciptakan pola-pola kelakuan yang terdiri atas norma-norma yang dianggap sah dan mengikat oleh anggota-anggotanya yang menjadi pengambil bagian dari system itu.[3] keseluruhan dari institusi-institusi yang membentuk system social itu sedemikian rupa, sehingga setiap bagiannya saling bergantungan dengan bagian yang lain sedemikian erat hingga perubahan dalam satu bagian mempengaruhi bagian yang lain dan keadaan system sebagai keseluruhan.
Lebih lanjut lagi teori ini melihat agama sebagai penyebab social yang dominan dalam terbentuknya lapisan social dalam tibih masyarakat, yang masing-masing mempunyai perasaan tersendiri yang sanggup mengumpulkan orang-orangnya dalam suatu wadah persatuan yang amat kompak (jika mereka menganut satu agama yang sama) tetapi perasaan religious dari agama yang berlainan dapat memisahkan kelompok yang satu dengan yang lain secara tajam (konflik yang bermotif keagamaan)
Itulah salah satu kelemahan dari teori ini. Berusaha untuk mengumpulkan orang-orang yang senasib namun di lain pihak seolah-olah kelompok tersebut menjadi sangat eksklusif terhadap kelompok yang lainnya. Parade ogoh-ogoh yang dilakukan di monas pada tanggal 22 maret 2012 yang lalu jelas menunjukkan rasa persatuan diantara umat Hindu sebagai satu saudara yang mempunyai keyakinan yang sama, tetapi kita tidak tahu dan juga tidak bisa menebak apakah persaudaraan yang dibentuk pada saat itu masih bisa tetap terjalin kapan dan dimanapun mereka berada tidak hanya pada saat ada perkumpulan atas nama agama.
Menurut O’Dea, ketika orang-orang mengakui “sesuatu yang lain”, orang-orang yang tidak beragama justru mengatakan “tidak ada yang lain”.[4] Dari pendapat ini, dapat dikatakan bahwa orang yang bersatu dalam kelompok mempunyai satu kesamaan pikiran untuk menentang yang lain dan bagi mereka yang lain itu adalah sesuatu yang sama sekali berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh mereka. ketika mereka memikirkan tentang orang lain yang tidak tergabung dalam kelompok manapun, justru pada saat itulah terbentuk suatu pola piker bahwa yang lain itu tidak baik atau tidak sesuai dengan ajaran mereka, maka muncullah apa yang kita katakana sebagai konflik antar kelompok.
Rasa persatuan memang perlu dibentuk dalam kehidupan kita sehari-hari baik sebagai umat yang beriman maupun sebagai satu bangsa. Dalam persatuan tersebut yang diperlukan adalah keterbukaan untuk menerima segala kekurangan dan kelebihan orang maupun kelompok lain. Agar kita bisa saling mengenal satu sama lain maka dibutuhkan dialog. Dalam berdialog yang dibutuhkan adalah saling mendengarkan dan rendah hati tidak perlu menyombongkan apa yang menjadi kelebihan kita atau menjelekkan kelemahan oran atau kelompok lain.

    V.            Kesimpulan dan Saran
Rukun Negeriku, Damai Hatiku adalah tema malam budaya yang diselenggrakan di STF Driyarkara bulan yang lalu. Dari tema tersebut pasti kita bisa menafsirkan sebagai adanya suatu harapan untuk mencapai kesatuan Negara kita ini. Ketika berada di monas pada saat parade ogoh-ogoh, teman kelompok saya sempat berkata, seandainya tiap hari Negara kita seperti ini, tidak ada kekacauan dimana-mana atau korupsi maka betapa damainya negeri ini bukan? Tapi sayangnya rasa persatuan seperti itu hanya bisa terjalin pada momen-momen tertentu saja di saat kita percaya bahwa ada seseorang yang mempersatukan kita.
Teori fungsionalis agama jelas menunjukkan adanya kesatuan dalam kelompok untuk membentuk suatu persamaan baik dalam pikiran maupun dalam tindakan. Namun di lain pihak, teori ini juga secara tidak langsung menjauhkan kelompok lain dari kelompok kita. Orang akan bersatu apabila suatu kelompok A menghina kelompok B. Dengan demikian terciptalah suatu musuh bersama yang mengatasnamakan kelompok. Teori ini menjelaskan semakin inklusiv suatu kelompok, pada saat yang sama menjadi semakin eksklusiv pula terhadap kelompok-kelompok yang lain.
Saran kami terhadap pelaksanaan kegiatan ini sangat positif. Dengan kegiatan ini, kami tidak hanya belajar apa yang kami pelajari di bangku kuliah melainkan juga terjun langsung ke lapangan guna untuk melihat kesesuaian antara teori dan praktek. Selain itu, kegiatan ini juga menambah wawasan kami terhadap agama lain khususnya agama Hindu dan membuat kami bisa lebih menghargai sesame kami yang berasaal dari agama dan budaya lain. Harapan kami, semoga kegiatan seperti ini dapat terus terjadi pada tahun-tahun berikutnya.

 DAFTAR PUSTAKA


Hendrosucipto, D. Sosiologi Agama. Yogyakarta: Kanisius. 1983.
Scharf, Betty R. Sosiologi Agama, ed II. Rawamangun: Prenada Media. 2004.
Seda, Fransisca. Diktat Sosiologi, Eksklusivitas dan Inklusivitas. 2010.

[1] Fransiska SSE Seda, Diktat Sosiologi Agama, Eksklusivitas dan Inklusivitas, 2010.
[2] Bhagavad gita, sloka 13.17.
[3] D. Hendropuspito, Sosiologi Agama, 1983,Yogyakarta: Kanisius, hlm. 27.
[4] Betty R. Scharf, Sosiologi Agama, ed. II, 2004, Rawamangun: Prenada Media, hlm. 119

KEKERASAN ATAS NAMA AGAMA: (Benarkah Agama Islam Mengilhami Tindak Kekerasan Kaum Muslim?)


        


1.      Pengantar
Dalam sejarah tercatat banyak konflik, kererasan, bahkan perang yang bermotif agama. Agama seakan menjadi kedok dan alasan fundamental yang terus ada dan tak terhapus di balik masalah kekerasan yang tak berujung tersebut. Perang atas nama agama tersebut kadang menyertakan identitas lain seperti etnis, suku bangsa, bahkan negara. Sebut saja beberapa perang yang atas nama agama seperti “perang Salib” yang melibatkan negara-negara Kristen Eropa dan negara Muslim Arab. Perang antara India yang beragama Hindu dengan Pakistan yang beragama Islam. Selain itu pemebrontakan etnis Moro yang beragama Islam kepada Pemerintah Philipina yang mayoritasnya beragama Katolik. Di Indonesia kekerasan atas nama agama telah menjadi bagian dari sejarah kita. Kekerasan atas nama agama di Indonesia yang cukup besar terjadi di Ambon dan Poso. Masalah yang kini sedang menjadi pembicaraan adalah kasus kekerasan atas nama agama di Temanggung dan Cikeusik.
Kita seringkali mengidentifikasi kasus-kasus yang tersebut di atas sebagai konflik agama murni. Namun penilaian kita kurang memberikan kepastian karena kita tidak terlibat dalam kasus kasus tersebut. Kita kurang menggali akar-akar masalah yang dihadapi masyarakat sehingga mengarahakan mereka kepada tindak kekerasan. Oleh karena itu, dalam makalah ini penulis mencoba mengemukakan probelematis agama dan kekerasan dalam perspektif Muslim.

2.      Agama dan Kekerasan
1.      Pengertian Agama dan Kekerasan
Secara umum ada banyak definisi tentang agama. E. B. Tylor mendefinisikan agama sebagai kepercayaan tehadap adanya wujud spiritual. Definisi ini berimplikasi bahwa sasaran sikap keagamaan selalu bersifat personal. Selain itu Betty R. Scharf memberikan pengertian agama dari sudut sosiologi. Pertama ia menitik beratkan agama dalam suatu sistem peribadatan yang menjadi penghubung antara berbagai kesatuan masyarakat. Yang kedua ia membahas tentang peran agama dalam berbagai masyarakat dan sistem keagamaan yang berbeda. Dengan demikian agama dapat dikatakan sebagai kesatuan dan komunal.[1] Kedua hal ini mengarahkan kita pada keikutsertaan kita dalam peribadatan dan pemahaman kita akan kepercayaan. Kita disadarkan bahwa suatu agama memiliki kekhasan tersendiri seperti yang nampak dalam sistem peribadatannya.
Agus Cremers dalam buku Tahap-tahap Perkembangan Kepercayaan Menurut James W. Fowler mendefinisikan religion sebagai suatu kumpulan tradisi dari masa lampau yang terinternalisasi dan diekspresikan dalam suatu lembaga. Dengan demikian agama menurutnya merupakan suatu saran perwujudkan kepercayaan. Agama dapat menyalurkan dan mengarahan seluruh cinta dan keinginan kita untuk berpartisipasi dengan yang Ilahi.[2]

2.      Adakah Agama memungkinan terjadinya kekerasan?
Agama memberikan kemungkinan terjadinya tindakan kekerasan. Pertama, dalam kerangka ideologi agama menjadi pemersatu semua penganutnya. Agama menjadi perekat suatu masyarakat karena memberati kerangka penafsiran dalam pemaknaan relasi antar manusia, yakni sejauh mana tatanan sosial dianggap sebagai representasi religius, seperti yang dikehendaki Tuhan.[3] Sebagai fungsi perekat ini agama dapat menimbulkan kontadiksi ketika berhadapan dengan masalah-masalah sosial yang dialami oleh masyarakat. Hal ini nampak dalam ketidakadilan, kesenjangan, kemiskinan, yang kadang menjadi pemicu lahirnya konflik bahkan tindakan kekerasan.
Kedua, agama sebagai faktor identitas. Dengan demikian secara spesifik agama diidentikan kepemilikannya pada individu atau kelompok manusia tertentu. Kepemilikan ini memberi stabilitas, status, pandangan hidup, cara berpikir, etos, dan sebagainya. Hal ini akan sangat berpengaruh bagi kehidupan masyarakat bila dikaitkan dengan identitas lainya seperti identitas biologis seksual, etnis, kesukuan, dan kebangsaan. Dengan demikian konfilk dan tindak kekerasan dengan mudah menggunakan agama sebagai alat yang melegitimasikan konflik tersebut.[4] Identitas yang ditonjolkan dalam tindak kekerasan akan menciptakan labeling tentang suatu yang negatif dan melekat pada identitas tertentu.
Ketiga, agama sebagai legitimasi etis hubungan antar manusia. Agama pada dasarnya mendukung hubungan antar manusia. Dalam kesatuan itu agama mudah diakomodasi untuk tujuan tertentu yang dinilai sebagai gerakan kesetaraan dan biang dari kekerasan struktural yang dialami oleh dunia ketiga. Dengan demikian agama berpotensi untuk diikutsertakan dalam tindak kekerasan.[5] Agama mengajarkan pola hubungan etis antar manusia yang memungkinkan kesatuan dan persaudaraan antar manusia. Hal ini merupakan suatu yang positif tetapi kesatuan itu masih dilatarbelakangi oleh persamaan seperti, agama, suku, dan etnis. Oleh karena itu, kesatuan itu akan menjadi kekuatan yang besar dan menakutkan jika berhadapan dengan perbedaan yang sulit mereka terima. Di sinilah agama dapat melegitimasi suatu tindak kekerasan.
Kaum ateis menuduh agama mengilhami tindakan kekerasan dengan mengacuh pada kitab-kitab sucinya. mereka mengemukakan bahwa agama menilmbulkan perpecahan di anatara manusia. hal ini diajukan dengan mengutip Injil Matius 10:34-36: “Aku datang untuk memisahkan orang”. Selain itu, agama juga meberikan label untuk memisahkan satu kelompok dari kelompok lain. Perang terjadi kerena label yang berbeda dan mengikuti agama yang diridohi Allah untuk melawan agama yang dimurkai Allah. Dengan demikian jelaslah bahwa agama penyebab tersirat dari tindakan kekerasan dan perang.[6]

1.      Akar-akar tindakan kekerasan atas nama agama
Akar kekerasan agama dapat dibagi menjadi dua hal utama yakni; bagaimana peran agama dan bagaimana keterkaitan pemeluknya terhadap agamanya masing-masing. Mengenai peran agama ada dua konsep yang dimiliki oleh setiap agama yang mempengaruhi penganutnya dalam hubungan dengan penganut agama yang lain yakni, fanatisme dan toleransi. Kedua hal ini harus dipraktekan secara seimbang. Ketidaksembangan akan melahirkan problem dalam umat beragama.
Toleransi yang berlebihan dari umat beragama tertentu dapat menjebak suatu agama dalam pengaburan makna ajaran agama dan eksistensi agama akan melamah. Situasi ini kadang menyebabkan tidak setia dengan ajaran agamanya. Agama hanya menjadi ritual belaka sehingga derajat dan kebenaran agama yang satu disamakan dengan agama yang lainya. Selanjutnya, fanatisme akan melahirkan permusuhan dengan penganut agama lain dan kekerasan atas nama agama. Fanatisme yang berlebihan akan melahirkan truth claim yang eksklusif. Eksklusivisme dapar mengarahkan orang pada radikalisme dan fundamentalisme dalam beragama.[7]
Selain itu ada faktor situasional juga menjadi pendorong aktor agama melakukan tindakan kekerasan. Di sini disebutkan dua hal yakni, orientasi keagamaan yang dianut oleh kelompok mayoritas dan perlakuan yang tidak adil dari pemegang hegemoni. Aktor agama hidup di tengah-tengah sistem sosial dengan tradisi yang berlaku sejak zaman nenek moyangnya. Perlahan tetapi pasti ia menyerap nilai-nilai dan doktrin-doktrin yang diterima secara umum. Hal itu terinternalisasi setelah terlibat dengan agen-agen ssoisalisasi seperti sekolah, madrasah, gereja, media, komunitas, dan tokoh-tokohnya.
Kekerasan atas nama agama juga dapat terjadi dalam hubungan atara agama yang ditandai oleh ambiguitas. Sifat mendua yang sangat nyata inilah yang melahirkan potensi ganda dalam agama. Agama di suatu sisi menjadi sumber kedamaian tetapi di sisi lain agama juga dapat menjadi sumber konflik dan kekerasan. Ambiguitas tersebut dapat terjadi karena tidak adanya orientasi. Dengan demikian setiap agama harus memiliki orientasi yang jelas sehingga para pengikutnya tahu dengan pasti arah kehidupan imanya.
Ada tiga orientasi dalam meyelesaikan suatu konflik. Pertama, ekslusivis adalah aktor agama yang membangun tembok dan menciptakan sebuah “enclave” daerah terlindung yang steril. Ia hanya percaya pada satu-satunya kebenaran, satu jalan untuk memahamu realitas, dan satu cara dalasm menafsirkan teks-teks suci, ia percaya bahwa hanya kelompoknya yang selamat. Kelompok yang lain dimjamin “masuk neraka”. Kedua, inklusivis yang mengakui keragaman tradisi, komunitas, dan kebenaran. Semua adalah jalan menuju kebenaran. Ketiga, pluralis yang berpandangan bahwa kebenran bukan milik satu tradisi atau komunitan keagamaan. Perbedaan bukanlah penghalang tetapi peluang dalam berdialog.[8]

2.      Benarkah Agama Islam Mengilhami Tindak Kekerasan Kaum Muslim?
1.      Siapakah Kaum Muslim?
Islam berarti komitmen yang kuat kepada Tuhan. Islam dikatakan berasal dari akar kata Arab yang sama untuk kedamaian yakni salâm. Sebagian ulama mendefinisikan Islam sebagai memperoleh kedamaian melalui penyerahan diri kepada kehendak Allah. Orang yang memenuhi criteria ini dapat disebut sebagai seorang “Muslim”. Sehingga menurut orang Muslim yang menjadi Muslim Pertama adalah Nabi Adam. Umat Islam percaya bahwa Islam merupakan kelanjutan dari tradisi keimanan Nabi Ibrahim, dan bukan sebagai agama baru. Umat Islam menghormati Nabi Muhammad dan Al-Quran, utusan Tuhan dan pesan Tuhan, sebagai wahyu terakhir yang sempurna dan lengkap. [9]
2.      Kekerasan dalam Tradisi Islam
Dalam Tradisi agama-agama fenomena kekerasan memiliki legitimasi tersendiri bagi keberlangsungan doktrin dan ajaran agama tertentu. Dalam tradisi Islam terdapat bebebrapa konsep kekerasan yang terangkum dalam doktrin.
Jihad: Berjuang untuk Tuhan
Jihad dalam Al-Quran berarti “ berjuang atau bekerja keras” dan menyediakan diri untuk menjalankan kehendak Allah, untuk menjalani kehidupan yang baik. Kadangkala jihad dianggap sebagai rukun keenam Islam tetapi tidak memiliki status yang resmi. Di bagian mana pun dalam Al-Quran,jihad tidak dihubungkan atau disamakan dengan frasa “perang suci”. Namun, dalam sejarah, penguasa Islam dengan dudkungan dari cendikiawan dan ulama, menggunakan kata jihad untuk menegaskan peperangan demi memperluas kerajaan. Kelompok-kelompok ektremis awal menisbahkan kepada Islam untuk mengesahkan pemberontakan, pembunuhan, dan usaha untuk menggulingkan penguasa Muslim.[10]
Jihad pada umumnya dimengerti sebagai perang fisik. Jihad juga bisa berarti perang psikis terhadap segala bentuk nafsu politik, keserakahan, hegemoni, superioritas, egoisme dan lain-lain. Banyak kalangan termasuk para ahli salah memahami jihad identik dengan kekerasan dan terorisme. Al-Banna membagi kategori jihad pada dua tataran. Pertama, jihad yang bernuansa revolusioner sebagai metode yang absah untuk mencapai cita-cita Islam. Kedua, jihad apologetik yang bertujuan untuk membuktikan bahwa Islam bukanlah agama kekerasan dan perang. Al-Bana juuga mengkritik pandangan yang menilai jihad sebagai perjuangan spiritual, yakni perjuangan melawan hawa nafsu lebih utama dibandingkan dengan perjuangan melawan musuh-musuh Islam. Menurutnya jihad yang demikian itu tidak sesuai dengan hadits Nabi dan memperlemah semanagt perjuangan. Ada yang berpendapat bahwa ada jihad yang bernuansa plitik.[11]
Sekarang ini terjadi pergeseran makna kata jihad. Gerakan fundamental kontemporer yang memperjuangkan cita-cita yang sama, melalui garis kultural maupun struktural, dengan cara damai maupun kekerasan menemukan rujukan historisnya, kendati dengan intensita yang berbeda. Pemahaman tentang jihad dalam konteks sejarah perang melahirkan bebbagai konflik. Sebagai contoh konflik Muslim-Hindu di India dan Pakistan, Palestina dan Israel. Oleh keran itu, ekspresi keberagamaan ini hampir disamakan dengan terorisme.

3.      Kesimpulan
Kekerasan atas nama agama, kendati memiliki legitimasi teologis, sesungguhnya juga dipahami sebagai fenomena yang memiliki hubungan dengan entitas lain misalnya, ekonomi, politik, dan sebagainya. Namun, karena ekspresi kekerasan sering dibungkus dengan agama, maka kemudian kekerasan lebih kental nuansa dan motif agamanya dibandingkan dengan motif lainnya. pada dasarnya agama hanya diperalat untuk mencapai tujuan tertentu. Faktor situasional seperti dominasi golongan mayoritas, orientasi agama yang belum pasti, serta perlakuan yang tidak adil membangkitkan kecenderungan untuk melakuakan tindakan kekerasan. Kita dituntut untuk tidak terjebak dalam keadaan seperti itu.
Menentukan apakah agama menyebabkan kekerasan bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Sering terjadi bahwa motif-motif keagamaan berada di balik atau dimanfaatkan oleh institusi-institusi sekular. Banyak rintangan yang akan dihadapi baik dari pikak pro dan kontra agama mengilmami umatnya dalam dindakan kekerasan. Masalah idelogis dan identitas yang mengadirkan sosok agama tidak bisa diselesaikan tampa melibatkan pihak-pihak yang berselisih.





Daftar acuan
Buku:
Cremers, Agus Tahap-Tahap Perkebangan Kepercayaan menurut James W. Fowler, Yogyakarta: Kanisius. 1995
L., Esposito John dan Dalia Mogahed, Saatnya Muslim Bicara Bandung: Mizan. 2008
R., Schaarf Betty. Sosiologo Agama ed.II. Jakarta: Kencana. 2004

Majalah:
Rakhmat, Jalaluddin Benarkah Agaman Menyebabkan Tindakan Kekerasan? dalam Maarif ol.6. No. 1—April 2011
Sumbulah, Umi. Agama dan Kekerasa: Menelisik Akar Kekerasan dalam Studia Philosophica et Theologia, Vol. 5. No. 1 Maret 2005
Suratno, Agama, Kekerasan, dan Filsafat: Aakar Kekerasan Teologis dalam Prespektif Filosofisdalam Jurnal Universitas Paramadina Vol. 1, April 2007





[1] Betty R. Schaarf Sosiologo Agama ed.II Jakarta: Kencana. 2004, hlm. 33-48
[2] Agus Cremers, Tahap-Tahap Perkebangan Kepercayaan menurut James W. Fowler, Yogyakarta: Kanisius. 1995, hlm. 47
[3] Suratno, Agama, Kekerasan, dan Filsafat: Aakar Kekerasan Teologis dalam Prespektif Filosofisdalam Jurnal Universitas Paramadina Vol. 1, April 2007 hlm. 88
[4] Ibid.Suratno, hlm. 88
[5] Ibid.Suratno, hlm. 88
[6] Jalaluddin Rakhmat, Benarkah Agaman Menyebabkan Tindakan Kekerasan? dalam Maarif ol.6. No. 1—April 2011, hlm.167
[7] Ibid.Suratno, hlm. 89
[8] Op. Cit. Jalaluddin Rakhmat, hlm.172-173
[9] John L. Esposito dan Dalia Mogahed, 2008, Saatnya Muslim Bicara Bandung: MIzan, hlm. 28-31
[10] Ibid. John L. Esposito dan Dalia Mogahed , hlm. 39
[11] Umi Sumbulah, Agama dan Kekerasa: Menelisik Akar Kekerasan dalam Studia Philosophica et Theologia, Vol. 5. No. 1 Maret 2005



GEREJA Apa itu Gereja ?




Mungkin kita berpikir bahwa arti Gereja  hanya sebatas sebuah bangunan tempat kita melaksanakan ibadah atau perayaan ekaristi dan kegiatan liturgi lainnya yang berkaitan dengan iman.  Sebenarnya Gereja memiliki arti  yang cukup beragam.
Di antaranya yaitu :
·         Gereja adalah persekutuan atau perkumpulan atau persatuan semua orang di seluruh dunia yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Putra Allah dan satu-satunya penyelamat kita.( Mat 18:20)”bila dua orang  atau lebih berkumpul atas namaku, aku hadir di tengah-tengah mereka.”
·         Adalah yang telah menerima Kabar gembira bahwa :
Kerajaan Allah telah hadir di dunia dan merajai dunia
kita diikutsertakan dalam keselamatan bersama Kristus yang telah bangkit.
Dalam perjalan mengarungi hidup di dunia ini, gereja dituntun, dan dibimbing oleh Roh Kudus menuju kepada Bapa Maha Pengasih Raja Surgawi. Tuhan Yesus telah memulai Gereja-Nya dengan mewartakan  kabar gembira yaitu tentang kedatangan Kerajaan Allah. Tindakan-tindakan pribadi Yesus Kristus dan pewartaanya tentang kerajaan Allah, seperti yang diwartakan kepada kita melalui INJIL, membuat atau menjadikan Gereja tetap berdiri.
            Kabar gembira yang telah diterima ini harus diwartakan kepada semua orang. Gereja berasal dari Yesus Kristus. Tuhan Yesus telah memulai Gereja-Nya dengan mewartakan KABAR GEMBIRA, yaitu tentang kedatangan KERAJAAN ALLAH. Benih telah ditaburkan di ladang dan kita yang mendengarkan dengan iman telah menerima KERAJAAN ALLAH. Dan benih itu mekar dan berkembang. Tindakan – tindakan pribadi Yesus Kristus dan sabda pewartaan-Nya tentang Kerajaan Allah, seperti yang diwartakan melalui Injil membuat /menjadikan Gereja berdiri.


sPerumpamaan-perumpamaan yang memberikan gambaran akan Gereja:
·         Gereja diumpamakan kandang domba dan Yesus adalah pintu satu-satunya (bdk. Yoh 10:1-10)
·         Gereja bagaikan kawanan domba dan Yesus Kristus adalah gembala utama (bdk. Yoh 10:11-15)
·         Gereja seumpama bangunan Allah (bdk. 1 Kor 3:9). Kristus adalah batu yang dibuang oleh tukang bangunan tetapi menjadi batu penjuru (bdk. Mat.21:42) dan di atas dasar itu dibangunnyalah Gereja oleh Para Rasul (bdk. 1 Kor 3: 11).
Pribadi dan tindakan-tindakan Yesus selama hidup-Nya telah memberikan dasar bagi berdirinya Gereja:
·         Yesus memanggil dua belas rasul (bdk. Mat 10:1-4)
·         Dari antara kedua belas  rasul, Yesus mengangkat Petrus sebagai pemimpinnya. Kepada Petrus, Yesus memberikan perintah-Nya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku” (lih. Yoh 21:15-18)
·         Yesus mengutus kesebelas rasul (bdk. Mat 28:19-20)
·         Para rasul menerima tugas yang diberikan oleh Yesus sebagai “Anugerah Allah untuk menjadi pelayan Kristus.” Untuk melayani mereka, para rasul mengangkat orang-orang untuk menjadi pembantu dalam mewartakan kabar gembira (bdk. Kis 6)
Gereja disebut Tubuh Kristus
(Kata tubuh dimengerti sebagai lambang atau simbol)
Gereja  disebut tubuh Kristus, karena semua orang yang menjadi anggotanya bersatu di dalam Kristus (bdk. 12:4-5). Kristus menjadi kepala yang menghidupi dan menjadi sumber kehidupan bagi tubuh (Kol1:18). Kristus adalah kepala yang menghidupi atau menjadi sumber kehidupan bagi tubuh (Gereja-nya).
Gereja adalah Umat Allah
Menegaskan bahwa Gereja tidak mungkin tanpa umat manusia (bdk. Kis.10:35). Allah sendiri rela menguduskan dan menyelamatkan manusia, bukan orang demi orang , tetapi Allah menghimpun mereka yang mengakui Dia dalam kebenaran dan mengabdi kepada-Nya dengan suci, menjadi umat-Nya. Yesus Kristus mengumpulkan dan memanggil semua manusia yang bertumbuh menjadi satu dalam Roh Kudus dan menjadi Umat Allah yang baru.
Gereja sebagai Umat Allah Memperlihatkan :
Aspek komunal ( persatuan, persaudaraan )
·         Dibentuk dan dipersatukan dalam perjanjian
·         Dipersatukan oleh pembabtisan
·         Kesamaan martabat para anggotanya karena satu dalam Kristus

Aspek inisiatif  dari Allah
Ikatan antara Allah dengan umat-Nya dan kehendak bebas dan penuh kasih dari Allah. Pemilihan, keselamatan, perjanjian, semuanya itu semata-mata anugerah bukan karena prestasi manusia.
Aspek kesinambungan karya keselamatan
Umat Israel dan Gereja adalah umat Allah yang berkesinambungan. Allah selalu setia dan umat Israel selalu tidak setia. Setelah perjanjian lama gagal Allah memberikan perjanjian Baru dengan anugerah-anugerah baru. Gereja menjadi kepenuhan dari janji keselamatan.
Aspek Misioner
Gereja selalu dan terus menerus mewartakan Kabar Gembira, guna menghimpun semua orang kepada Kristus.
Aspek Eskatologis
Gereja adalah umat Allah yang berziarah. Dalam persatuan dengan Kristus dan dibimbing oleh Roh Kudus berziarah menuju kerajaan Bapa.Keselamatan sudah terjadi dalam Gerej-Nya tetapi belum sempurna.
Ciri-Ciri dan Sifat-Sifat Gereja
Ciri- ciri Gereja yaitu  universal dan sekaligus lokal
Universal
Persatuan seluruh umat beriman di seluruh penjuru dunia. Paus adalah pemimpin yang kelihatan dari gereja Universal
Lokal
Gereja lokal adalah persekutuan umat beriman dalam suatu daerah tertentu yang dipimpin oleh seorang uskup.Kumpulan dari umat dari beberapa paroki dibawah pimpinan seorang uskup.


Sifat- sifat Gereja
Satu
(Lih. Yoh 17:20 -21)
-Gereja mengarah ke satu kerajaan Allah
-Gereja seluruh semesta adalah satu
-Hubungan antarpara anggotanya satu iman, satu harapan, satu kasih.
-Kesatuan pengakuan ( satu Allah, satu pengantara Yesus Kristus, satu Roh Kudus)
-Kesatuan Gereja berdasar : injil, gereja para Rasul
-Pemersatu yang kelihatan adalah paus , sebagai wakil Kristus di dunia
-Satu kesatuan iman ( iman kepada Allah Bapa, Kepada Putra , kepada Roh Kudus).
-Satu ikatan persatuan ( pengakuan iman, sakramen-sakramen, ibadat-liturgi, kepemimpinan Gereja)
-Satu semangat dasar yaitu cinta akan Yesus Kristus
-Kesatuan dalam Kristus Dalam perayaan Ekaristi.
Kudus
Di satu pihak Gereja yang hidup di tengah dunia yang dikuasai dosa ini memiliki dosa. Di lain pihak meskipun hidup di tengah dunia yang dikuasai oleh dosa Gereja diimani sebagai Gereja yang kudus.
-Gereja itu kudus..
-Dipilih di tengah dunia dan menjadi milik Allah
-Allah yang kudus itu setia tanpa syarat kepada Gereja
-Kehadiran penuh kuasa dari Roh kudus
-Datang dari Allah dan dikuduskan bagi Allah. Yesus Kristus selalu dan tetap hadir dalam Gereja.
-Kepada Gereja telah diberikan dan dipercayakan karya keselamatan untuk diteruskan kepada semua orang.
-Kekudusan gereja merupakan ambil bagian dalam kekudusan Kristus karena imannya
(1 Petrus1;1)
- Kekudusan bukanlah hasil prestasi manusia . Kekudusan adalah buah Roh Kudus dan Anugerah-Nya.
-Meskipun kekudusan itu sama bagi semua orang, tetapi terdapat berbagai cara dan bentuk yang berbeda untuk mencapai kekudusan itu.
Katolik
Kata “Katolik” = apa yang sesuai untuk keseluruhan
                           = umum
Gereja Katolik
Dipersatukan dalam kesatuan dengan Allah Bapa, Putera, Roh Kudus demi keselamatan manusia, mencakup umat manusia dari segala bangsa, kebudayaan, bahasa, dan sebagainya.
Gereja Katolik tersebar di mana-mana, di seluruh dunia. Gereja mengajarkan seluruh kekayaan iman yang benar dan sejati kepada umat manusia.
Apostolik        
Bertumpu pada iman dan ajaran para rasul. Iman para rasul hidup dan berubah di dalam gereja dan senantiasa diteruskan.
Secara fundamental Gereja kita ini sama dengan Gereja para rasul , dengan demikian juga merupakan Gereja Kristus.


Pengalaman Hidup Menggereja




Berbicara mengenai pengalaman, berarti saya harus melihat kembali kehidupan saya selama ini, terutama yang berhubungan dengan hidup mennggereja. Sejak menganut agama Katolik kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, saya tidak lantas menjadi orang katolik yang baik, apalagi aktif dalam kegiatan di Gereja. Tiga tahun pertama, saya jarang pergi ke gereja dikarenakan jarak yang terlalu jauh dan tidak adanya alat transportasi. Jadi untuk pergi beribadah saja jarang apalagi ambil bagian dalam kegiatan di Gereja seperti halnya menjadi putra altar atau kegiatan lainnya. Paling kurang saya cukup aktif mengikuti doa lingkungan, atas dasar karena saya jarang pergi ke Gereja jadi saya menggantinya dengan aktif di lingkungan. Dari sekian banyak umat lingkungan yang hadir dalam acara doa tersebut, saya adalah umat yang paling muda usianya.
Ketika saya tinggal di asrama katolik di Kotabumi, saya cukup terlibat dalam kegiatan di gereja seperti putra altar dan juga kunjungan ke stasi-stasi bersama bruder ataupun juga pater. Mereka memperbolehkan saya menjadi putra altar walaupun saya belum resmi menjadi katolik. Asrama Katolik tempat dimana saya tinggal berada di wilayah Paroki Kabar Gembira, Kotabumi, lampung Utara. Paroki yang tidak terlalu besar, tetapi memiliki banyak stasi di tempat-tempat yang terpencil. Hampir setiap minggu saya diajak untuk mengunjungi stasi-stasi tersebut. Saya sangat menikmati kunjungan-kunjungan tersebut, walaupaun saat itu saya bukan seorang katolik. Dengan jumlah Imam yang hanya berjumlah 3 orang ditambah 2 orang Bruder, mereka harus melayani stasi-stasi yang cukup banyak dengan jarak yang sangat berjauhan. Dalam satu hari kunjungan, seorang Imam atau Bruder bisa mengunjungi tiga sampai empat stasi.
Selama ini saya tinggal secara berpindah-pindah tempat tinggal, dan jarang sekali menetap. Dulu saya tinggal di paroki St. Bernadeth Ciledug, tetapi sekarang saya masuk di wilayah paroki St. Martinus, Bandung. Tidak banyak yang pengalaman yang bisa saya ceritakan tentang hidup menggereja. Dulu saya beranggapan bahwa kehidupan di sekitar gereja terlalu eksklusif. Hanya itu-itu saja. Seperti OMK, Putra Altar, dan lain-lain. Sementara saya lebih suka dan menikmati bergaul dengan berbagai kalangan tidak melulu di kalangan orang-orang katolik.
Di Paroki St.Martinus Bandung, tempat dimana keluarga saya sekarang tinggal, adalah paroki di wilayah Bandung pinggiran. Umatnya didominasi orang-orang china dan juga jawa. Karena jarak antara rumah dan gereja tidak terlalu jauh, membuat saya lebih sering terlibat dalam kegiatan di gereja. Selama ini saya lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Setelah menjadi orang Katolik mungkin hanya terhitung tiga tahun saja saya tinggal bersama keluarga, setelah itu masuk seminari menengah dan seminari tinggi.
Selama berada di seminari tinggi, saya belum pernah mendapat tugas atau tanggung jawab di paroki, tetapi lebih pada kehidupan sosial seperti mengajar dan juga di komunitas-komunitas anak jalanan maupun pemulung. Saya memiliki harapan bahwa hidup menggereja ada baiknya tidak melulu pada hal-hal sakramen, tetapi selain juga menjaga dan memelihara hubungan yang kuat sebagai keluarga besar di dalam Kristus, hubungan itu juga harus menjadi hubungan yang universal dan tidak terbatas pada segi agama, budaya, dan juga tingkat sosial di masyarakat.



Payphone (Cover) by 'WE'